Sejarah Singkat Pergerakan Mahasiswa

(Jakarta, 21/7/2018) 19 Mei yang lalu, dalam rangka memperingati “20 Tahun Reformasi” saya menghadiri undangan diskusi umum yang diadakan oleh Badan Otonom Pers “Suara Mahasiswa UI” di aula terapung Kampus UI Depok. Tema diskusinya “Menilik Kembali Peran Pergerakan Mahasiswa di Era Reformasi dan Saat Ini.”

Diskusi ini membuat saya tertarik untuk datang dikarenakan terdapat banyak pembicara penting yang merupakan aktor dari peristiwa reformasi ’98. Pertama, Fitra Arsil yang merupakan Sekjen Senat Mahasiswa UI 97-98. Kedua ialah Heru Cokro Ketua DPM UI 97-98 yang juga merupakan Jenderal Lapangan (saya rasa bisa dibilang “Koordinator Lapangan”) di peristiwa gedung DPR/MPR. Ketiga ialah Elfansuri Ketua Senat FISIP (Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik) UI 97-98. Terakhir ialah Dr. Phil. Panji Anugrah Pramata seorang dosen politik FISIP UI, yang mengaku sebagai adik tingkat dari ketiga pembicara di atas di penghujung runtuhnya era orde baru. Saya sedikit meyayangkan, tidak ada orang seperti Fadli Zon dan Fahri Hamzah, anggota DPR Indonesia yang mengaku sebagai aktivis 98 dan kebetulan keduanya pun merupakan alumni UI.

Pembicara tidak hanya selesai di orang-orang yang saya sebutkan di atas saja. Terdapat pula pembicara yang mengaku sebagai aktivis mahasiswa zaman now (saya tulis mengaku, karena saya yakin para pembaca sekalian akan berbeda pendapat mengenai apakah mereka ini aktivis juga apa bukan): Zaadit Taqwa Ketua BEM UI 2018 yang sempat menjadi perbincangan hangat di kalangan warganet ketika ia “memberi” kartu kuning ke Presiden Joko Widodo sembari meniupkan peluit saat Jokowi sedang menghadiri acara di UI. Obed Kresna Presiden Mahasiswa UGM yang ketularan popular ketika ia diundang untuk bersanding dengan Zaadit Taqwa di acara Mata Najwa beberapa bulan lalu. Riyan Israyudin Presiden Mahasiswa Trisakti 2018 yang sama seperti Obed, ketularan popular Zaadit, sayangnya Riyan di hari itu berhalangan untuk hadir.

Jadi, dengan melihat dari tema diskusi serta pembicara yang diundang, saya dan mungkin para pembaca sekalian sudah paham latar belakang diadakannya diskusi ini: Mahasiswa (saat ini) punya kerinduan terhadap era-era romantis seniornya dulu di zaman 98, dan tentunya juga iri karena bisa memenuhi tuntutan doktrin “Mahasiswa adalah ironstock” dan sejenisnya itu. Memang, kenapa sih mahasiswa mesti iri dan sepertinya harus banget untuk jadi “idealis” dan menjadi “penggerak masyarakat”? Sampai-sampai senior dan kawan-kawannya sudah mendoktrin hal tadi semenjak masa ospek gitu? Kenapa nggak idealis dari zaman SMA aja? Kan, hanya berbeda beberapa tahun gitu. Atau abis mahasiswa masa nggak idealis lagi, seperti aktivis-aktivis yang sekarang lagi menjabat di pemerintahan?

 

Sang Pemula

Boedi Oetomo, organisasi yang berdiri pada tanggal 20 Mei 1908 sering disebut sebagai “Organisasi Pemuda” pertama di Indonesia (Nusantara/Hindia Belanda). Didirikan oleh Dr. Soetomo bersama para Mahasiswa STOVIA (Sekolah Pendidikan Dokter Belanda yang berlokasi di Batavia). Di era awal ini, belum ada kata “Mahasiswa” bisa dibilang masih menggunakan “Pemuda sebagai alat penggerak.” Memang anggota Boedi Oetomo sendiri seiring waktu juga diisi oleh kalangan Priyayi yang memang merupakan golongan terpelajar juga di Hindia Belanda.

Ada banyak Organisasi Kepemudaan lainnya yang berdiri di era pra-kemerdekaan: Perhimpunan Indonesia, Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia, dan kelompok studi lainnya punya kemiripan dengan Boedi Oetomo. Terdiri atas pribumi terpelajar, yang miris dengan kondisi di zaman itu. Pergerakan kelompok ini umumnya bersifat politik, banyak juga yang menulis, diskusi, dst. Hingga di era penjajahan Jepang yang lebih represif dalam bidang pendidikan, organisasi kemahasiswaan yang berbau politik dilarang. Mahasiswa akhirnya hanya sekedar nongkrong-nongkrong sembari berdiskusi saja namun tentu masih berpolitik walau hanya sekadar underground. Ingat peristiwa Rengasdengklok? Sukarni dan Chaerul Saleh aktif di Partai Murba, sedangkan Wikana dan D.N Aidit aktif di Partai Komunis Indonesia.

Maka dari itu, ketika Indonesia merdeka, kelompok-kelompok mahasiswa dan pelajar, akhirnya berubah menjadi partai politik. Katakanlah, Kelompok Studi Indonesia yang menjadi Partai Bangsa Indonesia (PBI), dan Kelompok Studi Umum yang menjadi Perserikatan Nasional Indonesia (PNI). Kala memasuki masa Demokrasi Liberal (1950-1959) , partai-partai politik mulai membentuk atau menaungi organisasi mahasiswa ekstra kampus, di antaranya organisasi-organisasi tersebut masih berdiri hingga sekarang:

  1. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang berafiliasi dengan Partai Masyumi,
  2. Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) yang berafiliasi dengan PKI,
  3. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang berafiliasi dengan Partai NU,
  4. Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang berafiliasi dengan PNI,
  5. Gerakan Mahasiswa Sosialis Indonesia (GEMSOS) yang berafiliasi dengan PSI. Dan, masih banyak organisasi ekstra kampus lainnya.

Jika pembaca membayangkan organisasi ekstra kampus zaman dulu mirip-mirip dengan zaman now, maka anda ada benarnya. Hersri Tanja dalam bukunya yang berjudul “Himpunan Mahasiswa Islam: Sejarah dan Kedudukannya di tengah gerakan-gerakan muslim pembaharu di Indonesia” pada tahun 50-an, organisasi ekstra kampus seringkali berantem satu sama lain, khususnya CGMI dengan HMI yang sangat beroposisi dan saling bermusuhan sejak lama. Ideologi dalam organisasi kemahasiswaan di era 50-an masih begitu kental, tidak seperti era ini atau bahkan di era orde baru dimana setiap organisasi diwajibkan menggunakan “Pancasila” sebagai ideologinya.

Terdapat beberapa peristiwa yang membuat panas CGMI dan HMI. Misalnya, seperti yang dituliskan oleh Anton Lucas dalam bukunya berjudul “What Makes an Activist? Three Indonesian Life Histories,” dalam konferensi Nasional CGMI pada tahun 1965, DN. Aidit berpidato dengan mengatakan “Bubarkan HMI! Bubarkan HMI! Kalau CGMI tidak bisa membubarkan HMI, lebih baik kalian pakai kain seperti perempuan”. Sebelumnya memang CGMI telah berulangkali meminta Soekarno untuk membubarkan HMI karena pernah berafiliasi dengan Partai Masyumi yang telah dibubarkan Soekarno pada tahun 1960 karena diduga terlibat dalam pemberontakan PRRI.

Keadaan berbalik ketika peristiwa yang dikenal Gerakan 30 September terjadi.

 

Angkatan ’66: Sebuah Perubahan

                Soe Hok Gie banyak dikenal orang bukan hanya karena ia penggagas organisasi Pecinta Alam, namun juga tokoh dalam gerakan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia yang ia pimpin bersama saudaranya Arief Budiman.

John R. Maxwell dalam tesisnya berjudul “Soe Hok Gie: A Biography of a Young Indonesian Intellectual”, Gie dalam masa-masa awal kuliahnya mengalami dilema dengan eksistensi manusia serta mulai memandang Soekarno sebagai seorang yang diktator. Dari situ, mulai tumbuh pemikiran “Idealisme” dalam pemikiran Gie. Pemikiran yang sama dengan idealisme mahasiswa yang saat ini selalu dikukuhkan dalam setiap acara ospek dan diskusi mahasiswa, mahasiswa sebagai: agent of change, iron stock, social control.

Pada tanggal 27 oktober 1965, sebuah kelompok mahasiswa anti-komunis terbentuk menamakan diri mereka sebagai “Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia.” Anggotanya umumnya ialah organisasi-organisasi yang berlawanan dengan CGMI dan ideologi komunis, khususnya HMI yang menjadi pucuk utama KAMI. Bersama dengan berbagai organisasi lainnya dan TNI, pada tanggal 12 januari 1966 mereka melaksanakan aksi massa yang digalang oleh Soe Hok Gie beserta Arif Budiman dengan TRITURA (Tri Tuntutan Rakyat) mereka yang berisi:

  1. Pembubaran PKI beserta ormas-ormasnya.
  2. Perombakan kabinet Dwikora.
  3. Turunkan Harga Pangan.

Nahas memang, CGMI yang awalnya selalu menuntut HMI dibubarkan, akhirnya justru dibalas dan tentu saja berhasil. CGMI dibubarkan dan banyak dari anggotanya dipenjara tanpa sidang.

Setahun kemudian, Soeharto naik menggantikan Soekarno sebagai Presiden Indonesia. Banyak aktivis-aktivis ’66 yang kemudian dapat jabatan di rezim orde baru. Soe Hok Gie sendiri, justru malah menolak. Dalam diarinya, Gie menuliskan : “Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor.”

Umurnya tidak panjang, pada tanggal 16 Desember 1969 ia meninggal karena asap beracun Gunung Semeru. Namun, pemikirannya sangat memengaruhi dan merubah pergerakan mahasiswa yang saat itu dikenal politis. Wiratowo Soekito dalam bukunya yang berjudul “Keterlanggaran Batas-batas Kultural” menyebut Soe Hok Gie beserta Arif Budiman sebagai penggagas “Gerakan Moral” di Indonesia.

Karena keterbatasan halaman, baca versi full version di:

https://kognisia.co/2018/07/13/1702/

 

(Rizky Satya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *