Rektorat Tanggapi Kontroversi Organisasi Eksternal

(Kampus Terpadu, 16/08/2018) Senin lalu (13/08) Universitas Islam Indonesia (UII) telah melaksanakan kuliah perdana yang mengangkat tema ‘Memanen Peluang di Era Disrupsi’. Akan tetapi, sensitivitas akan kehidupan berorganisasi di lingkungan kampus UII menguat dikarenakan adanya pembicaraan mengenai organisasi eksternal di acara kuliah perdana, yang notabene merupakan acara resmi dibawah rektorat.

Pembicaraan tersebut muncul dikarenakan adanya protes dari sejumlah mahasiswa di media sosial dengan tagar “#UIIGantiLogo.” Mayoritas yang diprotes ialah mengenai sambutan dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Videotron, spanduk berukuran besar di depan lokasi kuliah perdana, Auditorium KH. Abd. Kahar Muzakir, dan terakhir adanya stand HMI yang berbarengan dengan Lembaga Universitas lainnya yang berada di luar Keluarga Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (KM UII).

Respon yang bermunculan pun bermacam-macam, seperti pengakuaan dari salah satu perwakilan mahasiswa Fakultas Teknologi Industri (FTI) yang tidak ingin disebutkan namanya, merasa bahwa mahasiswa-mahasiswa baru seperti tidak disambut oleh kampus mereka sendiri. Ini disebabkan lebih banyaknya atribut-atribut organisasi eksternal pada saat kuliah perdana, dibandingkan dengan pihak UII.

Suasana semakin memanas ketika pelaksanaan koreografi yang memunculkan sosok Lafran Pane, tokoh nasional yang baru diangkat oleh Presiden Joko Widodo desember lalu yang merupakan alumni mahasiswa STIE (cikal-bakal UII) dan dosen Fakultas Hukum UII. Lafran Pane pun dikenal sebagai pendiri HMI. Beni Suranto, selaku direktur Direktorat Pengembangan Bakat/Minat dan Kesejahteraan Mahasiswa (DPBMKM) UII, memberikan klarifikasi terhadap hal-hal tersebut. Turut juga Rohidin, selaku Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Keagamaan, dan Alumni.

 

Beni Suranto, saat ditemui Tim Kognisia

#UIIGantiLogo

Munculnya sambutan dari HMI di videotron dan juga spanduk besar yang terbentang di lokasi Kuliah Perdana bukanlah merupakan kesalahan, ataupun hasil lobi. Ia menyebutkan bahwa sambutan dari HMI telah sesuai dengan perizinan Humas, sehingga ditampilkan di videotron. Beni lalu mengomentari tagar #UIIGantiLogo yang ia rasa tidak tepat karena sangat tendensius, poster resmi dari kampus pun juga ada di Boulevard UII, akan tetapi foto yang tersebar di media sosial hanya tentang HMI, sehingga menciptakan persepsi bahwa tidak ada sambutan dari UII kepada mahasiswa baru. “Saya heran gitu, kok spanduk kita yang di boulevard itu kok nggak difoto, padahal itu di UII,” ungkap Beni. Kedepannya ia menyarankan mahasiswa untuk tidak berpikir setengah-setengah, dan mengawasi kuliah perdana melalui akun Youtube resmi UII.

Mengenai baliho sendiri, HMI sudah mendapatkan izin dari Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM-U) tentang sarana-prasarana sehingga diizinkan oleh rektorat. Walaupun kuliah perdana merupakan acara resmi Universitas yang dikelola oleh direktorat akademik dan dewan kemahasiswaan, namun pihak rektorat menyebutkan bahwa pihak DPM lah yang memiliki wewenang mengizinkan atau tidak, sebagai lembaga tertinggi di student goverment UII. “Kalau teman-teman internal keberatan harusnya mekanisme itu diperbaiki di DPM,” ujar Beni. Untuk itu, ia merasa sikap sensitif dan provokatif mahasiswa mengenai baliho tersebut terlalu berlebihan. “Saya harap ini segera diluruskan, di satu sisi HMI itu sendiri lahir dari UII, karena HMI sudah besar, konteksnya sudah rasional dan apakah intra-ekstra tidak bisa sinergis? Bisa.”

Penuturan serupa juga diungkapkan oleh Rohidin, Wakil Rektor 3. Menurutnya, videotron bukanlah masalah besar, karena hanya merupakan promosi selewat. “Itu di videotron hanya promosi selewat, tidak dipanjar (bahasa jawa untuk tahan lama) dan tidak sepanjang waktu.” Tetapi jika ini menjadi permasalahan, maka menurutnya harus dilaksanakan evaluasi. “Ya evaluasi bagi lembaga, ke depan apakah perlu tetap dilakukan penayangan atau tidak.” lanjutnya.

 

Foto baliho HMI di Kuliah Perdana, yang tersebar di media sosial.

Kontroversi yang dimunculkan menjadi meluas, menurut Beni sendiri prasangka antar organisasi itu harus dihilangkan dari kalangan mahasiswa UII. Imbas besar dari munculnya ini ialah respon berlebih dari mahasiswa diluar sana, sehingga sensitivitas tentang organisasi eksternal ini disikapi oleh pihak rektorat dan HMI agar masalah tidak semakin membesar. “Pada saat videotron banyak kontroversi bahkan teman-teman HMI tidak mempermasalahkan karena mereka sadar itu sensitif, padahal mereka berhak melakukan itu (memasang sambutan) selama 7 hari, tetapi karena kontroversi tersebut pak rektor punya kebijakan kalau video tersebut disudahkan aja.” Beni pun menyayangkan adanya tindakan perobekan baliho HMI. Baginya, perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang tidak baik, apalagi jika dilakukan tanpa adanya bukti dan sikap yang tendesius.

Beni berpendapat jika ada permasalahan yang dianggap berasal dari DPM-U, artinya harus ada perbaikan yang ada di dalam DPM. Ia menyarankan jika memang dirasa DPM tidak subjektif, maka harus dibenahilah aturan lembaga tersebut, sehingga tidak terjadi prasangka-prasangka satu sama lain. “Semua memang harus di nilai berdasarkan subjektifitas, tapi saya berharap semua juga di nilai berdasarkan objektifitas. Kita juga sudah melakukan sesuai prosedur-prosedur yang ada di kebijakan lembaga kemahasiswaan.” lanjutnya.

Polemik Koreografi PESTA UII 2018

Koreografi PESTA UII 2018 juga ikut menuai banyak protes, respon pun bermunculan dari berbagai pihak. Protes ini didasari sosok Lafran Pane yang disandingkan bersama Moh. Hatta.

“Ya emang dasarnya Lafran Pane adalah dosen Fakultas Hukum UII dan dia adalah pahlawan nasional yang itu juga insan UII dan disandingkan dengan Pak Mohammad Hatta. Jadi kalau ditanya kenapa itu kontroversi, mungkin ya karena kebetulan beliau juga pendiri HMI. Dan saya, kita-kita semua udah tau lah ya ada beragam pendapat mengenai eksistensi HMI di UII. Tapi kan juga tidak bisa lupakan fakta sejarah,” ujar Beni memberikan alasan dibalik adanya sosok Lafran Pane di koreografi tersebut.

Respon secara langsung diberikan oleh mahasiswa FTI, khususnya dari jurusan Teknik Elektro serta Teknik Mesin. Dengan dikoordinir melalui Ketua Himpunan (Kahim) masing-masing jurusan, ada sekitar 20 orang yang melakukan intervensi saat pelaksanaan koreografi. Perwakilan dari FTI (nama tidak ingin disebutkan) menegaskan bahwa mereka tidak ingin adik-adik mereka seakan didoktrin organisasi eksternal dari awal. “Mereka masih seperti kertas putih, sudah dari kuliah perdana seakan tidak disambut oleh UII.” Ia sendiri menganggap, bahwa adanya tokoh Lafran Pane pada koreografi merupakan kepentingan organisasi eksternal belaka. Terlepas dari ia merupakan seorang tokoh nasional.

Perwakilan tersebut membeberkan bahwa mereka lebih ingin mahasiswa baru ikut aktif dalam organisasi internal, akan tetapi ia sendiri juga tidak melarang mahasiswa baru untuk mengikuti organisasi eksternal. “Ya terserah mereka mau ngikut organisasi eksternal, akan tetapi biarkan mereka mencari tahu karena keinginan mereka sendiri. Bukan karena mereka dipengaruhi dengan cara yang seperti ini,” tegasnya.

Mengenai kontorversi koreografi, Beni menyebutkan bahwa sosok tokoh Lafran Pane pada koreografi bukanlah kesalahan. Ia juga sudah bertemu perwakilan dari DPM-U dan Panitia PESTA UII 2018, dan mereka dapat menjelaskan alasan dibalik adanya tokoh tersebut dalam koreografi, “Kemarin kami juga ketemu juga panitia, kok ini kenapa, ya mereka bisa menjelaskan. Alasannya ya ia beneran orang UII dan pahlawan nasional.”

Koreografi tersebut dapat menjadi sesuatu yang salah jika tokoh tersebut kembali dibentangkan pada tahun selanjutnya, “Kecuali kalau mohon maaf ya, tahun depan Lafran Pane lagi (yang dijadikan koreografi), nah itu berarti ada tendensi. Kan kemarin saya tanya, gimana untuk tahun depan. Kalau tahun depan bisa aja Pak Kahar, atau mau tokoh, itu itu silahkan itu boleh ngga papa.” lanjutnya.

Beni juga mengatakan jika mengikuti perkembangan respon yang diberikan oleh mahasiswa UII, khususnya yang muncul melalui akun instagram @uii.story. “Saya kira kalau kita ngikutin, emosi segala macem, itu tentu ngga akan ketemu. Yang penting itu kan sebenernya kan tabayyun.” tambahnya. Beni pun telah melakukan pertemuan dengan admin dari akun tersebut, dan memintanya untuk melakukan klarifikasi melalui akun yang bersangkutan.

Sambutan HMI di Videotron UII, yang menjadi perbincangan di media sosial.

Organisasi Eksternal-Internal

Menurut Beni, masalah yang sekarang ada dapat dijadikan momentum untuk melakukan debat kajian. Tentang seperti apa yang lebih baik, sehingga untuk kedepannya bakal ada perubahan dan perkembangan. Ini harus menjadi PR bagi internal di Sidang Umum (SU) KM UII.

“Bagi mahasiswa yang protes ada nya Lafran pane silahkan itu debat kajian jadi rekomendasi bagus nya bagaimana, justru itu PR bagi internal, lakukan di SU dengan syarat dewasa, karena itu hanya adu argument dan gagasan.” Beni pun menyebutkan bahwa pihak Universitas telah membuat peraturan mengenai organisasi kemahasiswaan. Ia berharap adanya peraturan tersebut dapat memperjelas posisi organisasi mahasiswa internal dan eksternal, sehingga dapat menghilangkan masalah prasangka antar organisasi mahasiswa di UII. Tetapi untuk saat ini, peraturan tersebut akan dibahas terlebih dahulu dengan melibatkan alumni-alumni UII.

“Kalau teman-teman merasa DPM tidak subjektif, yang makanya itu harus benahi aturan lembaga.” tambah Beni.

Rohidin selaku wakil rektor 3 pun menyayangkan adanya sensitivitas yang ada di kampus mengenai organisasi eksternal dan juga internal. Baginya hal ini akan dapat merugikan lembaga jika tidak dikelola dengan baik. Masukan-masukan mengenai rasa sensitivitas itu dapat menjadi kajian di kedepannya, “Sehingga kami akan mengambil kebijakan-kebijakan sesuai dengan masukan-masukan dari rasa sensitifitas tadi mungkin kedepan nya videotron tidak akan digunakan oleh lembaga manapun kecuali oleh UII,” ujarnya. Menurut Rohidin, penayangan logo dari organisasi eksternal tertentu, tidak sebanding dengan jasa organisasi eksternal itu sendiri. “Jasanya membesarkan UII luar biasa,” tutupnya. (Karel)

 

Reporter: Ainun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *