Canda Tak Senonoh pada PESTA, Patutkah Terus Dipertahankan?

Setelah tiga kali mengikuti PESTA UII, saya kembali tertegun : mengapa maba-miba masih terus
dicekoki candaan mesum dan genit?
Ya, candaan itu disampaikan di hadapan maba-miba UII pada beberapa sesi ospek kampus UII.
Saya tidak habis pikir, bagaimana bisa candaan sekotor itu disampaikan pada mahasiswa baru
yang berniat baik-nan-suci untuk masuk UII. Dengannya, nama UII; yakni sebagai universitas
Islam, pun tercoreng.

Pernah ada maba yang bertanya kepada saya, “Kak, kok tadi MC-nya bercanda seperti itu, sih?
Saya kira UII itu islami, tapi setelah tahu kalau di UII itu seperti ini, saya memandang UII tetap
kurang baik dalam mencerminkan keislaman.” Sebagai waljam, tentulah bagi saya perlu
membela nama UII. “Iya, saya juga kecewa, kok, dek. Sudah sejak ospek dua tahun yang lalu,
saya pun berpikiran seperti kamu : PESTA UII mengajarkan kemesuman dan kegenitan. Tapi UII
masih lebih baik daripada universitas lain. Dari dasarnya saja pun UII ialah universitas Islam.
Bisa jadi, hal kotor dan buruk di UII tidak seberapa dibandingkan universitas lain.”
Saya tahu, saya telah membela hal yang sebenarnya saya sendiri pun tidak menyukainya.
Kendati PESTA UII tidak dirancang oleh pihak UII (sebagai rektorat) sendiri; yang PESTA UII tetap
berada dalam ranah kerja kemahasiswaan, namun patut disadari bahwa PESTA UII adalah
gerbang awal bagi maba-miba untuk memandang kesan pertama dari UII. Jika sejak awal saja
maba-miba dicekoki kemesuman dan kegenitan; meski sebatas canda dan wacana tawa, maka
wajarlah saja jika kultur mesum dan genit itu terpampang sebagai wajah UII; sebagaimana
pandangan saya sejak saya masih maba pada dua tahun yang lalu.
Sang pemain stand-up comedy di PESTA UII pernah berkata, “.. ibu saya itu pandai memanjat.
Memanjat pohon kelapa bapak saya.” Saya hanya geleng-geleng kepala. Para maba-miba
tertawa keras, apalagi dari maba prianya itu sendiri. Baik, candaan itu memang memancing
tawa. Tapi, apakah patut mencandai hal demikian? Tentu tidak etis, tidak islami, dan
mengajarkan kultur kemesuman dan genit yang tidak main-main. Apalagi di depan muka maba-
miba.

Selain daripada itu, diperagakan juga gerakan pinggul ‘maju-mundur’ di atas panggung. Gerakan
itu tentu saja mengundang tawa lagi. Maba terbahak-bahak. Namun, bayangkan betapa rusak
dan merusaknya tindak demikian, bila hal tersebut dijadikan kesan mengendap pada maba-
miba.

 

Pada saat sesi koreografi, MC berkata, “… yuk adek-adek, kita buat pornografi …. eh, koreografi
maksudnya.” Tak hanya itu, pernah di panggung pun MC mengatakan, “.. ini kan kalian
dikumpulkan di indoor, ya, dek. ‘In’ itu artinya di ‘dalam’, dan ‘Door’ itu artinya ‘tembak’. Maka,
arti keseluruhannya ialah ‘tembak di dalam’. Nah, tembak dalam itu enak, dek. Maksudnya,
ditembak dari dalam, dalam kamar mandi begitu ya, dek.”
Canda-canda yang menganjurkan dunia perpacaran; yakni tindak hubungan haram dalam Islam
dan tindak tercela bagi dunia percintaan manusia, pun tak luput terlontar pada ospek yang
pernah saya ikuti tiga kali ini. Sejak saya maba pada tahun 2016 lalu, saya terheran-heran :
mengapa bisa candaan yang taqrobu zina tersebut tersiar secara luas kepada khalayak yang
serba ‘polos dan bersih’. Jika sejak awal saja mereka dikondisikan dalam atmosfir seperti itu,
maka ternampak wajarlah bila mahasiswa-mahasiswi UII kedepannya (semoga tidak) berlaku
kurang bermoral.

Meski hanya sebatas candaan, patut diperhatikan bahwa candaan-candaan kotor tersebut
tetap mencerminkan ketidak-baikan bagi UII, sekaligus juga mempengaruhi maba-miba untuk
melakukan tindakan yang berkaitan dengan candaan-candaan itu, entah berasal dari alam
bawah sadar mereka ataupun melalui sikap afirmatif mereka.

Sebagai universitas Islam, tentu kultur yang dibangun di atas canda-canda demikian bukanlah
hal yang terpuji dan sesuai dengan konsepsi yang dianut UII. Meski hal tersebut dianggap wajar
dalam skala masyarakat, tetap perlu bagi panitia PESTA UII untuk merumuskan konsepsi acara
(beserta pengisian panggungnya) agar sesuai dengan kaidah yang terkandung dalam Islam.
Panitia PESTA UII tidak boleh menjadikan kewajaran masyarakat dalam memandang canda-
canda tersebut sebagai legalisasi canda-canda yang tercela dan merusak itu; melainkan, panitia
PESTA UII perlu mendasarkan seluruh kegiatan pada Islam; bukan pada pandangan masyarakat.
Jika sekiranya panitia PESTA UII menyediakan sesi bercanda-ria selama acara berlangsung, yang
dengannya ada MC ataupun pembicara lainnya untuk bercanda pada sesi itu, maka panitia
PESTA UII perlu memerhatikan candaan apa saja yang hendak dibawa pada acara nanti. Bila
memungkinkan bagi pengisi acara tersebut untuk menunjukkan naskah-bercanda, maka
tinjaulah naskah-bercanda itu; apakah patut atau tidak. Namun, sekiranya tak bisa demikian;
karena bisa jadi pengisi acara ialah tipikal pembicara spontan, maka panitia PESTA UII perlu
mengajukan peraturan apa saja yang perlu ditaati oleh pengisi acara yang hendak bercanda itu;
yang tentunya melarang candaan mesum, genit, dan tak sesuai dengan Islam.

Jika canda-canda yang dimaksudkan itu terus dibiarkan hingga pada ospek-ospek UII di
kemudian hari, maka perlu diwaspadai : bahwa hal itu akan membawa kerugian bagi UII dan
sivitasnya sendiri. Baik itu berupa turunnya nama UII yang ternilai tak Islami, terbangunnya kultur mesum dan genit yang tak berkesudahan, atau malah benarnya terjadi tindak haram
sebagaimana yang terpapar pada canda-canda kotor itu.
Tentu kita tak menghendaki semua kerugian tersebut melanda di UII. Oleh karenanya lah itu,
ospek PESTA UII perlu diberi penekanan lagi tentang penanaman Islam-nya. Tak hanya sebatas
Islam formalitas seperti pembacaan doa dan kalam Ilahi saja, namun dalam seluruh aspeknya :
termasuk candaan.[ ]

Ditulis oleh : Rumi Azhari (staff ahli divisi PDMI Korps Dakwah Universitas Islam Indonesia,
yang menjadi waljam PESTA UII 2017 & 2018).

Tulisan ini merupakan tulisan kiriman mahasiswa dari luar LPM Kognisia FPSB UII. Segala isi yang berkaitan dari tulisan ini, sepenuhnya merupakan tanggung jawab dari penulis.

7 tanggapan untuk “Canda Tak Senonoh pada PESTA, Patutkah Terus Dipertahankan?

  • Agustus 18, 2018 pada 11:09 am
    Permalink

    untung saya ngga pernah dateng ke pesta thor

    Balas
    • Agustus 18, 2018 pada 4:48 pm
      Permalink

      Waaa jangan lah.

      Balas
  • Agustus 18, 2018 pada 1:48 pm
    Permalink

    Kebetulan saya lulusan Sma bernuansa Islami, saya bener bener kaget, sampai saya bertanya pd diri sendiri, ini universitas islam? Bagaimana dengan universitas umum Akan kah lebih sopan atau justru lebih tidak etis?. Saya sempat berpikir ingin saya rekam tapi saya tidak mau uii menjadi buruk di mata masyarakat. Bercanda lah seperti pelawak profesional seperti pelawak di tv, buat konsep yang semenarik mungkin jangan dengan konsep negatif agar semua menjadi lucu. Tidak semua orang bisa menikmati lawan atau canda yang mengarah pada kejahatan! Kejahatan kelamin maksudnya. Terima kasih admin telah menyiapkan kolom komentar untuk mengeluarkan uneg uneg yg ada dihati saya

    Balas
  • Agustus 19, 2018 pada 8:48 am
    Permalink

    hari gini masih ada ospek/pesta???!!!..ingat woi skrg era 4.0…BUBARKAN PESTA…GANTI DENGAN KEGIATAN ILMIAH..!!!

    Balas
  • Agustus 19, 2018 pada 12:33 pm
    Permalink

    Tolong dri piahak dpm lem. Untuk menindak lanjuti mc yg memnyamapaikan klimat jorok itu.. Kta nya lembaga uii serata sama dosen ya buktikan mc yg ngomong kyak gitu buang aja dri uii…

    Balas
  • September 1, 2018 pada 9:49 am
    Permalink

    Astaghfirullah….dulu tk begitu, knp sekrg bgini?
    Malu baca nya…apalgi pst menyaksikannya lbh tundu malu
    Pengurus nya kebnyakan nonton standup comedy yg kena kasus malahan yak kek nya?
    Jiwa didik nya hilang
    Yuk diperbaiki

    Balas
  • September 16, 2018 pada 6:15 am
    Permalink

    Selain perihal ini, saya juga mau saran tahun depan do’a penutupnya lebih di seriusin. Tolong amanahin ke orang yang memang ahli di bidang itu.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *