Bukan Mengingat Kembali Luka Lama, tapi Menolak untuk Lupa

 

Judul Laut Bercerita
Penulis

Leila S. Chudori

Cetakan Desember 2017
Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia
Jumlah Halaman 377

 

Sesekali, aku membayangkan kita berdua bisa keluar dari dunia yang kita kenal ini, meloncat melalui sebuah portal dan masuk ke dimensi lain di mana Indonesia adalah dunia yang (lebih) demokratis daripada sekarang: presiden dipilih berdasarkan pemilu yang betul-betul adil; pilar-pilar lain berfungsi dengan baik; perangkat hukum dan parlemen tidak berada di dalam genggaman seorang diktator dan perangkatnya; pers bisa bebas dan tak memerlukan sebuah departemen yang berpretensi “mengatur” padahal bertugas membungkam. Apakah kita akan pernah hidup dalam Indonesia yang demikian? Indonesia yang tak perlu membuat para aktivis dan  mahasiswa yang kritis harus hidup dalam buruan dan sesekali mendapat bantuan dari berbagai orang baik.

Begitulah secarik surat yang dituliskannya kepada Anjani, kekasih Biru Laut, tokoh utama dalam novel apik karya Leila S. Chudhori ini. Kalimat yang dituliskan Laut menggambarkan bahwa demokrasi di negeri ini hanyalah khayalan belaa. Betapa keadilan bagi orang-orang yang menolak kekuasaan tunggal dengan entengnya dimatikan atau dilenyapkan. Pada kisah ini, saya dibuat takut sekaligus kagum pada masa-masa sebelum reformasi.

Kisah dalam novel ini dilatarbelakangi oleh kisah hilangnya 13 aktivis tahun ’98. Ide menulis novel ini bermula ketika penulis meminta Nezar Patria –salah satu korban selamat penculikan aktivis ‘98– untuk menuliskan pengalamannya. Hasilnya, Nezar menulis artikel dengan judul ‘Di Kuil Penyiksaan Orde Baru’ yang dimuat dalam Edisi Khusus Soeharto, Tempo, 2008 silam.

Akhirnya pada tahun 2013, perempuan yang bernama lengkap Leila Salikha Chudhori ini memulai risetnya untuk menulis Laut Bercerita. Ia mulai mewawancarai saksi hidup maupun narasumber lain yang bisa mendukung jalan cerita calon novelnya itu.

Novel ini tentu terinspirasi dari berbagai konsep yang diilhami oleh sastrawan maupun penulis kondang. Seperti penyair Soetardji Calzoum Bachri, yang sebagaimana puisinya “matilah engkau mati, kau akan lahir berkali-kali” dikutip. Catatan Pinggir Goenawan Mohamad mengenai Munir yang menjelaskan tentang gelap dan kelam juga menjadi pesan yang dalam di novel ini.

Novel ini mengingatkan kembali betapa kelamnya demokrasi di Negeri ini. 

Pernahkan kita membayangkan betapa intelektualitas kita dibatasi, Kebebasan berpendapat dilucuti, dan jangan harap kita bebas berekspresi. Semua wacana negara ini diatur oleh satu kekuatan yang berkuasa bertahun-tahun, tepatnya 32 tahun. Wacana-wacana atau ide yang dianggap ‘kiri’ dan menentang pemerintah dilarang. Buku-buku Pramoedya Ananta Toer yang begitu dihargai luar negeri dianggap haram. Pementasan-pementasan yang membela rakyat dianggap komunis. Diskusi-diskusi mahasiswa tidak diperbolehkan, dan tak segan-segan akan dibubarkan jika ketahuan.

Begitu rusak dan bejatnya hegemoni negara ini mengkebiri ruang berpikir masyarakat yang berakibat pada mental kita. Rasa takut akan penguasa yang coba ditanamkan dalam mental bangsa ini, sehingga kekuasaan tunggal bisa langgeng. Oleh karena itu, mahasiswa yang menolak untuk tunduk pada kekejian itu mencoba untuk melawan. Melakukan diskusi-diskusi yang radikal di penjuru kampus, aksi-aksi mendampingi petani yang tertindas dilakoni. Novel ini sungguh menceritakan gerakan aktivis mahasiswa secara nyata dan gamblang. Sejak tahun 1991, awal pergerakan tokoh utama novel ini, Biru Laut, hingga 1998 saat mereka diculik. Seluruh dinamika dan pergolakannya diceritakan dengan apik dan detail. Alur maju-mundur di novel ini mungkin sedikit membingungkan apabila pembaca tidak berkonsentrasi dan menyelami setiap babnya. Namun, justru di situlah keunikan novel ini, seakan memperbolehkan kita menebak-nebak dan berimajinasi.

Novel ini menceritakan dua tokoh, Biru Laut dan Asmara Jati.

Setengah dari cerita novel ini menceritakan dinamika pergerakan Biru Laut hingga ia dibunuh. Mulai dari awal mula pertemuan Laut dengan para sahabatnya; Alex, Daniel, Sunu, Julius, Kinan, Bram, Naratama, Gusti, Narendra, Sang Penyair (Mas Gala), hingga kekasihnya; Anjani. Mereka dipertemukan karena pemikiran dan panggilan jiwa yang sama, yaitu meruntuhkan Orde Baru. Biru Laut yang menempuh program studi Sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada itu kemudian bergabung dengan organisasi Winatra. Organisasi yang mempertemukannya dengan berbagai diskusi dan aksi-aksi nyata membela rakyat.

Tidak sedikit kisah heroiknya saat bergabung di organisasi Winatra, hingga akhirnya ia menjadi Sekretaris Winatra. Berbagai kejaran-kejaran aparat saat melakukan aksi telah ia lalui. Siksaan demi siksaan yang ia terima sempat membuat hatinya goyah, namun akhirnya tetap maju dan melawan. Perlawanannya itu tidak padam sampai detik terakhir ia menghembuskan nafas. Dua setengah bulan disekap dan disiksa tidak membuatnya tunduk pada kegelapan. Tidak, “gelap adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Dalam setiap gelap pasti ada terang meski hanya secercah, meski hanya di ujung lorong” begitu keyakinan Laut yang terilhami dari Sang Penyair. Tidak, tidak pada gelap. Laut tidak tunduk pada kekelaman, karena “kelam adalah lambang kepahitan, keputus-asaan, dan rasa sia-sia, jangan pernah kekelaman menguasai kita, apalagi menguasai Indonesia”.

Setengah lainnya menceritakan pencarian Asmara Jati, adik Laut dalam mencari jawaban atas hilangnya sang kakak. Kesedihan demi kesedihan meliputi semua keluarga yang anaknya hilang entah kemana. Singkat cerita, setelah disekap hampir tiga bulan, beberapa aktivis dilepaskan kembali. Namun, ada13 aktivis yang masih belum jelas nasibnya, termasuk Laut. Tak ada satupun dari mereka yang bebas berani menerka-nerka apakah mereka masih disekap, atau dibunuh.

Kondisi keluarga Laut dan Asmara sangat kacau saat itu. Pasalnya, dalam keadaan seperti itu, setidaknya terbagi menjadi dua kubu. Kubu pertama menganggap mereka yang hilang itu masih hidup dan disekap entah kemana. Kubu kedua, entah realistis atau pasrah, yang menganggap mereka sudah tewas. Asmara berada di kubu kedua, mencoba realistis karena ia memiliki sifat yang sangat matematis dan pragmatis.

Orangtua Asmara bersikukuh dengan pendapatnya bahwa Laut ‘belum pulang’ bukan ‘tidak pulang’. Hal itu yang membuat hari-hari Asmara Jati seperti kehilangan sosok orangtua. Bapak dan Ibunya selalu bersikap seolah-olah laut masih hidup dan akan pulang untuk makan malam. Bapak yang selalu menyiapkan empat piring, dan ibu yang selalu memasak masakan kesukaan Laut membuat hati Asmara seperti dirobek-robek. “Mereka masih nyaman berada dalam kepompong yang di sana ada mas Laut,” kata Asmara. Hingga pada suatu hari Asmara pernah mengangis sejadi-jadinya melihat pemandangan itu. Hal itu pula yang membuatnya jarang pulang ke Ciputat dan memilih berada di indekosnya untuk melewatkan tradisi makan malam pada hari minggu itu.

Menurutnya, menanti kabar apakah Laut masih hidup atau tidak sama saja menanti ketidakpastian. Menanti ketidakpastian adalah sesuatu yang lebih membunuh daripada pembunuhan bagi Asmara.

Novel ini membuka mata kita terhadap kenyataan yang konkret. Membuka perspektif kita terhadap dunia yang abu-abu ini. Bahwa tidak semua yang hitam itu hitam dan tidak semua yang putih itu putih. Setiap kebaikan memiliki keburukan, begitu juga sebaliknya. Setidaknya, novel ini bukan novel yang mengkaburkan nalar kritis para pembacanya. Laut Bercerita ini membuat pembaca menolak untuk lupa pada sejarah kelam Orde Baru dan hilangnya 13 Aktivis yang sampai saat ini belum terungkap.

Kematian para aktivis menjadi pengingat bagi kita yang masih duduk nyaman ini untuk terus melawan ketidakadilan. Meskipun jasad mereka mati, tapi jiwanya akan tetap hidup bersama kebenaran di setiap lubuk hati kita.

Matilah engkau mati….

Kau akan akan lahir berkali-kali…

(Mirza Iqbal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *