Kematangan Emosi Remaja yang Melakukan Pernikahan Dini

(Yogyakarta, 9/9/2018) Pernikahan dini masih menjadi trending topik dan sorotan dari berbagai lembaga yang bertugas di kependudukan daerah dan kota. Khususnya para aktivis anak dan aktivis perempuan. Menurut Hepi Wahyuningsih selaku dosen psikologi perkembangan, pernikahan dini merupakan pernikahan yang dilakukan sebelum batas waktu yang ditentukan atau cukup umur untuk menikah.
Jika dari sisi psikologi perkembangan, usia yang matang untuk menikah itu sekitar usia 21-22 tahun. Berbeda lagi jika dari sudut pandang islam yang melihat kematangan untuk menikah dari masa balighnya ucap Hepi Wahyuningsih. Sedangkan dalam Undang – Undang (UU) Nomor 1 Tahun 1974 Bab II Pasal 7 No.1 menyebutkan bahwa “Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun”.
Dari peraturan yang tertera dalam UU maka seharusnya anak usia 12 tahun belum diperbolehkan untuk melakukan pernikahan. Secara mental, usia 12 tahun belum matang (masih labil). “Memasuki bahtera rumah tangga akan banyak sekali masalah yang harus dihadapi dan itu membutuhkan emosi dan pemikiran yang matang, maka apabila anak usia 12 tahun menikah tentunya belum tepat dalam kematangan mental maupun emosi.” ujar Hepi Wahyuningsih.
Generasi sebelumnya banyak juga yang melakukan pernikahan dini jarang yang kawin cerai mereka nikahnya dijodohkan bukan seperti sekarang suka sama suka. Orang zaman dulu orang tuanya pasti telah mendidik anaknya dengan baik sehingga perkawinan mereka langgeng, sehingga pasti terdapat pengaruh pendidikan dari orang tuanya juga. Oleh karena itu, dalam hal ini peran orang tua sangat dibutuhkan. Karena orang terdekat adalah orang tua dan pendidikan yang diterima pertama adalah dari orang tua itu sendiri. Seharusnya para orang tua mulai menyiapkan pendidikan pada anaknya sejak kecil seperti mampu mempertanggungjawabkan apa yang mereka perbuat. Dimulai dari hal kecil seperti mainan, mereka bebas memilih apa yang ingin dibeli namun mereka juga dituntut untuk bertanggungjawab menjaga mainan tersebut jelas Hepi Wahyuningsih.
Jika dilihat dari dunia medis, kondisi fisik ketika menstruasi usia 13 tahun lalu hamil sebenarnya tidak masalah ucap Linda Rosita selaku Dekan Fakultas Kedokteran. Pada usia 12 tahun kondisi rahim belum kuat untuk mengandung dan melahirkan, namun tidak menutup kemungkinan untuk mengandung dan melahirkan pada usia ini. Terkait masalah resiko sering terjadi kehamilan diluar rahim saat nikah dini, kemudian banyaknya abortus (ovum dan sperma keluar karena tidak kuatnya rahim, nanggung pembuahan itu).
Ibu hamil harus sehat karena apapun itu akan menurun pada anaknya, resiko terjadi pada ibu dan anak seperti campak dan lain-lain jelas Linda Rosita.
Jika membicarakan kehamilan maka terdapat kemungkinan untuk mengalami baby blues. individu akan mengalami tekanan yang berat karena ditubuhnya tumbuh makhluk baru , akan menguras tenaga, mengambil makanan yang diamakan, memberatkan individu tersebut dari hari kehari. Sehingga, kemungkinan terjadi baby blues itu dari fisik dan juga psikisnya ujar Linda Rosita.
Baby blues muncul karena perasaan depresi pasca melahirkan. Wanita ynag mengalami baby blues akan merasa kebingungan bagaimana cara merawat anak. Hal ini juga dapat terjadi apabila melahirkan dibawah umur. Oleh karena itu dibutuhkan peran orang tua untuk membekali anaknya dengan ilmu pengetahuan dan mempersiapkan diri untuk menjadi individu yang mampu bertanggung jawab tutup Hepi Wahyuningsih. (Fadhilah, Dennis)

Reporter: Fadhilah, Denis, Iqbal

Editor: Dexa, Suci, Merlina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *