72 Menit

 

Rangkaian gerbong di Jalur Tiga Stasiun Yogyakarta itu masih berhenti. Terlihat seorang perempuan hendak menaikinya, sedikit kesulitan akibat anak tangga besi yang mulai berkarat. Digenggamannya terdapat satu cup kopi panas dan sebuah tiket berwarna jingga. Keduanya bertuliskan identitas si pemilik, Rania.

Di dalam gerbong ia berjalan perlahan sembari memperhatikan nomor kursi yang tertempel di atas jendela. Sesekali ia melirik keterangan yang tercantum di tiketnya, memastikan. Ekspresinya berubah senang tatkala menemukan kursi yang ia cari dan masih kosong. Rania berharap kali ini ia bisa duduk sendirian. Keinginan itu bukanlah tanpa sebab mengingat insiden satu minggu yang lalu ia terjebak duduk bersama sepasang suami istri dan anaknya yang super usil.

Rania meletakkan kopi panasnya dan membuka tirai jendela. Rintik hujan membuat jendela kereta Malioboro Express yang ditumpanginya basah, dan tentu saja memberikan efek bulir-bulir yang indah.

Satu menit lagi kereta itu berangkat dan butuh waktu sekitar tujuh puluh dua menit untuk sampai di tempat tujuan Rania, Satasiun Solo Balapan. Rania paham betul bahwa tujuh puluh dua menit bukanlah waktu yang lama. Namun, Rania juga sadar bahwa tujuh puluh dua menit bukanlah waktu yang sebentar untuk menikmati pemandangan.

Peluit petugas KAI berbunyi panjang, pintu gerbong mulai tertutup, dan kereta perlahan berjalan. Rania mengendurkan posisi duduknya. Batinnya berteriak girang kala akhirnya ia dapat duduk sendiri, setidaknya sampai Stasiun Klaten.

Namun, semua kesenangan itu ternyata fana tatkala sebuah suara mengusik Rania.

“Permisi,” ucap seorang lelaki.

Reflek Rania memperbaiki posisi duduknya lagi. Posisi semestinya, yang anggun dan penuh wibawa.

Rania memperhatikan lelaki itu.

Dalam sekejap, Rania berubah pikiran. Ia menarik kembali doanya. Kali ini ia rela duduk terjebak bersama orang lain. Dengan orang ini.

**

Suara musik dari earphone bercampur dengan bisingnya mesin kereta tak membuat Rania teralihkan dari lelaki di depannya. Sudah hampir tiga puluh menit perjalanan dan Rania tak bisa duduk dengan nyaman.

Ayolah, Rania memang pendiam tapi ia sangat suka memulai obrolan dengan orang asing. Seharusnya ini tidak menjadi masalah besar. Rania menepuk-nepuk pipinya pelan mencari segala cara agar aliran darahnya bisa lancar mengalir hingga ke otak sehingga ia bisa menemukan topik yang tepat untuk mengobrol.

Sayangnya, kinerja otak Rania memang terhenti sesaat, sama seperti kereta itu yang kini berhenti sejenak di Stasiun Klaten.

Pintu gerbong terbuka dan bau sisa hujan menusuk indra penciuman. Tidak terlalu banyak penumpang yang naik dari Stasiun Klaten dan Rania berharap seseorang tidak duduk diantara ia dan lelaki itu.

Tapi takdir berkata lain, seorang Ibu berdaster batik menempati kursi kosong di sebelah lelaki itu, menjadi orang ketiga dalam kecanggungan dua insan yang saling diam dan memperhatikan.

**

Kopi Rania sudah mulai dingin dan lima belas menit lagi kereta mereka tiba di Stasiun Solo Balapan. Rania bersumpah ia akan menyesal selama sisa hidupnya apabila ia tidak memanfaatkan kesempatan untuk mengobrol dengan lelaki di hadapannya.

Entah apa yang membuat Rania terobsesi untuk mengobrol dengan lelaki itu. Rania menduga mungkin karena memulai obrolan dengan orang asing merupakan sesuatu yang menantang dan sering ia lakukan. Atau mungkin ada alasan lain yang sebenarnya tidak terlalu ingin Rania pikirkan.

Rania masih memperhatikan lelaki di hadapannya yang asyik membaca sebuah buku. Sesekali Rania memalingkan wajah ketika terpergok. Ya, beberapa kali Rania terpergok oleh Ibu berdaster batik yang duduk di samping lelaki itu.

Rania masih termenung. Memikirkan topik apa yang sekiranya bisa membuka obrolan di antara mereka.

Rania mencoba membaca sekali lagi judul buku yang dibaca lelaki itu. Wessex Tales. Bahkan Rania tidak tahu bahwa ada buku dengan judul seperti itu. Sepertinya topik buku bukanlah topik yang tepat untuk diobrolkan. Rania pasti akan terlihat sangat konyol ketika membahas buku mengingat bacaan favoritnya adalah komik Chibi Maruko Chan.

Rania menatap keluar jendela. Mencoba mencari topik yang sekiranya umum untuk lelaki dan dikuasai oleh Rania.

Oh, bola?

Bagaimana dengan bola?

Kepindahan Ronaldo ke Juventus, mungkin?

Tapi, sebentar.

Bagaimana jika lelaki itu penyuka Messi dan bukan Ronaldo?

Rania menggelengkan kepalanya kesal. Ia harus segera mencari topik lain.

Rania paham betul bahwa waktu terus berjalan dan itu berarti sebentar lagi ia akan sampai di tujuan.

Rania semakin tertekan. Ia harus memberanikan dirinya.

“Mas,” sepatah kata itu terucap. Seseorang yang dipanggil mengalihkan pandangannya dari buku dan menoleh ke sumber suara.

Ada jeda sejenak, yang terdengar hanya deru mesin kereta api.

“Mau ke mana?” tanya Si Ibu melanjutkan kalimatnya yang terpotong.

Rania menepuk jidatnya pelan. Kenapa pertanyaan sepele seperti itu tidak terpikir olehnya.

Rania tetap di posisinya, menatap keluar jendela, tetapi ia berusaha menajamkan indra pendengaranya.

“Ke Malang, Bu,” jawab lelaki itu dengan nada yang ramah.

“Mau ngapain?” tanya Si Ibu lagi yang kini terdengar sangat penasaran.

Rania kini memperhatikan keduanya, berharap dilibatkan dalam percakapan penuh basa-basi itu.

Benar saja, laki-laki yang ternyata memakai kaos hitam bertuliskan Nirvana di balik jaket denimnya itu tersenyum simpul. Sekilas menatap Rania, lalu matanya menerawang ke luar jendela.

Ada jeda yang panjang dan napas yang berat.

“Besok saya akan melamar pacar saya.”

Dan kereta pun berhenti, begitu pula perasaan Rania.

(Salsabila Azzahra)

Ilustrasi: Satya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *