Ketika Kamu Dewasa Ingin Jadi Apakah Kamu?

Pertanyaan yang membuat seluruh penjuru kelas 3-A terdiam. Semua terdiam di bangkunya masing masing. Pertanyaan itu memang cukup lumrah bagi sebagian siswa-siswi 3-A. Tak terkecuali bagi Lana, Lana kebingungan. Ia membeku di bangkunya, tak mampu mengeluarkan kata-kata ataupun hanya sekedar untuk mengalihkan pandanganya menuju teman satu bangkunya. Akan tetapi pertanyaan yang diajukan oleh ibu Melani sangatlah berat dan ganjil bagi Lana. Bagaimana tidak ia hanyalah seorang siswa sekolah dasar kelas 3, namun Ibu guru kesayangan Lana ini menanyakan sesuatu yang sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh Lana kecil. Jikalau Ibu Melanie menanyakan Pokémon apakah yang menjadi favorit Lana , atau perkalian lima hingga sembilan, ataupun bagaimana cara memanaskan ayam yang sudah Mama bekukan, maka Lana pun akan menjadi juara nomor satu dalam mengacungkan jarinya terlebih dahulu ketimbang teman-temanya.
Kepala Lana dalam mode panik, dengan sepuluh sel otak yang tersisa di kepalanya ditambah dengan panasnya suhu kota Jakarta pun membuat pergolakan yang terjadi di dalam diri Lana pun semakin menjadi-jadi. Tidak mampu berfikir lagi, ia hanya mampu menunggu seseorang untuk mengacungkan jarinya atau menunggu hingga Ibu Melani memanggil namanya. Hingga kemudian keheningan kelas pun mendadak pecah oleh suara seseorang.
“ A—anu Bu, aku ingin menyampaikan mimpiku ketika aku dewasa nanti.” Dengan suara halusnya, Ningsih pun mengacungkan jarinya tinggi-tinggi, kemudian ia pun menarik nafas dalam.
“ A—anu, ketika aku dewasa nanti aku ingin menjadi dokter kandungan seperti kakak. Aku mau menyelamatkan nyawa banyak orang seperti dia, sehingga tidak ada lagi yang kehilangan adiknya seperti aku,“ ujar Ningsih.
“… hmmm, lanjutkan!“ tukas Ibu Melani.
Hanya itulah respons yang diberikan oleh Ibu Melani. Meskipun begitu, anehnya kesunyian yang melanda kelas 3-A pun mulai mencair, bisik-bisik pun mulai terdengar. Beberapa siswa-siswi pun terlihat mulai berdiskusi dengan teman sebangkunya. Lana pun semakin panik, mengetahui ia hanyalah satu -satunya yang mungkin belum mengetahui apa yang akan ia katakan. Tak sampai situ, ia dikejutkan lagi oleh teman sebangkunya Dani yang secara tiba-tiba mengacungkan jarinya.
“ Aku kalau sudah besar ingin menjadi polisi Bu, polisi itu pahlawan super seperti Batman!” tegas Dani.
“ … hmm, bagus!“ ujarnya.
Lana mulai paham agaknya yang dimaksud dengan mimpi adalah sesuatu seperti menyelamatkan banyak orang layaknya pahlawan super favoritnya, Wolverine. Akan tetapi ada sesuatu yang mengganjal, ia pun terdiam lagi.
“Apakah benar ia layak untuk menjadi sesuatu seperti itu?” pikirnya.
Banyak hal yang membuat dirinya yang ia rasa bahwa ia tidak cocok untuk menjadi hal tersebut. Contohnya adalah Lana memiliki postur tubuh kurus kering, pendek, tidak atletis, meskipun begitu ia sangatlah cepat dalam berlari dan sekarang sudah sabuk hijau strip biru di Tae Kwon Do. Yang mana hal tersebut justru akan membuat Lana menjadi sasaran empuk bagi penjahat yang akan ia lawan sehingga ia pun sepakat bahwa menjadi pahlawan super bukanlah sesuatu yang cocok bagi Lana. Ia pun sekali lagi harus mencari tau lagi mimpi seperti apakah yang layak untuk dirinya.
Satu persatu, siswa-siswi kelas 3-A pun mulai mengemukakan mimpi mereka meninggalkan Lana sendirian sebagai satu-satunya yang belum mengemukakan mimpinya. Akan tetapi, Dewi Fortuna sepertinya sedang berpihak di sisi Lana. Bel yang menandakan kelas sudah berakhir pun berdering, membuat Ibu Melani memberikan sebuah pekerjaan rumah yaitu, menuliskan essai mimpiku ketika aku dewasa nanti. Sekali lagi sebuah momen dimana Lana pikir ia dapat melarikan diri dari pergolakan yang terjadi. Akan tetapi, semua itu salah. Mungkin ia seharusnya lebih paham jika hidup itu sendiri adalah neraka, dimana begitu kita selesai dengan neraka yang satu maka kita pun akan berpindah menuju ke neraka yang lain yang lebih panas tentunya. Tapi tentu saja hal tersebut sangat mustahil dimengerti oleh Lana yang baru berumur kurang lebih sepuluh tahun.
Sepanjang perjalanan pulang pun seluruh teman-teman Lana terus bercakap-cakap mengenai mimpi-mimpi mereka saat mereka dewasa nanti.
Ardi pun berkata bahwa ia ingin menjadi astronaut ketika ia dewasa nanti, sebab ia sangat menyukai bintang bintang di langit malam hari dan ingin mengunjunginya suatu hari nanti. Lain halnya dengan Sintia, ia ingin menjadi perempuan paling kaya raya di dunia ini dan dinikahi oleh seorang pangeran yang sangat tampan dan kaya raya layaknya kisah tuan putri yang selalu ia baca.
Tak mampu berkata Lana pun hanya mampu terdiam seribu bahasa. Mulutnya terkunci, wajahnya datar. Ia sangat iri, marah dan membenci dirinya karena ketidakmampuannya dalam mencari tau mimpinya sendiri.
“Lanaaaa, kenapa bengong aja?” tanya Sintia.
“E—enggak kenapa-napa kok, aku mikirin Sparky, anjingku.” gumam lana. (Maulana Noerriza, Magang Kognisia 2018)

Ilustrasi : Lina Sholawati

Baca selengkapanya di versi PDF.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *