ISLAM KTP

 

 

Saya pernah iseng melihat-lihat E-KTP baru saya. Nama saya terpampang keren, foto saya juga setidaknya tak sememalukan teman-teman saya yang berusaha menyembunyikan KTP-nya dari pandangan teman-temannya.

Di kolom agama KTP, terpampang dengan jelas agama saya ialah ISLAM –dengan huruf kapital. Tapi saya berpikir, apa sih yang membuat saya seorang yang “ISLAM” dalam pandangan manusia? Sedangkan saya mengakui, bahwasannya saya bukanlah seorang muslim yang taat beribadah dan pengetahuan mengenai agama saya pun masih sedikit.

Indonesia sebagai segelintir negara yang menempatkan kolom agama dalam identitas masyarakatnya, punya istilah unik tersendiri: “Islam KTP.” Memang, apa sih indikator seseorang dapat disebutkan sebagai seorang yang Islam KTP? Kebanyakan berpendapat orang yang Islam KTP ialah orang-orang yang seperti saya ini: mengaku Islam, namun jarang beribadah. Jangankan yang sunnah, yang wajib pun masih jarang. Tetapi, itu dari pandangan manusia. Saya tidak tahu apakah di mata Tuhan saya seorang hamba yang taat dan beriman kepada-Nya ataukah tidak?

Alm. Gus Mus dalam sebuah ceramahnya pernah mengatakan “Tidak ada yang namanya Islam KTP.” Intinya, selama seseorang mengucapkan kalimat syahadat maka ia adalah seorang muslim, tak peduli apakah ia menjalankan haji, zakat, puasa, atau bahkan shalat.

Pada tahun 1960-an, seorang Antropolog AS, Cliffor Geertz membagi masyarakat Jawa menjadi tiga berdasarkan perilaku beragama Islamnya: Priyayi, Santri dan Abangan. Sederhananya, golongan Priyayi merupakan kaum bangsawan, Santri golongan non-bangsawan yang taat dengan agama Islam, sedangkan Abangan golongan non-bangsawan yang masih mencampur aduk tradisi Islam dengan tradisi Hindu-Buddha. Saya membayangkan golongan Abangan sedikit mirip dengan sebutan “Islam KTP” namun dengan acuan yang jelas.

Seminggu yang lalu, dalam suatu kelas kuliah yang saya ulang. Seorang adik tingkat saya memaparkan penafsiran Kuntowijoyo terhadap peristiwa Isra Rasulullah. “Peristiwa Isra merupakan lambang kemanusiaan Rasulullah. Ia naik ke surga, ditunjukkan keindahan surga oleh Allah, namun Rasulullah tetap saja memilih untuk kembali ke dunia yang penuh keburukkan.”

Peristiwa Isra dimaknai sebagai bentuk kepeduliaan Rasulullah kepada manusia, bahwa ia sadar tugasnya tidak hanya untuk mengajarkan cara shalat, puasa, dan lain sebagainya. Namun, juga menghapus penindasan-penindasan sosial yang terjadi di dunia, menghapus riba, menolong orang-orang miskin, menghapus penindasan terhadap manusia, dan lain sebagainya.

Apa jangan-jangan, orang yang Islam KTP itu sebenarnya adalah orang yang beranggapan dunia ini hanya “tempat mampir” saja. Yang penting ibadah, beriman pada Allah, urusan tetangga ada yang mati kelaparan, atau justru terlibat membuat orang lain kelaparan itu sih bodoh amat.

Apa jangan-jangan, orang yang jarang beribadah namun selalu membantu manusia dan menjaga dunia ciptaan Allah, justru lebih beriman daripada yang kerjaannya beribadah saja? Seperti tokoh “Haji Saleh” dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” yang hidupnya selalu beribadah namun pada akhirnya tetap saja masuk neraka.

Kalau memang seperti itu, betapa buruknya saya jika saya yang sudah jarang beribadah, juga tidak turut aktif dalam menolong orang lain bahkan terlibat dalam penindasan-penindasan tersebut. Hapus saja kolom agama, saya terlalu malu melihatnya.

 

(Satya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *