Terlambat Hanyalah Kalkulasi

 

Senin pagi, adalah Badu dengan nafas terengah-engah membuka pintu kelas. Hari itu adalah mata kuliah Kewarganegaraan. Pengajar mata kuliah itu adalah seorang doktor dengan latar belakang hukum yang tidak bisa diragukan lagi. Baik Badu, pengajar, maupun teman-temannya serentak memandangi jam dinding. Pukul 9.21. Artinya, Badu terlambat 6 menit.

Seperti yang sudah-sudah, terjadi percakapan Badu dengan pengajar.

Badu                : “Permisi, pak. Maaf saya terlambat,”

Pengajar          : “Dari mana saja kamu?! Jam segini baru datang. Kamu tahu kan aturan di dalam kelas saya?

Badu                : “Maaf, pak. Saya tahu aturannya. Semua yang datang terlambat lebih dari 15 menit dari jadwal yang telah ditentukan, maka boleh tetap mengikuti perkuliahan tetapi diperkenankan menutup pintu dari luar.”

Pengajar          : Ya, kamu sudah tahu. Sekarang saya perkenankan kamu mengikuti aturan itu. Silakan.”

Badu                : “Maaf pak, itu artinya bapak mengusir saya,”

Pengajar          : “Aturan mainnya memang seperti itu. Kamu tahu kenapa aturan itu saya buat?”

Pengajar memandangi mahasiswa seisi ruangan, ia melanjut –

“Itu mendidik kita semua untuk disiplin terhadap apapun, termasuk waktu. Paham semuanya?”

Sontak mahasiswa seisi ruangan menyatakan paham.

Badu                : “Tapi pak, saya baru kali ini terlambat,”

Pengajar          : “Tidak ada alasan untuk itu. Aturan tetaplah aturan. Sepintar apapun seseorang, sebanyak apapun ilmu seseorang, jika sudah melanggar, akan percuma. Disiplin adalah koenjti! ”

Intonasi pengajar penuh yakin, kata-kata yang sepertinya tidak boleh dilewatkan oleh mahasiswa yang budiman.

Badu                : “Siap, pak. Dilaksanaken. Aturan tetaplah aturan,”

Badu sebenarnya merasa kesal. Tapi ia berjalan keluar seraya melempar senyum, walau senyum itu ia dipaksakan. Sementara pengajar hanya mengerutkan dahi. Mungkin baginya, senyuman itu aneh. Seperti watak  palsu koruptor yang merasa tidak bersalah. Bagaimanapun, akhirnya Badu menutup pintu dari luar atas perbuatan tidak disiplinnya terhadap waktu.

**

Senin pagi, adalah pengajar yang membuka pintu. Hari itu ia mempunyai  jadwal mengajar mata kuliah Kewarganegaraan. Tidak biasanya doktor di bidang hukum itu membuka pintu dengan nafas terengah-engah. Ia melihat jam dinding, pukul 9.22. Artinya, ia sudah membuang waktu 22 menit untuk mengajar.

Pengajar                      : “Selamat pagi. Maaf, ada beberapa urusan yang harus saya selesaikan terlebih dahulu tadi,”

Seorang Mahasiswa   : “Selamat pagi. Dan maaf, bapak tahu kan aturan bagi yang terlambat?”

Pengajar                      : ”Loh. Itukan berlaku untuk kalian mahasiswa,”

Seorang Mahasiswa   : “Semua yang datang terlambat lebih dari 15 menit dari jadwal yang telah ditentukan, maka boleh tetap mengikuti perkuliahan tetapi diperkenankan menutup pintu dari luar.”

Pengajar                      : “Aduh, aduuh. Begini, kalau saya tidak diizinkan masuk kelas, siapa yang akan mengajarkan kalian? Siapa yang akan mendidik kalian menjadi generasi emas untuk bangsa ini? Siapa yang akan menyalurkan bekal ilmu kepada kalian sebagai pewaris bangsa ini?”

Seorang Mahasiswa   : “Bapak tahu kenapa aturan dibuat? Itu mendidik kita semua untuk disiplin terhadap apapun, termasuk waktu. Tidak ada alasan untuk itu. Sepintar apapun seseorang, sebanyak apapun ilmu seseorang, jika sudah melanggar, akan percuma. Disiplin adalah koenjt!.

Pengajar                      :”Saya paham dan benar-benar meminta maaf. Tapi saya harus menyelesaikan hal yang penting terlebih dahulu,”

Seorang Mahasiswa   : “Apakah mendidik kami menjadi generasi emas penerus bangsa bukan suatu hal yang penting bagi bapak? Apakah menyalurkan ilmu bukan sesuatu yang penting bagi bapak? Tidak ada alasan atas perbuatan tidak disiplin bapak serta sikap yang tidak mementingkan kepentingan orang banyak terlebih dahulu. Itu kan kepentingan bapak sebagai pengajar,”

Pengajar kewalahan menerima kalimat-kalimat itu. Ia mencoba memastikan kembali,

Pengajar                      :”Jadi saya harus keluar, nih?”

Seorang Mahasiswa   : “Aturan tetaplah aturan,”

Pengajar tidak membalas ucapan itu. Sebetulnya pengajar merasa kesal. Tapi ia berjalan keluar seraya melempar senyum ke seisi kelas, walau senyum itu ia dipaksakan. Sementara para mahasiswa hanya mengerutkan dahi. Mungkin bagi mereka, senyuman itu aneh. Seperti watak  palsu koruptor yang merasa tidak bersalah. Bagaimanapun, akhirnya pengajar menutup pintu dari luar atas perbuatan tidak disiplinnya terhadap waktu.

***

Para mahasiswa sedang sibuk memasukan barang bawaan mereka ke dalam tas, tak terkecuali Badu. Ya, bagi Badu dan teman-temannya, ketiadaan pengajar di kelas adalah kesempatan untuk bersantai di luar kelas.

Ehem,” terdengar seseorang di pintu sana. Itu adalah pengajar yang membuka pintu.

Pengajar          : “Walaupun saya harus menutup pintu dari luar, kita sama-sama masih dalam kegiatan perkuliahan, bukan?”

Badu                : “Iya, pak. Kalimat di dalam aturannya memang begitu,”

Pengajar          : “Nah, mata kuliah Kewarganegaraan adalah mata kuliah berbobot 2sks. Artinya, kalian harus tetap di kelas sampai pukul 10.40,”

Dapat dipastikan bagaimana mimik wajah Badu dan teman-temannya saat itu. Pada akhirnya, keunggulan menjadi 2-1 untuk pengajar. Kepandaian pengajar soal aturan memang tidak bisa diragukan. Tapi, menurut Badu, angka hanyalah kalkulasi, hadapi dengan dingin. Sementara menurut pengajar itu, keberanian seorang Badu tidak boleh dipandang sebelah mata. (balee)

Ilustrasi: Bang sat

Satu tanggapan untuk “Terlambat Hanyalah Kalkulasi

  • Oktober 15, 2018 pada 11:38 am
    Permalink

    Mantapp. Pernah seperti yang aku rasakan. Heuhu
    Lanjutkan untuk terus berkarya kognisia!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *