Mengenal Rusdi Mathari dan Kehidupan Panjangnya dalam “Aleppo”

Oleh Nadhifah Dwi O.

Aleppo sekarang adalah wabah. Menularkan kemarahan dan kesumat. Melahirkan orang-orang yang setiap hari berpikir dengan membunuh dan kepada Tuhan mereka merasan berbakti. Aleppo (Hal: 279)

Cak Rusdi, begitu masyarakat memanggilnya. Pria kelahiran Situbondo 53 tahun silam itu adalah seorang wartawan senior yang telah melalang-buana menggeluti dunia jurnalistik dari Suara Pembaruan (1990-1994) Redaktur InfoBank (1994-2000) Situs berita detikcom, hingga penanggung jawab rubrik PDAT Majalah Tempo (2001-2002) redaktur Majalah Trust (2002-2005). Redaktur pelaksana Koran Jakarta (2009-2010) redaktur pelaksana Beritasatu (2010-2011) dan pemimpin redaksi VHR.media (2012-2013) serta turut aktif dalam penulisan buku yang diterbitkan oleh Mojok.co diantaranya adalah; Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya, Laki-Laki Memang Tidak Menangis tapi Hatinya Berdarah, Dik, dan Aleppo.

Kali ini, saya mencoba untuk membahas tulisannya dalam Aleppo. Sejatinya Aleppo merupakan gabungan status Facebook yang aktif ia unggah tahun 2015 lalu. Membaca tiap babnya menghantar kan para pembacanya mengenal lebih dalam sosok Rusdi, seolah ia tidak takut akan penilaian orang terhadapnya, ia benar-benar mengupas habis kehidupan masa kecilnya, keberingasan masa remajanya hingga kehidupan barunya memiliki keluarga dan dunia kerja seorang wartawan. Tulisannya yang sederhana, santai dan sesekali disisipi humor membuat saya yakin banyak orang yang ingin berteman dengan Cak Rusdi di laman Facebooknya.

‘Sewaktu saya bilang akan menekuni dunia wartawan Bapak malah mengusir saya. “Jadilah kamu wartawan di Jakarta, bukan jadi wartawan seperti bapak”. Aleppo (Hal: 60)

Rusdi yang dibesarkan dalam keluarga sederhana, dikenal “nakal” selayaknya kebanyakan pria lainnya. Wajar, pencarian jati diri menjadi alasan terbaik di balik masa mudanya, toh kita muda cuma sekali. Ia kerap kali dipanggil polisi karena kelakuannya dengan geng SMA-nya yang acap kali membuat kegaduhan perihal wanita. Tiap kali itu pula, Ibu dan Bapaknya menjemput pulang Rusdi dari kantor polisi. Waktu berlalu, terpikir dalam benak Rusdi yang beranjak dewasa untuk mendaftarkan dirinya sebagai seorang tentara, buru-buru ia menghapus tato yang sempat ia ukir, dan berharap lolos sebagai calon perwira. Rupanya keberuntungan tak berpihak pada Rusdi, ia ditolaknya menjadi perwira. Ihwal tersebut justru membawanya lebih dalam menyelami pekerjaan bapaknya yang tidak lain adalah seorang wartawan, pekerjaan yang tidak pernah ia impikan sebelumnya.

‘Saya terpaksa menghapus tato menjelang tamat SMA karena bermaksud mendaftar Akabri bersama seorang teman yang kini menjadi pastor jesuit di Pakistan’ Aleppo (hal: 24)

Ia memang dikenal sebagai sosok yang sederhana, tak jarang dalam tulisannya ia mengisahkan orang-orang asing yang ia ajak bicara, ia mengajarkan pada pembacanya bahwa selalu ada hal yang dapat diteladani dari tiap insan yang kita temui. Curhatan salah seorang sahabatnya juga ia ubah menjadi karya yang dapat menarik simpati para pembaca tulisannya. Semudah itu Cak Rusdi menenggelamkan perasaan pembaca bukunya untuk ikut serta menaruh rasa dalam setiap bab dalam buku Aleppo.

Bukan Rusdi rasanya jika tidak ikut mengkritisi sekecil apapun peristiwa kehidupan. Seperti pada bab “Jakarta-Jakarta” yang salah satunya membahas masalah Kritik yang Membangun. Kerap kali masyarakat mengatakan, “tolong untuk memberikan kritik yang membangun,” yang menurut Cak Rusdi hal tersebut mustahil adanya. Kritik seharusnya bersifat tajam menghujam, menguliti apa yang tersurat dan menohok yang tersirat, maka dari itu kritik tidak dapat digabungkan dengan pujian yang membangun. Ia setuju jika “kritik yang membangun” diubah menjadi “membangun dengan kritik” karena kritik yang diberikan tidak perlu disikapi sebagai pernyataan atau sikap yang bermusuhan, agar tiap kritik yang ada dapat diterima dengan lapang dada dan disikapi dengan memperbaiki apapun yang terjadi pada saat itu. Terlihat sepele namun Cak Rusdi berhasil memberikan pandangan yang berbeda untuk hal sesederhana sebuah kalimat.

‘Benar, kritik adalah cara pandang yang berbeda atas suatu persoalan, tapi kritik mestinya tak perlu disikapi sebagai pernyataan atau sikap yang bermusuhan’ Aleppo (hal: 145)

Bukan tanpa sebab tulisan ini ada, boleh jadi hari ini kita mempelajari sosok yang bisa kita teladani sekaligus mengenang Cak Rusdi yang tetap berkarya hingga akhir hayatnya, meski tubuhnya digerogoti sel-sel kanker. 


“Saya terus menulis karena saya ingin berbagi pilihan pandangan dan perspektif, meski kadang harus melawan arus pendapat umum,” – Rusdi Mathari.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *