Dramaturgi Pemilwa KM UII

Oleh Arie M. F. Cahya, Lany D. Paulus

Pada 9-11 Maret 2021, Pemilwa UII 2020 telah diselenggarakan oleh KPU UII dengan tujuan untuk memilih calon legislatif baru untuk regenerasi kepengurusan sebelumnya. Dengan mengedepankan motto “transparan, bebas, dan kredibel”, pemilwa seyogyanya diharapkan berjalan dengan optimal namun, jauh panggang dari api pemilwa yang diselenggarakan Maret lalu ternyata mengalami pelbagai problematika dan kendala dibelakangnya.

Pertama, mengenai sepinya minat mahasiswa untuk berpartisipasi dalam pesta demokrasi ini ihwal tersebut dapat dilihat dari total 21.735 mahasiswa aktif UII semester genap ini, hanya sekitar 5000 mahasiswa saja yang turut andil menggunakan hak suaranya. Artinya, hanya sekitar 23.1% mahasiswa UII yang berpartisipasi menggunakan hak suara dalam pemilwa kali ini.

 

Akan tetapi Fakultas kedokteran (FK) menjadi penyumbang suara terbanyak dalam pemilwa di tingkat fakultas dengan persentase 71% dari seluruh mahasiswa fakultas tersebut. Sedangkan Fakultas Bisnis & Ekonomika (FBE) menjadi fakultas penyumbang paling sedikit dengan persentase 11.7% dari seluruh mahasiswa fakultas tersebut. Sedangkan  Fakultas Psikologi dan Sosial Budaya memiliki rata-rata persentase sebesar 15,6 %.

Menanggapi ihwal tersebut, ketua KPU selaku penyelenggara pemilwa KM UII mengatakan bahwa angka kumulatif itu secara umum sudah jauh lebih baik dari partisipasi di tahun sebelumnya karena meningkat sebanyak kurang lebih 1000 partisipan.

Tak hanya itu, Alfrigh Alaina selaku Ketua KPU Pemilwa KM UII 2020 menjawab bahwa proses publikasi telah dilaksanakan melalui media online dan juga bantuan rektorat melalui email yang dikirim kepada seluruh mahasiswa UII.

“KPU kami bekerjasama dengan lembaga-lembaga lainnya yang yang kedua kami meminta bantuan rektorat lewat email berhubung pemilihan kali ini online Jadi kami menggunakan usaha-usaha seperti itu ya mau nggak mau kita promosinya juga dari media online full,” ujar Alfrigh (26/03).

Tapi usaha yang dilakukan KPU dan jajaran sepertinya tidak berbuah maksimal lantaran menurut pengakuan beberapa mahasiswa yang kami wawancarai, mereka menjawab bahwa kegiatan Pemilwa ini nyaris tidak terdengar. Mereka juga mengaku tidak mendapat satupun email mengenai Pemilwa.

“Sudah melihat inbox email, tetapi tidak ada satupun judul yang menyinggung soal Pemilwa. Menurut aku cara ini tidak efektif karena banyak mahasiswa yang tidak terlalu peduli untuk mengecheck pesan yang masuk di email mereka” Ujar Adit (05/04) salah satu mahasiswa FPSB.

Begitu pula tanggapan yang dilontarkan salah satu narasumber kami yang tidak ingin disebutkan namanya. “Sosialisasi dengan cara seperti itu sangatlah biasa dan tidak akan mampu menarik minat dari mahasiswa untuk ikut serta”.

Malapetaka Ajudikasi
Masih berkenaan dengan sosialisasi, hal lain yang perlu diperhitungkan adalah perihal waktu pelaksanaan yang molor sangat jauh dari rencana awal. Sejatinya semua ini bisa jadi berawal dari kisruh teguran ajudikasi yang dilayangkan oleh segelintir mahasiswa FH UII, akhirnya berimbas pada diundurnya Pemilwa. Secara tidak langsung, kemunduran itu berakibat pada terlambatnya periodisasi kelembagaan UII yang mana akan mempengaruhi kredibilitas organisasi sebab, tindakan mereka yang cenderung tidak responsif.

Di sisi lain, seorang mahasiswa yang sebelumnya menuliskan artikel tentang sengkarut pemilwa UII yang diterbitkan di laman web kognisia.co mengomentari ihwal tersebut melalui wawancara dalam jaringan (01/04), Aryo Jippanola menyatakan bahwa mundurnya jadwal pemilwa hingga Sidang Umum (SU) KM UII akan menimbulkan rasa ketidak pastian di kalangan mahasiswa yang diakibatkan oleh kegagalan pemangku kebijakan di KM UII mengelola tanggung jawabnya.

“KPU, LEM , DPM tidak siap melakukan pemilwa dalam kondisi yang tidak normal ini sebab, ada sesuatu yang berubah dalam dinamika kemahasiswaan, program-program. Seharusnya dalam kondisi yang tidak normal seperti ini mereka untuk lebih kreatif tapi mereka tidak siap dan kepastian kepada mahasiswa sendiri.” Ujar Aryo (01/04) selain itu, menurut Aryo mundurnya penyelenggaraan pemilwa hanya sesuatu yang sia – sia sebab, ihwal tersebut sudah membuang banyak dana.

Aryo juga menambahkan, jika melihat KM UII dari kacamata FH, pemangku kebijakan itu hanyalah orang-orang normatif yang menjalankan tugas administrasi semata. Meminta mahasiswa untuk turut andil dalam pesta demokrasi, tetapi tidak mampu mengakomodir kebutuhan mendesak dari para mahasiswa.

Terlebih di saat pandemi seperti ini, banyak mahasiswa yang terdesak uang kuliah dan kesulitan untuk bertahan hidup namun, KM UII malah melakukan hal yang sia – sia, dilalah ia tidak merasakan dampak dari kehadiran Lembaga Eksekutif dan Legislatif selama menjadi mahasiswa. Hal ini pula lah yang dikritisi demokrasi deliberatif, dimana konstituen hanya memiliki hak untuk memilih, lalu setelah itu selesailah perannya secara konstitusional tanpa adanya pelibatan kebijakan lebih lanjut.

“Apa urgensi diadakannya pemilwa gitu untuk tahun ini? Menurut aku tidak ada sama sekali, kepentingan yang bisa dilakukan Dibiarkan aja gitu dalam arti kegiatan mahasiswa yang lain atau bisa disalurkan untuk mahasiswa untuk membayar spp misalnya. Khususnya untuk kondisi pandemi, peminat pemilwa yang kurang dan mekanisme yang gak jelas, kalau aku menginginkannya pemilwa tidak diadakan tahun ini.” Ungkap Aryo.

Namun seribu kali sayang, pihak yang bersinggungan dengan Pemilwa dan SU (DPM UII dan KPSU)  tidak menanggapi permintaan wawancara yang kami ajukan sampai artikel ini diterbitkan, wabil khusus Emil selaku Ketua KPSU UII yang hanya membaca pesan Whatsapp reporter kami. 



Apa Kabar FPSB?
Setali tiga uang dengan problematika general yang sudah dijelaskan sebelumnya, tidaklah lengkap rasanya jika tanpa membahas ihwal FPSB sebab, hanya 501 dari 3050 mahasiswa FPSB yang memilih calon legislatif fakultas. Artinya, hanya sekitar 15,8% mahasiswa yang menggunakan hak suaranya. Dan ihwal itu membuat FPSB jadi fakultas dengan perolehan suara kumulatif terendah.

Tak hanya itu, reporter kami juga turut mewawancarai calon legislatif terpilih dari FPSB melalui platform pertemuan dalam jaringan guna meminta tanggapan mereka perihal ihwal tersebut, pada (31/03). Menurut mereka sosialisasi terkait Pemilwa UII 2020 sangat minim yang pada akhirnya berdampak besar pada partisipasi mahasiswa. 

“Saya pribadi ya jujur sangat kecewa banget karena ibaratnya kita mau fair-fairan tapi kita bingung mau nyari suara. Sebenarnya yang pertama sosialisasi emang, saya setuju sama Imam. Karena emang bener-bener sosialisasi,” ujar Husnul Nurhadi, calon legislatif nomor urut 4.

Selain itu, keterlambatan dan rancunya proses pelaksanaan Pemilwa, seperti perubahan jadwal dan sosialisasi yang buruk baik ke peserta maupun ke mahasiswa juga menghasilkan tanda tanya dari calon legislatif kepada KPU terkait kinerja KPU dalam menyelenggarakan Pemilwa. Seperti yang disampaikan oleh Dio Andoni, caleg nomor urut 5. “Untuk sekelas KPU Pemilwa, disayangkan ketika nggak ada Plan B dan segala macem. Persiapannya terlihat kurang, sehingga dari sisi sosialisasi pun terkendala. Menurutku, tidak menyalahkan semua ke pemilwa ya, mencoba di ngertiin, tapi ya itu dampaknya.”

Tak ketinggalan Aura Nabila, caleg nomor urut 2 juga turut memberikan tanggapan, yang menurutnya pihak penyelenggara pemilwa tidak mampu mengkomunikasikan agenda mereka dengan baik ke seluruh lapisan mahasiswa. “Kurang diannounce. Kurang tanggap. Orang awalnya nggak tau ni ada ini, terus tau-tau kampanye, tapi nggak tau ni setelah ini ngapain gitukan.

Setali tiga uang dengan caleg lainnya, Imam Zadittaqwa caleg nomor urut 3 menyatakan bahwa kemunduran-kemunduran penyelenggaraan pemilwa KM UII murni disebabkan oleh kelalaian pihak penyelenggara. “Awalnya diburu-buru, tiba-tiba ditengah dibuka kembali pendaftaran. Pemilwa itu hal yang besar di UII tapi dibuatnya seperti main-main. Kacau yang kemarin itu. Bahkan sampai saya ngomong sama KPSU nya, KPSU nya ngomong udah sampe bosen ngomong sama KPU nya,” komentar.

Selain itu menurut Imam Pemilwa, KM UII tidak disosialisasikan dengan baik dan sedikit banyaknya membuat mahasiswa tidak tahu-menahu sama sekali mengenai Pemilwa serta urgensinya. “Seperti yang kita ketahui, pemilihan LEM aja harus mandatoris dan hal tersebut tentunya nggak banyak mahasiswa yang tahu. Jadi kayak mahasiswa tu mikirnya kayak ya rancu aja gitu pemilihannya. Tau-tau udah ada ketua LEM nya, padahal milihnya kapan nggak tau,” tutur Imam saat kami wawancarai.

Imam juga menambahkan bahwa selaku caleg yang bertarung dalam pemilwa UII 2020 tingkat fakultas, sistem pelaksanaan pemilwa UII sedari awal sudah sangat membingungkan. Juga tidak melibatkan mahasiswa lebih jauh karena menurutnya sistem pemilihan ketua LEM yang mengamini penunjukkan secara mandataris. Ditambah dengan tidak maksimalnya sosialisasi yang dilakukan pihak penyelenggara.

“Karena jujur, banyak mahasiswa yang nggak tau kapan pemilihan, dan di satu sisi juga mahasiswanya nggak tertarik. Ngapain juga milih-milih. Toh mereka ke pilih juga nggak ada untungnya sama kita. Nah itu yang kebanyakan terjadi di lingkup FPSB, terutama di lingkup teman-teman saya sendiri sih. Makanya bisa sampai dari 3000 jadi 500. Itupun 500 dari temen-temen yang kenal aja. Jadi temen-temen dari FPSB kurang dapat sosialisasi terkait pemilwa maupun kelembagaan,” ujar Imam.

Sayangnya, saat membahas ihwal partisipasi dan keterlambatan pemilwa. Ghiffari selaku caleg nomor urut 1 tidak memberikan tanggapan apapun sebab pergi ke toilet, dan belum merespon pesan singkat kami.

***

Dari data yang sudah kami suguhkan sebelumnya, sekiranya terlihat bahwa Pemilwa KM UII 2020 tetap tidak mampu menghadirkan dimensi deliberatif seperti yang digagas Jurgen Habermas  sebagai model demokrasi yang legitimasi hukumnya diperoleh melalui diskursus bersama yang terjadi dalam dinamika masyarakat, agar aspirasi mereka dapat dihargai secara merata. Karenanya, perlu ada ruang publik yang menjadi tempat untuk memusyawarahkan kebijakan politik. Model ini juga mengkritisi perilaku demokrasi yang tidak melibatkan konstituen dalam penempatan hukum yang menyeluruh. 

Jika diejawantahkan ke KM UII agaknya, KM UII sedang mengalami degradasi yang teramat serius.  Adanya debat kusir di ruang publik dan pertarungan kekuasaan demi ambisi dan keuntungan pribadi dan/atau kelompok seperti yang sudah dituliskan Aryo dalam artikelnya pada (20/03).

Sebab sangatlah penting bagi mahasiswa untuk berpartisipasi dalam kebijakan dan menciptakan ruang diskusi karena, menurut James S. Fishkin (2009), hal esensial dalam demokrasi adalah mampu memberikan “suara” kepada masyarakat dan menciptakan ruang untuk menyelesaikan permasalahannya. 


Reporter & Olah Data: Arie M. F. Cahya, Aurelia T. Nugroho, Lany D. Paulus

Rancang Grafis: Fadillah Awaliyah

Penyunting: Citra Mediant

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *