Kalau Bukan Buku, Lalu Apa Lagi?

(Citra Mediant)

Sutopo dan salah satu koleksi bukunya.

Buat anak-anak milenial, jangan lupa membuka-buka buku. Sebab buku adalah guru paling sabar.” – Sutopo, pengayuh becak perpustakaan.

Saban hari, sekitar pukul tujuh pagi, pria paruh baya itu mengayuh becaknya menuju LL Dikti. Sutopo biasanya mangkal sembari menunggu penumpang yang ingin menggunakan jasanya. Becak kayuh berwarna biru langit yang sudah lebih dari sepuluh tahun tetap setia menemani hari-harinya. Becak yang Sutopo bawa bukan hanya sekedar becak biasa, becak itu istimewa dan mungkin satu-satunya yang ada di Yogyakarta. Becak tersebut selalu penuh dengan beragam buku bacaan yang biasanya Sutopo letakkan di bagian belakang kursi penumpang, dan karena itu pula Sutpo menamai becaknya dengan nama nama becak perpustakaan.

Sebelum menjadi pengayuh becak, Sutopo berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS)  dari tahun 1977 dan bertugas di Kodim 0734 yang berlokasi di Jakarta. Sampai dengan tahun 2003, Sutopo pensiun dari pekerjaannya dan beralih profesi menjadi seorang pengayuh becak setahun kemudian. Sutopo juga menceritakan kilas balik mengapa ia bisa bekerja di lingkungan TNI sedangkan dia merupakan seorang PNS.

“Saya itu latar belakangnya dari jurusan seni mas, pendidikan terakhir saya itu jurusan Reklame Propaganda di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI, atau sekarang biasa kita kenal dengan sebutan ISI). Waktu itu Dandim di Kodim tempat saya bekerja sedang mencari seseorang yang bisa menggambar dan seseorang menyarankan saya, jadilah saya seorang honoran disitu,” kisah Sutopo.

Sutopo juga menceritakan awal mula bagaimana ia bisa menjadi seorang pengayuh becak selepas pensiun sebagai seorang PNS. Ia mengakui butuh waktu selama satu tahun selepas pensiun baginya untuk menimbang pekerjaan seperti apa yang harus ia lakukan demi menyambung dan melanjutkan hidup. sampai dengan tahun 2004, Sutopo memutuskan untuk menjadi seorang pengayuh becak. Menurut Sutopo, selain bisa menambah penghasilan, mengayuh becak juga membuat dirinya merasa lebih sehat dan membuat hari tuanya tidak terbuang sia-sia. Ia juga menuturkan dari pengalamannya mengayuh becak ia bisa bertemu banyak orang, yaitu para penumpang, dan ia menjadi memiliki banyak teman.

Pria ini tergerak untuk membuat becak perpustakaan karena ia merasa prihatin dengan kondisi anak-anak muda dan orang di sekitarnya yang sudah tidak begitu tertarik dengan buku. Padahal menurut Sutopo, buku  merupakan benda yang dapat mengubah kehidupan seseorang.

Koleksi buku yang dimiliki Sutopo hampir tiga ratus. Ia menyimpannya di becak dan di rumahnya yang terletak di gang kecil sebrang hotel Pop, Cokrokusuman, Yogyakarta, dan sekitar seratus buah selalu ia bawa dengan becak perpustakaannya di belakang bangku penumpang yang sudah lusuh. Ia mendaku bahwa, banyak orang dan komunitas yang menyumbangkan buku kepadanya, mulai dari pribadi, komunitas sampai penerbit beberapa kali menghibahkan buku kepadanya

“Saya punya banyak buku, tapi kalau saya baca sendiri kan ndak lazim toh” ujar, Sutopo.

Radio usang, dan koleksi buku, Sutopo.

Sore itu, saat ditemui di sebrang LL Dikti, Sutopo, yang sedang beristirahat sangat sumringah bercerita dengan kami.  Ia juga mengatakan bahwa banyak sekali orang yang mendatangi becaknya walau hanya sekadar membaca buku, namun pada saat pandemi korona seperti ini tidak banyak yang mampir ke becaknya dan menjadi pelanggannya.

Semenjak becaknya tersebar luas di media sosial, silih berganti tamu berdatangan dengan berbagai macam tujuan pula, mulai dari sekadar membaca sampai meliput becak perpustakaannya mulai dari  media lokal hingga nasional. Dan semenjak itu pula semakin banyak pengunjung yang ia layani untuk membaca, mulai dari orang tua murid sekollah dasar yang meluangkan waktu untuk sekadar membaca buku, teman sejawat, atau turis.

“Buku itukan jendelan dunia, apa saja ada di buku” ujuar, Sutopo sembari tersenyum.

Potret, Sutopo di majalah.

Keprihatinannya dengan tingkat literasi yang semakin menurun, becak perpustakaan yang bukunya boleh dibaca tanpa harus membayar juga bertujuan untuk menarik minat baca teman-teman seprofesinya, spserti pengayuh becak, pedagang kaki lima, dan orang-orang yang secara realitas tidak memiliki waktu luang lebih untuk datang ke perpustakaan, alternatif  yang ia berikan juga merupakan bagian untuk berpartisipasi terhadap hidup orang banyak.

“Selain anak-anak, ya teman-teman yang narik becak dan pemungut barang bekas juga banyak yang mampir dan saya ajak kesini”

Sutopo juga menyadari, bahwa gawai elektronik dan internet sudah banyak mengubah pola hidup manusia. Semua bisa dilakukan dengan mudah, namun pria paruh baya itu juga menyayangkan karena kehadiran gawai tersebut banyak orang yang mulai meniggalkan buku. Orang –orang lebih  tertarik dengan gawainya dan enggan meluangkan waktu untuk membaca buku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *