Gagas Opini

Beasiswa: Prestasi atau Tekanan?

Beasiswa

Oleh: M. F. Prima Sakti

Kehidupan perkuliahan merupakan hal yang melelahkan. Tekanan akademik terkadang membuat mahasiswa merasa terbebani. Tugas yang diberikan oleh dosen terkadang bertumpukan dengan tugas yang lain. Belum lagi kegiatan di luar kampus, seperti organisasi yang terkadang dapat membuat jadwal seorang mahasiswa berantakan. Semua tekanan tersebut dapat membuat mahasiswa stres dan depresi. 

Berprestasi merupakan impian semua mahasiswa. Namun, bagaimana bisa menjadi berprestasi jika banyak tekanan yang dihadapi? Akankah keduanya dapat berjalan dengan seimbang atau sebaliknya? Siapa sangka banyak mahasiswa penerima beasiswa yang memiliki tekanan lebih, justru dapat menjadi mahasiswa berprestasi.

UII memang memiliki beberapa beasiswa yang diberikan kepada para mahasiswanya. Beasiswa Santri Unggulan misalnya, beasiswa ini cukup istimewa selain karena potongan seluruh biaya perkuliahan hingga lulus, para penerima beasiswa ini diharuskan menjadi santri di Pondok Pesantren UII. Para santri Pondok Pesantren UII juga diwajibkan untuk mengikuti perkuliahan yang ada di sana. Dalam kata lain, mahasiswa penerima Beasiswa Santri Unggulan memiliki kuliah ganda. Dapat dibayangkan betapa sibuknya mereka, belum lagi ketika mereka bergabung dengan kegiatan maupun organisasi yang ada di kampus.

Banyak santri Pondok Pesantren UII yang berprestasi di tengah tekanan serta kesibukan mereka. Di antaranya Jalaluddin Rizqi Mulia, mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional angkatan 2021 penerima Beasiswa Santri Unggulan. Jalal menerima kesempatan untuk mengikuti program IISMA di Yale University, Amerika Serikat. Program IISMA merupakan program mobilitas internasional incaran para mahasiswa dengan sistem seleksi yang sangat ketat. 

Selain menjadi santri di Pondok Pesantren UII, Jalal juga aktif di Student Journalists Community (SJC) Bidang Humas UII, volunteer di Lembaga Kebudayaan Embun Kalimasada YBW UII, dan beberapa waktu juga sibuk di Direktorat Kemitraan/Kantor Urusan Internasional UII.

Muncul pertanyaan bagaimana ia mengatur waktu dan tetap berprestasi di tengah semua kesibukan itu. Menurutnya motivasi dan kemauan adalah yang utama. Ketika sebuah tujuan  telah ditentukan maka akan ada jalan yang terbuka. 

“Aku percaya kalau udah ada kemauan, pasti ada jalan. Artinya, sesibuk apapun, pasti progresnya akan selalu diarahkan ke tujuan yang mau dicapai. Buat aku pribadi, kebetulan memang kepikiran untuk ikut IISMA dari semester 1, jadi pelan-pelan sudah persiapan, terutama dalam menentukan alasan ikut kegiatan itu dan belajar tes Bahasa Inggris,” tutur Jalal pada Jumat (17/05).

Selain itu, dalam wawancaranya (17/5) ia juga menyampaikan caranya mengatur waktu. Perencanaan yang baik merupakan awal yang menentukan. Membuat susunan jadwal rangkaian kegiatan selama seminggu ke depan menggunakan Google Calendar atau minimal mencatatnya di note Whatsapp. Jalal juga berbagi tips agar tetap berprestasi di tengah tekanan akademik. Cari mentor, kawan atau orang dengan visi yang sama untuk diajak berjuang bersama-sama. Meskipun kegiatan yang akan diikuti bisa saja berbeda, tidak masalah, selagi memang semangat selama berprosesnya bisa terjaga.

Selain Jalal, ada Nayla Ilma Kauna yang juga merupakan penerima Beasiswa Santri Unggulan angkatan 2022. Mahasiswa Ekonomi Pembangunan IP ini berhasil menjadi Juara 1 dalam ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) tingkat Universitas Islam Indonesia dan mendapat Juara 4 tingkat Wilayah DIY. Sama halnya dengan Jalal, Nayla juga terlibat aktif di beberapa organisasi seperti English Debating Society (EDS UII) dan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI UII).

Nayla juga selayaknya santri di Pondok Pesantren UII yang memiliki tekanan perkuliahan lebih. Walau begitu, ia juga tetap bisa berprestasi di tengah kesibukan yang ia hadapi. Menurutnya ada dua cara yang sering ia terapkan untuk mengatur waktunya, yaitu skala prioritas dan mengefisienkan waktu. 

Hal pertama adalah menentukan prioritas utama yang dalam konteksnya berarti kuliah kampus dan kuliah pondok. Seterusnya ia harus mengefisienkan waktu belajar agar waktu di luar kelas bisa ia gunakan untuk kegiatan lain seperti organisasi maupun persiapan lomba. Dengan begitu, apa yang ia dapat bisa tetap stabil antara nilai akademik dan prestasi non-akademik. 

Di balik semua prestasi tersebut, ternyata ada tekanan yang mereka rasakan. Banyak mahasiswa regular yang mengeluhkan kesibukan di perkuliahan. Baik karena banyaknya tugas, lingkungan pertemanan, hingga karena dosen. Apa yang mahasiswa regular keluhkan, Jalal dan Nayla juga ikut merasakannya. Ditambah mereka memiliki kontrak dengan Universitas agar dapat memberikan hal yang lebih. 

“Tentunya pernah ya ngerasa ke pressure, apalagi ketika musim ujian, karena musim ujian itu rasanya kayak ujiannya nggak selesai-selesai, karena ada satu minggu ujian pondok, habis itu harus lanjut dua minggu bahkan tiga minggu ujian kampus, jadi bisa kayak satu bulan itu full isinya ujian aja.” keluh Nayla pada Kamis (16/05).

Bahkan dalam wawancara, Jalal terkadang mengaku enggan melakukan apa-apa. Malas melakukan apapun ketika sedang merasa lelah. Syukur-syukur bisa dialihkan untuk istirahat, tapi terkadang malah doom scrolling media sosial.

Agar bisa menjadi berprestasi, semua diawali dengan planning yang tepat dan motivasi yang kuat. Jika sudah memiliki alasan serta motivasi yang kuat, pasti akan ada jalan yang terbuka. Setelahnya adalah langkah kedepan yang menentukan. Semua angan akan menjadi kenyataan jika itu diagendakan. Selain itu, jika ingin berbeda dengan orang lain seperti halnya berprestasi, haruslah dengan usaha yang berbeda dengan mereka. Jika mereka tidur delapan jam, maka cukup enam jam untuk tidur dan bermimpi, sisanya gunakanlah untuk menggapai mimpi.


Penyunting: Paramitha Maharani

Grafis: Tara Safanah Henardi