Peduli Melalui Komunitas

Pada 17 Agustus 2017 lalu, Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) merilis daftar peringkat perguruan tinggi swasta berdasarkan hasil Evaluasi Kinerja Pengabdian Kepada Masyarakat (ABDIMAS) serta Evaluasi Kinerja Penelitian Perguruan Tinggi. Universitas Islam Indonesia (UII) berhasil menempati peringkat pertama.

Implementasi tri dharma perguruan tinggi itu juga terlihat di lingkungan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB). Beberapa komunitas di bawah naungan Himpunan Jurusan adalah contohnya.

Pertama adalah Komunitas kecil yang biasa disebut Adarma. Namanya sendiri diambil dari bahasa sansekerta yang berarti mengabdi. Komunitas ini berdiri sejak tahun 2014 dan diresmikan tahun 2018. Komunitas ini sebagai bentuk pemberian dan pengabdian terhadap masyarakat Yogyakarta. Hal itu diungkapkan oleh Gilang Eka Pramudita selaku ketua Adarma ketika ditemui pada Minggu (23/06) di Kampus Terpadu, Universitas Islam Indonesia.

“Kalau kegiatan itu sebenarnya kita  yang sudah jalan ada dua. Pertama sego sedulur sama sahur on the road, lalu yang kedua as-siddiq. ” ucap Gilang.

Sego sedulur merupakan kegiatan membagikan nasi ke kaum duafa di pinggir jalan satu bulan sekali di daerah Sleman pada hari Jumat. Ada tiga jalur yang disusuri yaitu daerah Magelang, pelataran jalan Universitas Gadjah Mada, dan daerah Janti dengan titik temu di Malioboro. Sahur On the Road dilakukan di bulan suci Ramadhan dengan mekanisme sama. Kegiatan lainnya ialah As Siddiq yang merupakan akronim dari Anak Psikologi Mendidik.

“Kita memang gak hanya membagi-bagikan bantuan berupa makanan aja. Kita juga ada kegiatan mengajar baca tulis Al-qur’an di masjid daerah Cangkringan,” tambah Gilang.

Untuk dana yang digunakan sendiri, Adarma tidak memperoleh dana secara langsung dari Fakultas maupun Universitas. Ini dikarenakan mereka berada dibawah nama HIMAPSI. Semua dana guna berlangsungnya kegiatan mereka peroleh dari sukarela mahasiswa Psikologi, pun mereka juga tidak menolak untuk menerima bantuan dari pihak lainnya, “Dosen juga ada yang memberikan bantuan. Karena kita sendiri dasarnya memang menerima semua bantuan dari pihak manapun,” lanjutnya.

Tidak hanya mahasiswa Psikologi, mahasiswa Hubungan Internasional juga memiliki komunitas yang bergerak di hal serupa. Komunitas itu bernama Sedekah Sekitar Universitas Islam Indonesia. Komunitas yang berdiri pada periode 2016/2017 ini berawal dari keinginan yang ingin membuat kegiatan peduli terhadap lingkungan sekitar kampus yang tidak hanya sebatas dari proker himpunan mahasiswa jurusan saja.

Sedekah sekitar UII bergerak atas inisiatif untuk melakukan pengabdian masyarakat yang tidak hanya berpangku kepada himpunan mahasiswa jurusan masing-masing, namun sebagai tempat untuk mengembangkan diri, menghasilkan perubahan, dan memberikan dampak positif terhadap lingkungan sekitar. Pandangan ini memunculkan empat nilai yang dipegang yaitu humanity, profesionalism, mutual respect, dan independent.

“Jadi kalau boleh cerita sedikit di sedekah sekitar UII ini memiliki nilai yang kita anut, nah pengalaman saya pribadi saya lihat kegiatan komunitas sosial kurang menawarkan values,” ungkap Keni Meigar selaku Ketua Sedekah sekitar UII periode 2019/2020 yang ditemu pada hari Minggu (23/6).

Keni Meigar, selaku Ketua Sedekah sekitar UII periode 2019/2020 Foto: Denis Pramesti

Bentuk  kegiatan Sedekah sekitar UII bernama Cus Langsung Blusukan ke Kampung (CLBK), kegiatan yang berupa membagikan sembako sebulan sekali ke masyarakat yang membutuhkan berdasarkan survey  dalam bentuk data yang diperoleh dari kepala desa maupun saksi lain sekitar Degolan, Lodadi, dan sekitarnya. Kegiatan lain ialah membagikan nasi bungkus setiap hari Jumat kepada masyarakat sekitar kampus terpadu UII.

“Kita bagiin sembako enggak langsung terjun ke masyarakatnya. Jadi kita berdasarkan survey dulu, cari data siapa saja yang berada di bawah garis kemiskinan. Berdasarkan survei itu nanti baru turun ke masyarakatnya,” lanjut Keni

Sedekah sekitar UII berupaya mengubah mindset Mahasiswa bahwa sedekah tidak  hanya  dilakukan melalui materi melainkan dapat dilakukan melalui ilmu maupun jasa. Cerminan ini berdasarkan program kerja mereka yang bertajuk Hari Obrolan Nasional (Harbolnas). Kegiatan ini berupa kajian yang mementingkan melihat fenomena sosial dengan mengundang pembicara ahli dalam bidang yang menjadi tema kajian.

Sebagai komunitas, Sedekah Sekitar UII juga tidak hanya ingin beranggotakan mahasiswa saja. Muhammad Zulfikar Rakhmat ditunjuk sebagai dosen pembimbing dari komunitas ini. Zulfikar mengungkapkan bahwa kegiatan komunitas ini lebih banyak mendapatkan bantuan dana dari pihak luar, bahkan sudah ada yang menjadi donator tetap.

“Sebenarnya dana yang diperoleh lebih besar dari pihak yang ada di luar. Ada juga orang yang berkontribusi secara personal. Jadi tiap bulan kita ada laporan jumlah nominal dan berapa orang yang berkontribusi.” Ungkap Zulfikar saat ditemui di ruang kerjanya pada Senin (24/6) lalu.

Muhammad Zulfikar Rakhmat, Dosen Pembimbing Sedekah Sekitar UII Foto: Denis Pramesti

Komunitas ini terbuka untuk semua kalangan  lembaga atau himpunan. Sedekah sekitar UII membuka kerjasama ketika ada yang melakukan kegiatan sosial tetapi masih kurang paham terhadap format kegiatan sosial. Menurut Zulfikar Rakhmat harapan kedepannya Sedekah sekitar UII tidak hanya berjalan di lingkungan sekitar Kampus Terpadu melainkan juga dapat mencakup kampus UII yang berada di daerah Condongcatur,dan Taman Siswa. (Denis Pramesti, Siti Fauziah, Durotul Karimah, & Ladhena )

Foto: Denis Pramesti

Penyunting: Karel Fahrurrozi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: