Plagiarisme: Dosa Besar Akademisi

“Plagiasi adalah dosa terbesar dalam kehidupan kampus. Akademisi yang melakukan plagiasi, artinya ia membohongi dirinya sendiri,”

Plagiasi, semacam tindakan korupsi intelektual yang dilakukan oleh kalangan akademisi. Hal itu disampaikan langsung oleh Rocky Gerung dalam sebuah kesempatan pada Pesta UII 2019. Rocky mengkritisi para akademisi yang masih melakukan plagiasi tanpa perasaan bersalah.

Rocky melihat bahwa tindakan plagiat merupakan tindakan yang tidak profetik dan tidak progresif. Baginya, tindakan plagiat berarti menyampingkan amanah universitas. Alih-alih melakukan tindakan plagiat, Rocky mengajak mahasiswa untuk menjadi mahasiswa yang berpikir kritis dalam perdebatan teori, rumus, dan dalil.

Selain itu Rocky menyarankan agar mahasiswa baru mencari lawan yang lebih pintar maupun setara dalam beradu argumentasi. Ia juga menegaskan bahwa hal-hal terkait plagiat ini perlu diperhatikan sejak menjadi mahasiswa baru. 

Rocky juga mendorong mahasiswa untuk bersikap kritis. Misalnya, di era internet seperti sekarang terdapat dosen yang pengetahuannya tertinggal akibat tidak mengikuti perkembangan zaman. Dosen dengan tipe seperti itu akan kalah dengan mahasiswa yang mengakses internet terlebih dahulu sebelum kuliah berlangsung. Rocky mengajak mahasiswa untuk dapat mengkritik secara sopan ketika mengetahui dosen yang tertinggal pengetahuannya. Rocky mengutarakan pendapatnya terkait kondisi yang terjadi saat ini bahwa  universitas bukan centre of excellence melainkan dapat belajar sendiri melalui internet.

“Universitas adalah tempat orang menggeleng kepala, bukan mengangguk-ngangguk. Sebab ilmu itu harus dimungkinkan untuk dinyatakan keliru. Mesti ada orang yang menggeleng terhadap uraian dosen atau uraian sesama mahasiswa. Itu pentingnya argumentasi”

Rocky menegaskan agar mahasiswa lebih mengedepankan perdebatan secara argumen bukan sentimen. Rocky memberikan contoh jika mahasiswa akan terjun ke parlemen, DPR misalnya, mutu argumentasinya akan membekas karena sudah dilatih untuk berargumen dengan baik.

Dengan bekal itu saya percaya kalau saudara masuk parlemen, misalnya ada yang enggak mau jadi dosen, ada yang enggak mau jadi pengusaha, mau jadi anggota DPR tetap terlihat bahwa mutu argumentasi anda di parlemen, nanti 10 tahun ke depan misalnya, membekas karena Anda di-train universitas untuk duel argument bukan duel sentiment. Yang ada di kita hari ini adalah kegiatan memborong argumen ke ruang publik,” jelas Rocky menyeringai.

Rocky juga sempat bercerita bahwa ia bertemu dengan salah satu dosen dan mengobrol tentang kualitas anggota DPR saat ini. “Tadi saya bicara dengan salah satu dosen saudara. Kalau saudara IP-nya bagus, pemerintah aman. Kalau IP saudara buruk, pemerintah cemas. Bukan karena anda tidak bisa belajar, tapi ada kemungkinan anda jadi anggota DPR kalau IP-nya buruk, anda jadi anggota DPR. Lalu mulai mengkritik pemerintah, itu pandangan yang sudah jadi umum. Seolah olah kalau IP-nya kurang pasti jadi anggota DPR. Karena itu yang kita saksikan tiap hari,” tutur Rocky.

Padahal dalam sejarah dan filsafat politik, anggota DPR itu adalah kelas paling pintar dari masyarakat. “Karena menjadi anggota DPR, ia harus memikirkan secara detail kecerdasan bangsanya, kemakmuran bangsanya, keadilan bangsanya. Ini dia mesti yang paling pintar  di antara warga negara, baru ia boleh menyatakan ‘saya anggota DPR’, karena saya mewakili seluruh kecemasan kalian tentang keadilan, kemakmuran, kemandirian. Yang terjadi hari ini adalah sebaliknya. Yang bodoh, yang jadi anggota DPR. Akibatnya apa? Kebijakan ditukar tambahkan di bawah meja tanpa tersorot oleh kepentingan publik. Itu yang disebut akal bulus politisi yang pasti akan berujung di KPK,” jelas Rocky.

Sebelum talk show berakhir, sesi diskusi dibuka sebagai wadah bagi mahasiswa untuk bertanya maupun memberikan bantahan terkait hal-hal yang sudah disampaikan. 

“Nanti ada tanya jawab silahkan, siapa yang mau bertanya, siapa yang mau membantah saya. Saya enggak punya sepeda untuk kasih saudara hadiah. Tapi saya akan ingat mereka yang mengajukan argumen secara cerdas. Terima kasih,” kelakar Rocky. 

Dalam sesi tanya jawab pertama, Muslimin Nur Hidayatullah dari Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan mengajukan pertanyaan tentang bagaimana sikap mahasiswa yang ingin terus mengeluarkan aspirasi. Menurut Rocky, berpendapat artinya berbeda pendapat, seseorang hanya berpendapat kalau dia ingin mengajukan perbedaan pendapat. “Jadi kalau ada yang berbicara, ‘wah saya setuju dengan pikiran bapak’, itu bukan pendapat. Itu menyetujui pendapat saya. Pendapat anda hanya disebut pendapat kalau anda berbeda dengan saya. Jadi pendapat hanya disebut pendapat bila dimaksudkan untuk membatalkan pendapat lain,” jelas Rocky.

Pada sesi kedua tanya jawab, antusias mahasiswa baru untuk bertanya semakin besar. Hal ini terlihat dari banyaknya mahasiswa yang mencoba maju dan berebut pertanyaan. Namun, waktu yang terbatas membuat pertanyaan sesi kedua ini dibatalkan.

Terjadi hal unik dalam penutupan talk show ketika Rocky diberi kenang-kenangan berupa plakat oleh perwakilan mahasiswa. Rocky menerima plakat tersebut dan mengabadikannya dalam foto. Namun, ia mengembalikan plakat tersebut kepada LEM UII. Baginya, memberikan kembali plakat ini dapat menjadi bukti bahwa ia pernah hadir di hadapan mahasiswa Universitas Islam Indonesia (Denis Pramesti & Rayhana)

Penyunting: Salsabila Azzahra

Repoter bersama: Tim Liputan Khusus Pesta 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *