Oleh: Nazhifah Aulia Anwar
Kisah cinta Ainun dan mantan kekasihnya pada film Habibie Ainun 3 sukses membawa saya ke Studio Alam Gamplong Yogyakarta. Film dengan latar tahun 1950 an, membutuhkan latar bangunan yang vintage dan Studio Alam Gamplong mampu mewujudkan romansa 1950 an. Terletak di Dusun Gamplong, desa Sumber Rahayu, Moyudan, Sleman, Yogyakarta. Pada tahun 2017, studio ini dibangun oleh Mooryati Soedibyo dan Hanung Bramantyo dengan tujuan awal sebagai lokasi syuting film “Sultan Agung The Untold Love Story”. Wisatawan dapat menyambangi studio ini mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Tiket masuk dibandrol dengan harga 10 ribu rupiah untuk satu tiket studio dan 35 ribu rupiah untuk lima tiket studio.
“Estetik”, itulah kata yang sering dipakai zaman sekarang. Tempat-tempat unik seperti Studio Alam Gamplong pantas dikategorikan estetik. Bukan tanpa alasan, tempat ini menyajikan beragam bangunan klasik dengan beragam budaya dalam satu lokasi. Bahkan terlihat beberapa pengunjung yang niat sekali membawa tripod untuk mengabadikan momen di setiap sudut Studio Alam Gamplong.
Setiap Sudut Studio Alam Gamplong
Sebagai penggemar film Habibie Ainun, tentu saja studio yang pertama kali saya sambangi ialah indekos yang tempat Ibu Ainun tinggal saat berkuliah di Universitas Indonesia (UI). Studio ini menyatu dengan Mirama Café yang di dalamnya terdapat mini bar, dilengkapi dengan koleksi minuman alkohol dan telpon kuning yang ciamik sekali warnanya. Di dalam studio ini, juga dibangun set meja kerja Ibu Ainun, mikroskop, bahkan cadaver sintetis yang sempat muncul dalam salah satu adegan praktek di film Habibie Ainun 3. Putaran trailer film juga turut mendukung saya untuk bernostalgia ke dalam pesona Ainun dan Ahmad.
Kesan pertama tentu saja sangat penting. Apalagi, mengenai penampilan yang menarik. Trem, transportasi yang ada di Batavia (sekarang Jakarta) pada tahun 1869 bisa dibilang menjadi ikon dari Studio Alam Gamplong. Bukan tanpa alasan, Stasiun Trem Uap selalu ramai oleh pengunjung dengan rute Stasiun Soerabaja hingga Antiques Gallery selama 15 menit. Tentu saja menjadi pengalaman santai nan berkesan selama menikmati Studio Alam Gamplong dengan Trem ini.
Pasar Kembang atau biasa disingkat Sarkem oleh pribumi Jogja juga dihadirkan versi lawasnya. Sarkem lama ini bisa dikunjungi dari pintu masuk, letaknya di belakang bangunan rumah kayu. Jembatan dan gapura sarkem dibangun sederhana dan membuat saya yang mudah nyasar ini menjadi merasa tersesat di sebuah pemukiman kumuh. Warung Jamu Yu Tandur memanggil sebagian diri saya yang jompo ini, tiba- tiba saja ingin mencoba jamu beras kentjur ala Yu Tandur.
Bangunan dengan nama Marina yang berhasil saya abadikan dengan apik meninggalkan tanda tanya untuk saya. Seperti mini bar dengan perpaduan warna huruf merah kuning dan papan nama Marina, terlihat apik dan sedikit cocok sebagai rumah bordil. Ah, tapi sudahlah saya ingin tetap husnudzon.
“Ah, kayaknya itu tempat jual aksesoris deh,” begitu pikir saya ketika saya perbesar gambar itu sambil memikirkan ide untuk melanjutkan tulisan ini.
Salah satu hal yang membuat saya bersemangat ialah foto diatas foto Marina. Seingat saya, pernah menyaksikan adegan Ainun saat masih menjadi mahasiswa Kedokteran UI, menolong anak kecil yang terkena penyakit malaria. Kemudian saya salah tingkah mengingat awal mula Ainun akhirnya tertarik dengan Ahmad. Lokasi tersebut merupakan tempat dimana Ainun disekap oleh preman kampung dan kemudian ditolong oleh Ahmad.
Bioskop Merapi dapat anda temui tidak jauh dari lokasi sarkem lama. Bangunannya paling besar dan cukup megah. Waktu itu, saya tidak masuk kedalam karena pintunya terkunci. Poster film Ramadhan Ramona (1992) menggugah perhatian saya karena visual aktor yang enak dipandang. Disusul dengan poster film Darah Muda (1997) yang terlihat sangat merah dan terakhir yang paling cukup lucu yakni poster film Setan Kredit (1982).
Disebelah bioskop Merapi, dapat ditemui Toko Berkah yang menjual mainan dan jajanan jadul. Menarik sekali, ingin rasanya mampir tetapi saat itu sudah pukul 4 sore dan saya masih ingin berkunjung studio lain. Sore itu, Toko Berkah cukup ramai disambangi oleh bocil. Lucu rasanya melihat para bocil meminta dan memohon kepada orang tua nya untuk membeli mainan di Toko Berkah. Ditambah dengan slogan “Djoeal Mainan dan Djadjanan Djadoel” membuat toko ini semakin terlihat beda dari yang lain.
Seandainya toko Planet Toys itu dibuka, mungkin saja sudah diserbu para bocil. Termasuk saya yang penasaran bagaimana isinya dan beruntung apabila menemukan barang unik dengan harga ekonomis. Bagaimana tidak, lihat saja dari representasi tokonya yang berwarna biru terang. Ditambah dengan papan nama asimetri biru dan tulisan kuning yang menambah kesan bahwa toko ini benar menjual mainan. Terpaku melihat papan bentuk roket yang ditempel di atasnya membuat kesan pertama saya menjadi menarik dan lucu.
Rumah Bumi Manusia
Siapa yang tidak tahu film Bumi Manusia (2019) yang diadaptasi dari novel karya Pramoedya Ananta Toer. Film yang menampilkan kisah rumit antara pribumi dan londo yaitu Minke (Iqbaal Ramadhan) dan Annelies (Mawar Eva De Jongh) ini berhasil membuat penonton gagal move on. Sayang sekali, tidak sempat mengabadikan foto di dalam rumah tersebut karena sudah waktunya tutup dan kehabisan baterai kamera. Tiket studio rumah Annelis sudah termasuk diskon 10% jika ingin menyantap hidangan di warung depan lokasi tersebut.
Saat memasuki halaman rumah, kita akan disambut dengan kereta kuda yang kelihatannya sudah tua tetapi elegan pada zamannya. Sebuah gazebo berukuran sedang yang sangat cantik dengan desain khas Belanda. Saat masuk kedalam rumah, jujur saya merasa tidak nyaman, seperti ada aura mistis dan terasa sesak. Mungkin saat itu karena sudah sore dan hanya ada lima orang pengunjung di dalam rumah besar tersebut. Pengunjung lain terlihat bersantai di serambi depan rumah sambil berbincang dengan pengurus rumah.
Secara keseluruhan, rumah Annelies ditata dengan apik, rapih, dan semirip mungkin dengan rumah bernuansa Belanda. Dari lantai satu sudah terlihat ornamen lampu jadul, yang paling teringat oleh saya ialah telepon jadul yang sistemnya masih memutar ring angka. Dapur yang dilengkapi properti kulkas jadul berwarna kuning, unik sekali.
Di lantai 2 terdapat ruang tamu, kamar tidur, dan ruang kerja. Kamar tidur di tata dengan lemari besar, nakas besar, meja rias, dan seprai berwarna merah yang terlihat elegan. Di ruang kerja terlihat sejoli yang sedang sibuk mengabadikan momen bersama di ruangan dengan properti perpustakaan mini yang terlihat lengkap. Hangat sudah sore itu ketika saya melihat pengunjung yang sangat menikmati rumah Annelies dan menghilangkan kesan mistis yang saya katakan di awal.
Kunjungan terakhir saya berlabuh pada wahana baru, Rumah hantu. Ya, anda tidak salah dengar. Ada wahana rumah hantu yang wajib anda coba sendiri. Saya tidak mau menceritakannya karena saya ingin anda ikut merasakan rasa diikuti seperti yang saya rasakan. Rumah hantu tersebut bernuansa jawa dan penjajahan.
Saya masuk bersama teman saya dan sejoli lain dan mengikuti di belakang mereka. Kami dipandu oleh seseorang yang seperti dukun dengan suaranya yang serak dan disuruh membayar seikhlasnya. Katanya, sebagai persembahan. Bagi yang penakut, mungkin cukup sekali saja mencoba wahana tersebut.
Sayang sekali waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, waktunya Studio Alam Gamplong ditutup. Saya pun bergegas keluar wisata tersebut sembari memegang satu tiket yang belum terpakai. Antiques Gallery, padahal lokasi tersebut bersebelahan dengan lokasi indekos Ainun. Tetapi, saat itu Antiques Gallery sedang ramai. Jadi, saya menunda untuk mengunjunginya yang pada akhirnya tidak sempat. Tidak apa-apa lain kali saya akan menikmati lebih santai lagi.
Keseluruhan perjalanan ini benar-benar mewujudkan mimpi saya untuk berkunjung ke lokasi set syuting film Habibie Ainun 3. Senang rasanya ditambah bisa mencoba trem, galeri, serta wahana lain. Studio Alam Gamplong memiliki pesonanya sendiri yang melekat. Rasa ini juga terlihat oleh pengunjung lain. Dengan tema vintage, Studio Alam Gamplong mampu menciptakan romansa jadul yang sangat berkesan.
Penyunting: Paramitha Maharani
Grafis: Dhiya Najah Fitria