Buntut Panjang Verifikasi, LEM FPSB Batalkan Dolanan 2019

Dolanan 2019 bentukan LEM FPSB resmi dibatalkan. Pembatalan itu terjadi karena ketidakjelasan proses verifikasi bersama DPM FPSB. Selanjutnya kegiatan itu diganti dengan FPSB Fun Day terhitung mulai 29 November sampai 1 Desember lalu.

“Terjadi proses pending pada verifikasi yang telah dijalankan panitia Dolanan 2019 bersama DPM, pun tidak ada solusi. Permasalahan periodesasi, terlalu sibuk ngurusin masalah LPJ. Akhirnya panitia malah jadi tidak bekerja dengan luwes menurut saya,” jelas Muaf Saidi selaku Ketua LEM FPSB kepada reporter Kognisia pada Kamis (29/11) lalu.

Mu’af juga menjelaskan jika permasalahan pada Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ), seharusnya bisa dilaksanakan dengan menerima LPJ dari LEMF secara bersyarat dengan catatan ada satu Program Kerja (Proker) yang belum tuntas. Namun karena tidak menemukan solusi yang disetujui bersama. Akhirnya LEMF menawarkan pilihan kepada kepanitiaan Dolanan 2019 untuk tetap melanjutkannya atau tidak.

Mu’Af Saidi, Ketua LEM FPSB

“Kita tawarin ke panitia untuk melanjutkan atau tidak karena mandeknya proses verifikasi dan pengajuan dana. Lalu mereka memilih untuk tidak melanjutkan karena merasa tidak sanggup, kami pun juga tidak memaksa. Tapi kami dari LEM tidak berhenti di situ dan berencana agar kegiatan serupa tetap dilaksanakan,”

Mu’af pun mensiasati agar kegiatan ini bergerak dengan sistem Volunteer, bukan kepanitiaan. Kegiatan serupa dibentuk kembali menjadi FPSB Fun Day (FFD). Ia juga menjelaskan bahwa awalnya kegiatan ini akan dilaksanakan pada bulan Oktober, namun LEM FPSB baru bisa menggunakan GOR di bulan November. Kondisi inilah yang membuat kegiatan FFD diundur dengan alasan untuk mempertahankan GOR di bulan November.

Suasana FPSB Fun Day

Keterbatasan waktu inilah yang menjadi salah satu alasan dari dibentuknya volunteer FFD 2019. Dengan dibentuknya volunteer, prosedur untuk melakukan verifikasi ke Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) ditiadakan, sehingga mereka hanya perlu melakukan konsultasi dengan LEM saja dan bentuk pertanggungjawabannya pun hanya antara LEM dengan DPM.

Selain itu sistem volunteer ini diberlakukan agar mereka dapat menghemat waktu dengan tidak melakukan interview untuk calon anggotanya. “Ketika ini jadi volunteer, kita memangkas beberapa birokrasi. Kalo jadi panitia kita susah di birokrasi nya dengan DPM,” lanjut Mu’af.

Keterbatasan waktu tentu juga menjadi masalah bagi sistem promosi dan publikasi kegiatan FFD. Penyebaran yang tidak masif membuat banyak dari mahasiswa FPSB yang tidak mengetahui acara tersebut. Salah satu faktornya karena FFD juga tidak memiliki media sosial khusus untuk mempublikasikan acara dan kurangnya persiapan yang dilakukan oleh volunteer. Ayudya Puspa, Kepala Departemen Kreativitas Mahasiswa (Krema) LEM FPSB menambahkan bahwa terdapat permasalahan internal yang mengakibatkan perubahan pada pelaksanaan acara.

Ayudya Puspa, Kepala Departemen Kreativitas Mahasiswa (Krema) LEM FPSB

“Ada masalah satu dan lain hal. Masalah yang benar-benar krusial di internal kami. Akhirnya acara ini dimundurin. Jadi memang kita promosinya kurang efektif,” tuturnya pada Rabu (28/11) lalu.

Terkait pendanaan, kegiatan FFD ini mendapat suplai dari dana sisa Serumpun 2019, sejumlah Rp. 10.320.000-. Dana itu baru cair beberapa hari sebelum acara. Akan tetapi, dana tersebut ternyata tidak dapat menutupi anggaran yang semestinya. Alasan ini pula yang membuat adanya biaya pendaftaran yang cukup pricey untuk mahasiswa yang berpartisipasi pada FFD. Namun begitu, Ayu mengatakan bahwa partisipan FFD tetap mencukupi target karena mereka telah melakukan diskusi mengenai acara tersebut dengan HMJ masing-masing prodi.

“Kita menggali ke mereka gimana sih kira-kira partisipasi untuk perlombaan ini, cabang olahraga ini. Nah dari situ akhirnya kita tau futsal putra itu banyak peminatnya, jadinya kita buka untuk putra itu dua tim. Jadi kita membuka cabang olahraga itu pun dari hasil diskusi dengan HMJ” jelasnya.

Ketika dikonfirmasi lagi ke beberapa perwakilan HMJ, pembahasannya saat itu hanya seputar diskusi dan jajak pendapat soal agenda Dolanan yang masih belum jelas terealisasikan. Ketua LEM menginisiasi dan dihadiri oleh masing-masing Ketua HMJ, tanpa DPMF.

“Terakhir ya sama Muaf (Ketua LEM FPSB). Pas itu kita HMJ ngasih saran bahwa agenda ini harus tetap jalan,” ungkap Alkausar selaku Sekjen Himakom.

Berkaca pada beberapa agenda mahasiswa secara umum dan kultural, partisipasi mahasiswa yang paling banyak memang pada bidang olahraga. Terkait bahasan bentuk “cabang” olahraga yang dimaksud Ayundya ditepis oleh Sekjen Himakom, tak ada bahasan lebih soal itu.

Senada dengan itu, Fachan Faturohman selaku Ketua Edsa membenarkan bahwa pernah ada bahasan terkait kelanjutan agenda tersebut.

“Pernah ada bahasan soal Dolanan yang masih ‘buram’ kelanjutannya itu. Setelahnya gaada. Pun tiba-tiba ganti nama jadi FFD.” Jelas Fachan.

FPSB Fun Day (FFD) hadir sebagai kegiatan olahraga dan diperuntukkan bagi mahasiswa Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) dan dikelola langsung oleh Lembaga Eksekutif Mahasiswa Fakultas (LEM-F). Acara ini berlangsung pada 29 November hingga 1 Desember 2019. Bidang olahraga yang diselenggarakan meliputi futsal, basket, badminton, tenis meja, dan catur. Lalu bidang seni hanya terdapat kompetisi akustik.

Penulis: Aisyah Hanifah

Reporter: Aisyah Hanifah, Citra Mediant & Karel Fahrurrozi

Penyunting: Iqbal Kamal

*Berita ini mengalami perubahan redaksi pada Selasa (3/12/19) pukul 23.40 WIB dengan tambahan informasi dari HMJ.

2 tanggapan untuk “Buntut Panjang Verifikasi, LEM FPSB Batalkan Dolanan 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *