Sesasi Diskomunikasi: Ruang Diskusi Mahasiswa Ilmu Komunikasi

Diskomunikasi 2019 merupakan event tahunan prodi Ilmu Komunikasi UII yang malam puncaknya diselenggarakan pada 23 November lalu. Diskomunikasi hadir dengan kegiatan yang mengenalkan sesama mahasiswa Ilmu Komunikasi dan kebebasan berekspresi dalam berkarya melalui perlombaan seperti poster, foto analog, lukis jeans dan yang lainnya dan lalu ditutup dengan aksi panggung musik mahasiswa Ilmu Komunikasi pada malam puncak.

Meski menggunakan nama yang berbeda dari tahun sebelumnya, Lisensi (Lintas Seni Komunikasi), Diskomunikasi tidak ingin menghilangkan esensi kebersamaan yang ada. Menurut Rananda Rizki, Ketua Pelaksana Diskomunikasi 2019 pergantian nama tersebut guna lebih meringankan dari kegiatan yang mereka laksanakan. “Lisensi itu kaya berat banget namanya, jadi kita ganti ke Diskomunikasi. Tapi kita tetap disini bertujuan untuk mengakrabkan warga Ilmu Komunikasi,” ungkapnya pada tim Reporter Kognisia pada Rabu (27/11) lalu.

Rananda Rizki, Ketua Pelaksana Diskomunikasi 2019

Sebelum malam puncak, Diskomunikasi menghadirkan Shaske (Sharing Session & Karaoke) dan juga Sesasi (Sepekan Bersama Komunikasi). Kegiatan ini diberi tajuk ‘Road to Diskomunikasi’ sebagai fasilitas kepada semua komunitas yang ada di ranah Ilmu Komunikasi.

Rananda menjelaskan bahwa Sesasi hadir untuk mengenalkan setiap komunitas yang ada di Ilmu Komunikasi melalui ranah diskusi. Komunitas juga dibebaskan untuk memilih tema dari diskusi yang dilaksanakan agar tidak adanya batasan yang muncul.

“Tujuannya ya agar lebih mengedukasi dan mengenalkan komunitas yang ada. Seperti Klik18 tentang diskusi foto ataupun kompor diskusi tentang film. Untuk tema diskusi kita juga membebaskan, agar tidak menghambat komunitas. Yang penting tujuannya adalah berbagi ilmu dan mengedukasi.”

Sesasi ‘Road to Diskomunikasi’

Selain itu Sesasi juga tidak hanya menghadirkan diskusi yang diselenggarakan oleh komunitas dibawah naungan prodi Ilmu Komunikasi. Hadir juga diskusi yang diselenggarakan oleh Militansi, basis supporter yang ada di ranah Ilmu Komunikasi. “Ada juga diskusi dari Militansi, kayak kelompok supporternya Ilmu Komunikasi. Waktu itu temanya tentang media dan sepakbola” lanjut Rananda.

Melalui Diskomunikasi, Rananda tidak hanya ingin acara ini hanya bertujuan untuk memberikan hiburan saja. Namun juga dapat memberikan manfaat yang banyak melalui ruang diskusi yang telah dibentuk (Siti Fauziah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *