Inisiasi Tanggap Bencana: dari FPSB untuk Bersama

Foto oleh : Citra Mediant

Simulasi gempa untuk pertama kalinya diadakan di Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) pada tanggal 18 Agustus 2019 dalam acara Pra Serumpun (Semarak Ta’aruf Penuh Makna) bagi mahasiswa baru di FPSB. “Dari dekan itu berharap besar bagaimana caranya simulasi bencana ini bisa dilakukan,” ujar Yusril Ikhtiar selaku ketua Organizing Committee (OC) Serumpun 2019.

Kegiatan Simulasi gempa dipandu oleh Sakti dan Mualif, sebagai perwakilan dari tim rescue yang juga merupakan alumni Psikologi UII. Mualif mengungkapkan jika simulasi gempa ini dikonsep sedemikian rupa seolah-olah sedang terjadi gempa bumi berkekuatan 7,4 SR di selatan Pantai Bantul sejauh 105 km yang berkedalaman 10 km, serta berstatus berpotensi Tsunami. Mahasiswa yang sedang berkegiatan di dalam ruangan terpaksa dievakuasi menuju titik kumpul yang berada di belakang Gedung Kahar Muzakir. Namun ketika proses evakuasi sedang berjalan, terdapat dua orang mahasiswa yang tertinggal, satu orang ditemukan di tangga dengan kondisi kaki patah dan satunya terkena serangan panik yang bersembunyi di balik meja. Dua orang tersebut segera dilarikan ke ambulans dan dibawa ke rumah sakit terdekat.

Pada awalnya, simulasi bencana tidak termasuk dalam rancangan kegiatan dari acara Serumpun. Panitia Serumpun pada awalnya hanya menyanggupi permintaan tersebut dengan menggunakan platform digital atau video singkat yang ditampilkan pada hari pelaksaan. Namun, Fuad Nashori, selaku Dekan FPSB mengharapkan simulasi ini betul-betul disematkan pada salah satu rangkaian acara. Dikarenakan rundown acara hari pertama dan kedua sudah tidak bisa diganggu, sehingga panitia mencari jalan keluar dan menyematkan kegiatan simulasi gempa pada saat Pra Serumpun. “Jadi kami memutuskan bersama dan rasionalisasinya mengapa kita taruh di Pra Serumpun, karena jumlah (mahasiswa yang hadir) Pra Serumpun lebih banyak dibandingkan dengan hari H serumpun, nah jadi kita menginisiasikan disini,” jelas Yusril.

Pada pelaksanaan simulasi tanggap bencana, Emi Zulaifah, selaku Wakil Dekan II memantau langsung jalannya acara. “Memang banyak yang harus dievaluasi,” ujar Emi saat di wawancarai reporter Kognisia. Emi juga mengungkapkan bahwa pihak Dekanat baru memenuhi standar melakukan saja, belum mencapai tititk overlearn yang mana tanggap bencana harus diterapkan secara masif kepada setiap civitas akademika FPSB.

Salah satu evaluasi yang harus dilakukan adalah dengan memberikan pelatihan kepada pihak keamanan sebagai pihak yang bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan masyarakat FPSB. Emi berkaca pada Universitas yang ada di luar negeri, dimana mereka memang siap dan selalu tanggap akan bencana baik itu disebabkan oleh alam atau manusia seperti kebakaran. “Waktu saya masih tinggal di Amerika, tiba-tiba bunyi alarm kebakaran dan pihak keamanan langsung mengevakuasi seisi apartemen dan semua orang yang tinggal di sana, otomatis keluar dengan tenang dan terarah” ujar Emi. Kejadian itu ternyata hanya simulasi untuk melihat kesiapan masyarakat dan pihak terkait apabila terjadi bencana, mereka menyebutnya disaster drill.

Acara ini juga diinisiasi pihak Dekanat guna memenuhi standar akreditasi Internasional bagi FPSB. Melihat lokasi UII yang berada di dalam kawasan bencana menambah kesadaran pihak Dekanat untuk melakukan simulasi tanggap bencana. Bukan hanya untuk memenuhi standar Asia University Network (AUN-QA) pencapaian agar setara dengan Universitas lain yang ada di Asia. Tetapi, merupakan kewajiban semua pihak yang ada di lingkungan sekitar UII.

“Karena standar akreditasi. Jadi begini ikut standarisasi di satu sisi juga mengangkat kepintaran kita. Karena ikut standarisasi ini maka hal-hal yang oleh standar tersebut dianggap penting dan dianggap berkualitas kalau gitu ya, kita harus ikutin. Kalau kita mau berada dalam jaringan AUN-QA, hal-hal yang mereka minta ya harus kita lakukan,” jelas Emi.

Pada saat erupsi dahsyat Merapi tahun 2010, UII sempat kalang kabut disaat memindahkan proses akademik ke kampus Condong Catur dikarenakan seluruh kegiatan kampus harus dihentikan. Mengingat awan panas yang semakin pekat dan material dari hujan abu yang sudah sampai ke kampus UII pusat.

Pada dasarnya, simulasi tanggap bencana harus dilakukan, mulai dari menyusun prosedur, membuat konsep serta desain. Selain itu, juga mengoptimalkan sumber daya yang ada sehingga sarana-prasana seperti hydrant yang harus dicek secara berkala untuk mengantisipasi adanya gangguan ketika terjadi kebakaran. “Kan sangat penting, ketika kebakaran melanda terus hydrant-nya mandet kan kita yang bingung. Belum apa-apa udah kebakar semua” ujar Emi sembari tersenyum.

Pada hari pelaksanaan simulasi gempa yang konfirmasinya mendadak oleh pihak Dekanat FPSB, terjadi sedikit gesekan karena pihak Fakultas Kedokteran merasa terganggu oleh aktivitas simulasi tanggap bencana karena bunyi alarm yang melengking dan gedoran pintu yang sangat bising. Akan tetapi demi kelancaran acara selanjutnya pihak Dekanat melakukan komunikasi sebagai permintaan maaf atas nama FPSB ke Fakultas Kedokteran.

Disaat proses wawancara berlangsung, Emi menyangka akan diprotes oleh mahasiswanya karena memasukkan kepentingan Dekanat ke dalam acara Ospek Fakultas. Namun Emi menimpali dengan dengan ucapan terima kasih dan menyatakan bahwa harus ada pemeringkatan mulai dari standar HSSE (Healthy Safety Security and Environment) di lingkungan FPSB bahkan UII.

“Seharusnya dari rektorat ada penyuluhan dan pelatihan simulasi tanggap bencana itu,karena kita bicara ideal dan go international, salah satunya ya ini tanggap bencana agar kita semua bijaksana dalam menanggapi bencana dan bisa mencari jalan keluar terbaik. Mengingat lokasi UII yang masih di Kawasan Rawan Bencana serta gedungnya yang bertingkat” Imbuh Emi.

Agar simulasi tanggap bencana menjadi hal yang penting untuk dilaksanakan, ada harapan dan evaluasi yang dilakukan pihak Dekanat FPSB untuk menindaklanjuti simulasi kemarin. Selain itu, pihak Dekanat FPSB juga merencakan untuk bekerja sama dengan pihak terkait dan lebih berkompeten di dalam bidangnya.

Reporter : Tim Liputan Khusus PESTA/Serumpun 2019

Penulis: Rayhana Arfa & Marhamah Ika

Satu tanggapan untuk “Inisiasi Tanggap Bencana: dari FPSB untuk Bersama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *