KKN Khusus Covid-19, Gairah Pengabdian Di Tengah Pandemi.

Universitas Islam Indonesia (UII) terus menunjukkan upayanya dalam pengabdian masyarakat pada pandemi Covid-19. Mulai dari pembuatan Alat Pelindung Diri (APD), masker hingga bakti sosial.

Terbaru UII merilis kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) khusus Covid-19 yang rencananya akan dilaksanakan dalam kurun waktu bulan Mei hingga Agustus. Berbeda dengan KKN Reguler yang memiliki beberapa prosedur seperti menginap di desa dan melaksanakan kegiatan langsung di lapangan, KKN khusus Covid-19 dapat dilaksanakan secara daring dengan menggandeng mitra terkait.

“KKN khusus Covid-19 itu mahasiswa mengajukan sendiri ke desa, lalu menggandeng mitra yang ada di sana. Bisa Dinas Kesehatan atau organisasi kepemudaan. Tujuan menggandeng mitra ya biar gampang untuk akses kegiatan di desa nantinya,” tutur Wahyu Widayanto selaku Staff Evaluasi dan Pengembangan KKN.

KKN Khusus Covid-19

Wahyu menyatakan bahwa KKN ini memang berbeda dengan KKN reguler, mulai dari proposal yang diajukan dan kelompok ditentukan oleh mahasiswa itu sendiri. Untuk mempermudah dalam pencarian data, Wahyu mengarahkan tim reporter Kognisia kepada panduan yang sudah DPPM rilis di web mereka.

“Perbedaan antara KKN khusus Covid-19 dan KKN Reguler itu di KKN khusus ini kan bersifat mandiri, jadi mahasiswa yang mengajukan diri dengan menyertakan proposal kegiatannya, sedangkan KKN Reguler itu untuk kelompok dan desa yang dituju, ditentukan oleh pihak kampus. ” Imbuh Wahyu.

Gambaran kegiatan pada program KKN khusus ini coba dipaparkan oleh Wahyu, misalnya mahasiswa dari Fakultas Hukum dapat membantu membuat peraturan administrasi terkait penanggulangan Covid-19, selain itu mahasiswa dari Jurusan Psikologi juga bisa memberikan kontribusi terkait pendampingan atau edukasi psikologi terkait dampak yang akan ditimbulkan dari pandemi Covid ini.

Terkait waktu pelaksanaan dan pengawasan, 80 jam aktivitas KKN Khusus ini akan dihitung sesuai perhitungan akademis yang akan dikonversikan dalam bentuk nilai untuk memenuhi SKS mata kuliah KKN. Sedangkan pengawasannya, Wahyu menuturkan bahwa KKN ini akan tetap diawasi oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) namun melalui sistem daring.

Semua proposal yang diajukan oleh calon peserta KKN khusus ini akan diverifikasi oleh pihak DPPM, secara langsung mereka berusaha untuk tidak menolak namun akan memberikan catatan bila ada program kerja yang sekiranya tidak cocok, “Kalau cuman bagi-bagi sembako sama masker aja sama saja tidak ada proses belajarnya di situ, ya tentu kita akan memberikan catatan”, lanjutnya.

Kejelasan soal KKN Reguler juga disampaikan oleh Wahyu. Hingga saat ini belum ada wacana tentang penggantian kegiatan KKN Reguler yang akan dilaksanakan pada bulan Agustus kelak, “Kalau diganti enggak, tapi mungkin konsep KKN Reguler nya akan berubah” tutur Wahyu.

Kemungkinan perubahan mekanisme dan konsep dari KKN Reguler terjadi apabila sampai waktu yang mendekati pelaksanaannya pandemi Covid-19 belum selesai. Wahyu menegaskan bahwa UII masih berpedoman pada skenario Nasional yang menyatakan bahwa pada Juli-Agustus pandemi ini sudah selesai.

Ketertarikan Peserta KKN

Respon yang diberikan mahasiswa bermacam-macam atas kegiatan KKN khusus Covid-19 ini. Terkhususkan kepada mahasiswa yang rencananya memang terdaftar sebagai peserta KKN Reguler Angkatan 61 yang akan dilaksanakan pada bulan Agustus kelak.

Laela Al-Mubarokah, salah satu mahasiswa yang berminat mengikuti KKN Khusus Covid-19 menuturkan bahwa ini dapat menjadi langkah yang tepat baginya untuk menyelesaikan aktivitas perkuliahan dalam waktu yang lebih cepat. Meski begitu, ia tidak menampik bahwa KKN khusus ini terkesan gegabah dan kurang persiapan dari pihak kampus.

“Kebijakan KKN Covid-19 ini cenderung terburu-buru dan belum matang, aku coba hubungin pihak DPPM lewat Whatsapp. Responnya slow banget dan enggak semua pertanyaanku dijawab,” tuturnya.

Laela secara pribadi juga mempertanyakan terkait mekanisme pelaksanaan KKN Khusus Covid-19 yang kurang jelas, seperti peserta yang diharuskan mencari mitra dan desa secara mandiri. Menurutnya untuk melakukan itu tentu peserta harus melakukan survey terlebih dahulu. Ia menyayangkan karena dari pihak kampus tidak memberikan gambaran desa seperti apa yang harus menjadi mitra dalam pelaksanaan KKN Khusus ini

Di sisi lain, Diast Reyhanarafif dari Ilmu Komunikasi 2017 memberikan pernyataan yang berbeda. Ia awalnya ingin mengikuti KKN khusus Covid-19, namun setelah mempertimbangkan beberapa hal ia mengurungkan niat. Menurutnya KKN ini memiliki resiko yang jauh lebih besar karena dilaksanakan saat pandemi Covid-19 melanda.

“Emang sih bisa dilaksanakan online, tapi enggak ada penjabaran lebih lanjut. Terus kalau enggak ada terjun langsung kelapangan susah juga buat bikin program kerja yang terukur,” tutur Diast.

Diast juga turut mempertanyakan terkait penentuan daerah atau lembaga yang akan dijadikan mitra dalam KKN ini. Pengumuman yang ada di dalam pedoman KKN Khusus Covid -19 hanya sekedar pemberitahuan terkait daerah atau kelompok masyarakat yang terdampak dan lembaga pemerintah atau non pemerintah yang aktif dalam penanggulangan Covid-19. Masih banyak informasi yang menurutnya ambigu dan butuh kejelasan lebih lanjut.

Sebagai mahasiswa yang akan mengikuti KKN Reguler pada bulan Agustus (Angkatan 61), Diast juga masih menanti kejelasan terkait pelaksanaan KKN Reguler, apakah akan dilaksanakan secara langsung di lapangan atau akan berakhir sama dengan KKN Khusus Covid-19.

Penulis: Citra Mediant
Reporter: Siti Fauziah & Marhamah Ika Putri
Ilustrasi: Karel Fahrurrozi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *