Laporan Khas Wawancara

Menziarahi Rasa: Perjalanan untuk Mengenali Diri Sendiri

Oleh: Yasmeen Mumtaz

Matahari pagi bulan Juni menyusup di antara dedaunan. 20 orang berkumpul di Omah Ropingen dalam suasana yang hangat. Masing-masing orang diberi guidebook Menziarahi Rasa sebelum berkeliling Kotagede. 

Kolaborasi antara Tamasya Karsa, Adoel Book Project, dan Langgar.co ini didesain supaya menjadi ruang belajar alternatif dalam format walking tour. Harapannya, peserta Menziarahi Rasa dapat mengenali dirinya dengan lebih baik. Mulai dari pertanyaan semisal Seberapa jauh Anda mengenal diri sendiri? Apa yang Anda inginkan, apa prinsip hidup Anda, ke mana Anda akan melangkah? Seberapa sering Anda mengikuti orang lain semata karena bingung menentukan pilihan atau takut tertinggal?

Selepas acara, kami berkesempatan mewawancarai Doel Rohman, salah satu dalang di balik Menziarahi Rasa. Kami berbincang mengenai ide awal Menziarahi Rasa, alasan memilih Kotagede, dan rencana mengenai Menziarahi Rasa 2. 

Yasmeen (Kognisia):

Kemarin waktu acara itu, aku sempat ngobrol sama adiknya, Mas. Katanya pengen mengadakan acara ini salah satunya adalah karena ingin mempopulerkan ziarah, ziarah kubur maksudnya. Nah, apa aja sih sebenarnya yang ingin dicapai dengan adanya Menziarahi Rasa ini?

Doel Rohman:

Sebenarnya malahan aku tuh enggak punya proyeksi jauh ya, maksudnya untuk capaian-capaian yang harus seperti ini gitu. Jadi, kita fokus ke idenya dulu sebelum kita sampai ke capaian-capaiannya. Kehadiran forum ini atau yang kita sebut Menziarahi Rasa sebagai komunitas belajar itu memang diawali dengan kegelisahan pribadi, aku sama adikku. Yuk, kita nggawe sesuatu gitu, nggawe ruang belajar bareng terkait sesuatu yang kita anggap substansial, yaitu soal diri, soal rasa. Terus bagaimana acaranya?

Hampir satu tahun terakhir ini kita sering ikut acara-acara gitu, ikut acara-acara ziarah. Enggak hanya ziarah tetapi walking tour gitu kan. Ternyata peminatnya banyak. Aku coba pengen mengkombinasikan saja tradisiku sendiri, punya tradisi ziarah sebagai warga NU, santri [dengan] fenomena anak-anak muda hari ini yang suka jalan-jalan, suka walking tour

Saya punya-punya agak kritik terhadap teman-teman jalan-jalan. Jalan-jalan itu njuk ngopo? Apa yang pengen dia sampaikan? Apa yang kemudian pengen dia cari dari perjalanan tersebut? Lah sebagai sebuah institusi atau sebuah cara, itu kan ternyata populer, banyak diminati orang. Tetapi sebagai substansi, aku pikir dari banyak teman-temanku itu hanya healing, hanya pengen cari pengalihan dari problem yang mungkin lagi dihadapi, hanya pengen cari refreshing.

Oke itu enggak apa-apa. Tetapi menurutku, kita bisa menjadikan ruang itu sebagai benar-benar ruang belajar, yang tidak hanya menyajikan sesuatu yang sifatnya parsial, yang sebutannya surface, permukaan, melainkan benar-benar [menjadi] mekanisme atau format acara [sebagai] media untuk kita mengkomunikasikan, menyampaikan hal-hal yang sebenarnya substansial, yaitu soal diri. Jadi walking tour itu cuma mediumnya, ruangnya. Tetapi poin yang ingin kita sampaikan dari itu adalah bagaimana kita kemudian lebih sadar, lebih terbuka untuk ngomongin diri kita sendiri, perasaan diri kita sendiri, yang bagi kami, bagi saya terutama, itu hari ini bagi teman-teman kawula muda aku pikir enggak banyak perhatikan. Kita sering banyak ngobrol sesuatu yang sifatnya eksternal, di luar. Sesuatu yang sifatnya surface, permukaan-permukaan. Sehingga dia tidak punya pancer, nggak punya pegangan gitu. Dia hanya ngikutin arus. 

Kegelisahan itulah yang sebenarnya membuat aku dan adikku kemudian membuat formatnya atau Menziarahi Rasa ini agar kemudian menjadi medium bersama, ruang bersama bagi teman-teman, termasuk saya sendiri untuk lebih mengenali diri kita. Medium-nya adalah ziarah itu. 

Yasmeen (Kognisia):

Di antara sekian banyak medium, kenapa sih, Mas merasa jalan-jalan itu medium yang tepat gitu, kan ada berbagai cara untuk menyampaikan apa yang menurut, Mas penting.

Doel Rohman:

Iya, sebagai orang yang lahir di generasi hari ini saya pikir ya aku perlu untuk beradaptasi. Dua, relevansi. Aku pikir ruang-ruang belajar hari ini itu kan cukup eksklusif ya, terlalu mainstream dan formal. Cenderung mendikotomi juga terkotak-kotakan gitu loh. Ruang belajar kayak di kelas dan tidak langsung bisa bersentuhan dengan realitas. Nah, nek jalan-jalan aku pikir itu menjadi ruang yang sangat personal sekaligus sosial.

Di sisi lain dalam perjalanan dia mengamati peristiwa, mengamati apa yang dia rasakan sepanjang perjalanan tersebut. Dia juga harus merespon. Kita mau gak mau harus menyapa orang lain, harus nuwun sewu, harus terbiasa untuk unggah-ungguh, tersenyum, meskipun kita tidak kenal sama seorang yang ada di depan kita. Itu kan satu kegiatan yang bagi banyak orang hari ini, itu sederhana, tetapi itu sekaligus mengajari diri kita untuk bahwa hidup kita itu enggak sendiri. 

Kita itu hidup di lingkungan sosial yang harus menempatkan diri di mana nilai-nilai itu hidup, di mana masyarakat itu kemudian punya tata nilai yang harus kita taati dan di sana sebenarnya mengajari kita untuk bagaimana kita harus berperilaku, berakhlak. Saya pikir jalan-jalan itu instrumen paling efektif untuk kita melibatkan seluruh potensi yang ada di dalam diri kita, indra, mata, diaktivasi terus-menerus dari fenomena-fenomena yang kita temui dalam perjalanan-perjalanan itu. Dan itu yang tidak kita dapatkan di kelas maupun di ruang-ruang diskusi.

Yasmeen (Kognisia):

Berarti mungkin kalau aku simpulin, jalan-jalan itu hal yang banyak dilakukan oleh anak muda zaman sekarang sehingga itu bisa menjangkau banyak orang, tetapi juga sekaligus dia medium belajar alternatif yang enggak terlalu formal kayak di kelas-kelas.

Berarti Mas menganggap bahwa jalan-jalan itu suatu forum yang lebih inklusif daripada di kelas atau gimana? Apakah Mas akan mengatakan seperti itu?

Doel Rohman:

Iya, kayak gitu, benar banget. Jalan-jalan adalah ruang alternatif belajar kita hari ini yang lebih inklusif, lebih terbuka, dan lebih bisa menyentuh dengan subjek persoalan yang mau kita jawab.

Yasmeen (Kognisia):

Di guidebook kan Mas ngasih pengantar dan penjelasan tentang Kotagede. Di sini kan sudah ditunjukkan bagaimana Kotagede itu adalah suatu tempat yang memikat karena sebagai cikal bakal Kerajaan Mataram. Tetapi, bagaimana tempat ini bisa membantu seseorang itu mengenali dirinya? Kenapa memilih tempat ini di antara sekian banyak tempat?

Doel Rohman:

Kenapa Kotagede? Satu, itu momen aja. Ada tawarannya di sana kemudian ya akhirnya ke sana. Terus kemudian aku pikir Kotagede sangat iso, sangat representatif untuk menunjang apa yang aku harapkan dari konsep kelas Menziarahi Rasa itu. Karena memang Kotagede ini kan agak unik ya. 

Satu, dia punya aspek historis yang kuat banget dengan sejarah panjangnya dari mulai era Mataram Islam awal sampai kemudian proses transisi di era Perang Jawa Diponegoro, kemudian di era kemerdekaan juga dia penuh dinamikanya. Di Omah Ropingen itu kan juga tercatat sebagai tempat di mana para tokoh pendiri bangsa kita di era 1920-an itu membicarakan soal konsep negara. 

Kedua, soal topografi ruangnya itu kan juga asik gitu. Kotagede di sana itu ada makam, ada pasar, terus ada perumahan padat penduduk gitu yang punya karakteristik yang berbeda-beda. Ada yang indies ada yang Jawa khas Kotagede-an kemudian ada bentuk-bentuk industrial model baru. 

Nanti kita akan ketemu gang-gang kecil. Itu namanya menjemput peristiwa. Kita akan ketemu sama banyak orang. Dan karena jarak antara tempat itu sangat dekat otomatis persentuhan kita dengan banyak orang itu sangat dimungkinkan dan pasti terjadi. Itu nggak mungkin kita bisa temui ketika kamu di desa yang rumah di antara jarak jauh itu berjauhan. Ya mungkin ketemunya di jalan, tetapi karena jalan di Kotagede itu sempit-sempit, itu mesti ketemu orang. Mungkin ketemu orang mepe gabah, mepe jemuran.

Ketiga, ketemu sama bangunan-bangunan. Bangunan-bangunan itu kan sebenarnya enggak hanya punya nilai historis tetapi juga nilai-nilai romantis, dan juga nilai-nilai mistis. Romantis itu mesti ada satu peristiwa yang nek mau kita gali, sebenarnya kita akan mendapatkan nilai makna. Nilai mistisnya kadang kita akan ketemu dengan cerita-cerita masyarakat soal, “Wah, bangunan iki ndek mben ono pocong e, ada tragedi.” Itu kan sebenarnya nek kita sadari itu akan mengajak kita bahwa di tengah realita, di hiruk pikuk yang serba material, kita masih dihadapkan sama masyarakat yang masih mempercayai hal-hal yang bersifat gaib. Dan itu, nek kita sadari, iya bahwa hidup itu enggak hanya yang ada loh, yang ada dalam artian yang empiris, yang material. Tetapi juga hidup itu soal sesuatu yang tidak kelihatan, sesuatu yang gaib. Itu mengantarkan kita kepada langkah bawah hidup itu ternyata yo lahir yo batin, yang material sama yang rohani.

Keempat, di situ juga ada makam para wali. Di situ juga ada raja-raja. Kita bisa baca sendiri kalau raja dan wali-wali itu punya karomah-karomah yang kita bisa ambil berkah. Di situ saya ingin menyampaikan bahwa barokah kalau kita coba rasionalisasikan, paling mudah [dengan] mengingat kematian dan melihat dunia itu lebih utuh. Dunia itu yang kelihatan sama yang tidak kelihatan, yang lahir sama yang batin, yang material sama yang rohani.

Ketika di makam itu, kita merenung, “Oh iya ya, urip ternyata ya ora perkoro sek ketok tok, tetapi ono hal-hal yang rohani, diri, yang itu sumber kehidupan di sana.” Kalau kita mengingat itu, kita pasti akan berhati-hati dalam menjalani hidup. Bahwa hidup itu tidak lama, ada batasnya. Semuanya orang akan menua, yang cantik akan kemudian juga menjadi tua.

Terakhir, kita ajak ke pasar itu. Pasar itu adalah dunia, keramaian-keramaian. Yang itu menandakan bahwa setelah kita diajak kembali ke dalam diri yang rohani, yang sunyi, yang kosong, yang hening itu, kita kembali ke alam dunia yang penuh kepentingan itu, penuh dengan cerita, penuh dengan orang yang punya karakter, pikirannya sendiri-sendiri.

Tanggung jawab kita sebagai makhluk yang sudah dikasih Tuhan dengan potensi hidup hari ini harus kembali, mau enggak mau. Bagaimana menyebarkan nilai-nilai baik itu atau mengajak [untuk] maknai sebagai yang rohani, sebagai jalan kembali ke dalam sesuatu yang lebih substansial. Kita harus melihat realitas itu loh. Makane ono konsep koyoktapa rame”.

Yasmeen (Kognisia):

Apakah menurut Mas tempat bersejarah itu yang paling bisa membuat kita mengenali diri sendiri, yang paling bisa membentuk identitas kita?

Doel Rohman:

Iya, menurutku histori itu salah satunya ya, mungkin tidak sepenuhnya. Tinggal pembacaan kita terhadap sejarah itu. Kita melihat sejarah itu tidak berhenti kepada faktanya, tidak berhenti kepada benar-salahnya hitam-putih dari sebuah peristiwa maupun bentuk dari bangunan yang tersisa dari sebuah peristiwa sejarah itu. Tetapi makna apa yang bisa kita ambil dari peristiwa-peristiwa tersebut. Dan itu yang menurutku penting.

Sering kali kita hanya berhenti kepada eksotisnya, keindahannya, bentuknya. Tetapi jarang, lupa menggali makna-makna yang hadir, yang tersimpan di balik peristiwa maupun tempat yang kita kunjungi itu. Sehingga yo kita hanya terkagum pada keindahannya. Wah keren tempat itu. Tetapi akhirnya jalan-jalan itu tidak memunculkan pengetahuan.

Itu yang penting dari kenapa histori itu perlu kita pelajari dan perlu dibawa dalam narasi Menziarahi Rasa ini. Karena dari sana kemudian kita tidak hanya men-trigger diri kita untuk mengenali diri dari peristiwa-peristiwa kita lihat, kita rasakan, tetapi juga kemudian nilai-nilai, referensi menjadi batu-bata kedirian kita, alternatif-alternatif jawaban untuk kebutuhan kita hari ini. Jadi kita enggak terjebak kepada mana, kapannya, siapa yang menang, siapa yang kalah, benar-salahnya. Yang penting adalah pertanyaan Ada apa di balik peristiwa itu?, Ada pengetahuan apa yang tersimpan di balik bangunan-bangunan? 

Nah, menurutku itu penting untuk kita kenali, “Oh ternyata simbah-simbah kita itu cara mikirnya seperti ini loh, punya pandangan dunia yang lebih arif dalam melihat kenyataan. Tidak hitam putih.” Nah, itu poin-poin itu yang penting. Sehingga ketika kita dihadapkan dengan persoalan-persoalan, kita punya banyak referensi. Nek pertama di pesantren referensinya dari kitab-kitab. Nek kita belajar dari masyarakat, dari tradisi, kita belajar dari khazanah orang-orang tua itu yang terkumpul dalam seni, di dalam bentuk bangunannya, laku tokoh-tokohnya, nilai-nilai yang diajarkan.

Yasmeen (Kognisia):

Mungkin balik lagi ke acara Menziarahi Rasa. Aku melihatnya itu sebagai pengenalan atau pintu masuk supaya kita mengenali diri sendiri. Ada rencana untuk Menziarahi Rasa dua?

Doel Rohman:

Oh ya, Menziarahi Rasa dua. Setelah acara kemarin itu ada feedback dari beberapa teman, terutama di luar daerah ya, di Solo sama di Malang, itu pengen. Memang rencananya akan. Ya itu mediaku juga silaturahmi ke teman-teman di daerah-daerah yang lain. Ada beberapa jaringan kolektif juga di beberapa kota, neng Malang, neng Solo yang aku perlu kunjungi juga. Aku pengen belajar dari mereka dan aku pengen belajar dari daerah mereka.

Nah itu untuk kebutuhanku. Aku pikir itu bisa nanti di-follow up untuk menjembatani teman-teman yang mungkin pengen di daerahnya masing-masing. Atau mungkin, kalau tidak menjembatani, ya ngasih alternatif wadah atau referensi baru bagaimana mengemas satu ruang belajar alternatif yang tetap lifestyle-nya dapat, tetap relevan dengan dunia anak muda hari ini, tetapi tetap berakar dan mendalam. Itu yang proyeksi yang agak jauh, yang deketnya aku sebenarnya pengen follow up hasil teman-teman yang kemarin dan kayak gini, apa yang kamu lakukan ini salah satu menurutku apresiasi ya ke teman-teman meskipun yaitu sederhana. Itu kan kemarin pilot project yang aku juga eksperimen gitu loh. 

Yasmeen (Kognisia):

Berarti ada banyak hal baik yang bisa dinantikan ya dari Mas dan kawan-kawan?

Doel Rohman:

Dari kawan-kawan, apa mau berdua kok kawan-kawan nih? Kan cuma aku sama adikku, toh. Gak ada yang lain.

Yasmeen (Kognisia):

Kan kolaborasi, jadi kan ada kawan-kawan juga.

Doel Rohman:

Iya, kawan-kawan juga.


Penyunting: Haidhar Fadhil Wardoyo

Grafis: Zaid Hafizhun Alim