Kabar Tanggap

Kemelut Mahasiswa Baru dalam Hiruk Pikuk Pesona Ta’aruf 2023

Oleh: Paramitha Maharani dan Birru Aisyah Shabrina

Pesona Ta’aruf (PESTA) merupakan tradisi wajib di setiap tahunnya yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Indonesia (UII) untuk menyambut mahasiswa baru di tingkat universitas. Kegiatan orientasi ini kembali digelar pada Kamis (10/08) hingga Sabtu (12/08) yang bertujuan memperkenalkan UII lebih dalam mengenai aspek-aspek dan lingkungan UII. Beragam rangkaian acara pun turut diselenggarakan, diiringi dengan talkshow-talkshow yang dibutuhkan mahasiswa baru untuk menunjang di masa perkuliahan kelak. Namun, ada yang berbeda dengan Pesona Ta’aruf 2023. 

Berawal dari sebuah postingan di media sosial akun Instagram @merapi_uncover yang ramai diperbincangkan menyebutkan bahwa adanya mahasiswa yang mengalami diare massal. Kabarnya disebabkan karena mengonsumsi makanan yang diberikan oleh panitia. Hal ini didukung dari pernyataan Nanda dari Jemaah 19 yang terkena diare hingga keracunan makanan. 

“Di hari pertama saya dapat makan yang terakhir makanan yang ada di aula, setengah jam setelah makan perut rasanya melilit tapi belum ngerasa mau ke toilet, setelah itu ngerasa kayak panas dingin. Pas sampai kosan diare terus sampai pagi, tapi ospek hari kedua aku paksa masuk, pulang dari ospek kedua aku ke klinik ternyata benar aku keracunan makanan,” ungkap Nanda (15/08). 

Tak hanya itu, kami mewawancarai salah satu mahasiswa baru mengenai konsumsi yang ia dapatkan selama kegiatan PESTA 2023 berlangsung. Naflah menyebutkan bahwa di hari pertama PESTA (10/08), ia mendapat ayam dan nasi yang keras.

“Kemarin hari pertama iya kebetulan. Ayamnya keras banget terus nasinya lumayan keras,” ungkap Naflah (12/08). 

Di sisi lain, para mahasiswa baru mengeluhkan porsi makan yang sedikit dan menjadi hal yang kurang memuaskan. Pasalnya, mereka telah menjalani berbagai aktivitas seharian sehingga sudah sepantasnya mereka mendapatkan porsi makan yang lebih banyak. Tak hanya mahasiswa baru, Kezia selaku wali jemaah pembimbing kelompok para mahasiswa baru di lapangan pun turut merasakan hal ini. 

“Hari pertama memang nasinya agak keras, ayamnya alot juga. Pernah dapet snack basi juga, tapi untuk hari kedua dan ketiga sudah jauh lebih mendingan,” tutur Kezia (12/08). 

Kabar mengenai morat-maritnya konsumsi, kami mewawancarai Marcel Dewa selaku Ketua SC untuk menindaklanjuti masalah ini. Marcel mengatakan bahwa berita konsumsi yang beredar murni karena pemilihan vendor yang belum cakap dalam menyediakan beribu-ribu konsumsi untuk kegiatan ospek. 

“Ya mungkin itu menjadi salah satu faktor pemilihan vendor seharusnya yang memiliki pengalaman di ospek-ospek, pengalaman itu bukan hanya satu dua tahun tapi berpuluh-puluh tahun dan memiliki dapur yang banyak. Kalau dari pihak SC sama OC sendiri melihat kejadian ini sudah menjadi tanggapan, apa yang diberikan kepada vendor-vendor ini apakah akan diberikan sanksi yang tegas atau seperti apa,” jelas Marcel (12/08). 

Setali tiga uang dengan Marcel, Rule Junior selaku Ketua OC juga menyebutkan hal yang sama. Bahkan ia menegaskan bahwa selaku eksekutor, ia dan divisi konsumsi hanya mendistribusikan konsumsi yang datang dari pihak vendor. Bagaimana kualitas makanan dan penyajiannya memang bukan ranah divisi konsumsi melainkan tugas dari pihak vendor. 

“Dari OC sendiri itu terutama (divisi) konsumsi hanya mendistribusikan. Jadi, vendor sudah ada (makanannya) lalu tim dari konsumsi itu mendistribusikan makanan yang sudah ada dari vendor ke peserta gitu,” jelas Rule (14/08). 

Ketika kejadian ini mulai tersebar, UII menjadi buah bibir di kalangan para orang tua dan alumni. Mereka mengutarakan rasa kecewa melalui kolom komentar pada laman akun Instagram kemahasiswaan UII. Tidak hanya permasalahan konsumsi yang dihadapi oleh mahasiswa baru UII, terdapat keluhan terkait akses jalan dan larangan parkir bagi dosen, tenaga pendidik, dan mahasiswa yang memiliki kepentingan di kampus. Pasalnya, akses jalan di lingkungan UII diperuntukan untuk mobilisasi mahasiswa baru. Untungnya pihak universitas menanggapi dengan tanggap atas kejadian ini.

Selain perkara konsumsi yang tidak memuaskan, terdapat beberapa hal yang masih dapat diapresiasi kepada penyelenggaraan PESTA 2023. Adanya inisiasi penggunaan caping serta pemberian ruang kreativitas bagi para mahasiswa baru. Para panitia PESTA 2023 mengusung penggunaan caping karena beralasan bentuk struktur lapangan yang sulit untuk menyediakan tenda. Hal ini dinilai cukup solutif, mereka mengevaluasi dari permasalahan cuaca panas yang dihadapi saat PESTA tahun lalu.

Namun, salah satu mahasiswa baru mengeluhkan biaya yang dikeluarkan untuk menghias caping tidaklah murah. “Cuman harus disketsa dan dilukis, jadi agak kurang dan terlalu membebani. Karena harus beli cat dan kuas dulu yang nggak punya,” ucap Naflah (12/08). 

Pada akhirnya rangkaian kegiatan PESTA 2023 berakhir dengan permohonan maaf dari Bapak Rohidin selaku Wakil Rektor III, Ketua SC (steering committee), Ketua OC (organizing committee), Ketua Lembaga Eksekutif Mahasiswa UII, dan Ketua Dewan Permusyawaratan Mahasiswa UII yang menyesalkan perihal masalah konsumsi. Terakhir, UII sudah membentuk tim satgas untuk menginvestigasi permasalahan ini agar masalah konsumsi segera menemukan titik terangnya.


Penyunting: Haidhar F. Wardoyo

Grafis: Aulia Salsabilla