Oleh : Siti Rifqah Aqilah
Kapur tua pendek tergores berdecit,
menuliskan janji masa depan yang seakan cerah,
pada anak-anak yang katanya akan meneruskan negeri ini.
Namun, manusia berdasi licin di gedung megah terpagari beton,
membuat ujian bertahan hidup di kelas bawah tak pernah terdengar,
di dalam sana, pendidikan tak pernah menjadi menu utama,
bukan hal penting untuk didiskusikan, apalagi dipikirkan,
masa depan anak-anak itu menguap habis,
dilahap keserakahan tikus tua gemuk yang tak pernah kenyang.
Motor tua dipaksa menerjang
jalanan berbatu dan lubang tanpa aspal,
mengajarkan arti pengabdian demi mencerdaskan tunas bangsa,
sebuah pengorbanan yang ditebus teramat murah
hanya sekeping label pahlawan tanpa tanda jasa.
Sementara si tikus gemuk berdasi licin,
lulus dengan nilai sempurna dalam urusan merampok hak,
nyaman memanjakan bokong di empuknya mobil dinas miliaran,
yang dibeli dari perasan keringat rakyat.
Sebuah pekerjaan paling mulia,
yang cuma dihargai dengan ucapan terima kasih,
mereka menutup hari bersama sebongkah harap
bahwa esok akan sedikit lebih baik,
bahwa esok, suara mereka akhirnya didengar.