Gagas Kupas

Ketika Horor Komedi Menelanjangi Wajah Kekuasaan

Oleh : Nabila Nuril Muna & Gizka Candra Nafisah

Judul Film : Ghost in The Cell

Genre : Horor Komedi

Sutradara : Joko Anwar

Produser : Tia hasibuan

Produksi : Come and See Picture

Durasi : 106 menit

Tanggal Rilis : 16 April 2026

Pemeran :

  1. Endy Arfian sebagai Dimas
  2. Aming Supriyatna Sugandhi sebagai Tokek
  3. Abimana Aryasatya sebagai Anggoro
  4. Kiki Narendra sebagai Sapto
  5. Bront Palarae sebagai Jefri
  6. Morgan Oey sebagai Bimo

Apa jadinya jika seorang sutradara mengkritik kekuasaan dengan menjadikannya sebuah karya? Film garapan Joko Anwar yang berjudul “Ghost In The Cell” ini tidak hanya menyajikan hiburan melalui perpaduan genre horor dan komedi. Melalui candaan sarkastik, sutradara yang kerap disapa Jokan tersebut memberikan sebuah banyak sisipan bermakna terkait kritiknya terhadap hukum, politik, dan keadilan sosial. Diperankan oleh sejumlah aktor kondang di Indonesia, film ini berhasil mencuri banyak perhatian masyarakat Indonesia karena menghadirkan suatu film yang merupakan bentuk refleksi terhadap keadaan negara kita saat ini.

Film ini berlatar dalam Lapas Labuhan Angsana, sebuah penjara yang dipenuhi oleh narapidana pelaku kekerasan, korupsi, dan penyalahgunaan kekuasaan. Disana hiduplah banyak narapidana dengan beragam kasus kejahatan. Para narapidana diawasi oleh sipir-sipir yang tak kalah kejam dan kerap bertindak sewenang-wenang terhadap mereka. Kegiatan seperti menindas, berkelahi, dan mencaci maki adalah makanan sehari-hari di Labuhan Angsana.

Seorang narapidana baru bernama Dimas terpaksa mendekam di balik jeruji besi karena kasus pembunuhan yang dituduhkan padanya. Kondisi mulai berubah ketika Dimas tiba di lapas tersebut. Serangkaian peristiwa kematian misterius mulai terjadi. Mayat korban ditemukan dalam keadaan mengenaskan tanpa penjelasan masuk akal.

Situasi semakin mencekam ketika para narapidana dan sipir mulai saling mencurigai. Mereka menduga bahwa teror pembunuhan dilakukan oleh sesama narapidana atau kelompok tertentu yang memiliki dendam pribadi. Semua orang saling menuduh satu sama lain menyebabkan suasana semakin mencekam, terlebih lagi ketika sipir Labuhan Angsana, Sapto dan Jefry, bersikukuh untuk tidak menghubungi pihak kepolisian dalam menangani kasus-kasus kematian janggal ini.

Seiring berjalannya waktu, mereka menyadari bahwa pelaku teror kematian tersebut bukanlah manusia. Pelakunya mengincar orang yang memiliki aura paling negatif diantara yang lain. Teror yang muncul membuat para penghuni lapas hidup dalam ketakutan karena tidak mengetahui siapa yang akan menjadi korban berikutnya. Para tahanan yang sebelumnya terbiasa melakukan kekerasan dan permusuhan mulai berusaha menunjukkan perilaku baik demi menghindari ancaman sang hantu.

Film ini pantas dinobatkan sebagai salah satu film Joko Anwar paling “liar dan gila” karena mencampurkan horor, komedi absurd, aksi, satire, politik, bahkan adegan-adegan tak terduga dalam satu kemasan yang terasa utuh. Alih-alih hanya mengandalkan teror, film ini justru memanfaatkan unsur horor sebagai medium untuk menyentil berbagai persoalan yang tengah menjadi sorotan publik.

Isu korupsi, deforestasi, bobroknya sistem peradilan, buruknya sistem pemasyarakatan, hingga praktik simpanan pejabat disisipkan secara cerdas ke dalam alur cerita. Meski lebih banyak yang disampaikan secara tersirat, kritik yang dibangun tetap terasa jelas dan mengena.

Salah satu gagasan paling menarik adalah kemunculan makhluk yang mampu melihat “aura merah” pada manusia. Aura tersebut menjadi simbol keserakahan, kebusukan moral, dan dosa yang melekat pada para pelaku penyalahgunaan kekuasaan. Simbolisme film juga terlihat pada adegan “cuci tangan” yang tidak hanya berfungsi sebagai aksi biasa, tetapi juga menjadi metafora bagi upaya melepaskan diri dari tanggung jawab. Simbolisme semacam ini membuat kritik politik dalam film terasa lebih halus, tetapi justru meninggalkan kesan yang kuat setelah film berakhir.

Dari sisi akting, para pemain tampil meyakinkan dan mampu menghidupkan karakter masing-masing. Penampilan Aming sebagai Tokek menjadi salah satu kejutan terbesar. Meskipun lebih dikenal sebagai komedian daripada aktor film, ia berhasil membawakan karakter tersebut secara natural, emosional, sekaligus menghibur. Begitu pula dengan Anggoro yang mampu menghadirkan sosok dengan karakter kuat sehingga setiap kemunculannya terasa berkesan.

Namun, dibalik hebatnya film Ghost In The Cell, alur film pada paruh awal terbilang relatif lambat, hal ini terjadi karena banyaknya karakter yang diperkenalkan sehingga membuat penonton kesulitan untuk mencerna nama setiap karakter yang ada. Terdapat sebuah adegan komedi yang terkesan dipaksakan, seperti adegan dimana Bimo yang berkelahi dengan Anggoro, ketika adegan perkelahian tersebut terjadi, Morgan tiba tiba saja berdoa dan ditendangi kepalanya oleh Abimana. Meskipun dimaksudkan sebagai humor, adegan tersebut terasa kurang menyatu dengan tensi cerita sehingga efek komedinya tidak sepenuhnya berhasil.

Selain itu, intensitas adegan perkelahian dianggap sudah muncul terlalu sering dalam film ini, sehingga sulit mendapatkan satu adegan yang benar-benar menonjol sebagai klimaks. Perpindahan satu adegan ke adegan lain masih terlalu dipaksakan, hal ini mengakibatkan belum tersampaikannya emosi penonton dengan sempurna. Pemilihan eksekusi teknis dan visual yang dipilih dalam Ghost In The Cell tidak sesuai dengan batasan minimal usia yang ditetapkan oleh Lembaga Sensor Film karena adanya body horror dan adegan sadis.

Ghost in the Cell sangat layak untuk direnungkan. Di balik tawa dan terornya, film ini menyimpan kritik yang mengingatkan bahwa wajah kekuasaan terkadang jauh lebih menakutkan daripada hantu itu sendiri. Meskipun masih memiliki beberapa kekurangan, film ini tetap sangat layak diapresiasi sebagai salah satu karya yang berani menelanjangi wajah kekuasaan melalui bahasa sinema yang kreatif, berani, dan penuh makna.


Penyunting : Vina Purnama Sari

Grafis : Zamira Amalia Orlandi