Menelisik Pengaruh Perbedaan Pengguna Antar Media Sosial

oleh :Enjang Dwi Tuffahati

Media sosial kini telah menjadi bagian dalam kemajuan teknologi yang tak terlepas dari kehidupan manusia. Jika media tradisional menggunakan media cetak, maka media sosial menggunakan internet yang memungkinkan penggunanya berpartisipasi seperti memberikan komentar satu sama lain serta memberikan informasi secara lebih cepat dan tak terbatas. Pengguna Media Sosial umumnya diberi sebutan dengan Warga Internet (Warganet) atau Netizen. Dalam definisinya, Andreas Kaplan dan Michael Haenlein menyebut media sosial sebagai “sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0 dan memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content” (Kaplan, Andreas, Michael 2010). 

Dilansir dari laporan We Are Social, Pada Januari 2022, terdapat lebih dari 191 juta pengguna media sosial di Indonesia, jumlah ini telah meningkat sebesar 12,35% atau 170 juta orang pada tahun 2021. Badan Pusat Statistik juga menambahkan pada tahun 2019 mayoritas anak usia 5 tahun ke atas di Indonesia sudah mengakses internet untuk media sosial. Persentasenya mencapai 88,99% alias yang terbesar dibandingkan tujuan mengakses internet lainnya.

Besarnya angka pengguna media sosial di Indonesia juga seiring dengan banyaknya pilihan media sosial seperti Instagram, Tiktok, Twitter, Youtube, Facebook dan lain sebagainya. Masing-masing media sosial memiliki karakter maupun ciri khas yang berbeda, sehingga dapat lebih menarik minat penggunanya. Para penggunanya pun memiliki pola interaksi yang berbeda di tiap jenis media sosial. Terbentuknya pola interaksi antar media sosial ini semakin menjadi hal menarik untuk dikaji. Pada tahun 2017 dilakukan sebuah penelitian gabungan antara peneliti King’s College London, Universitas Pennsylvania, perwakilan Twitter, IBM Watson dan Skyscanner yang menemukan bahwa tiap media sosial akan menimbulkan karakter yang berbeda bagi setiap penggunanya.

Dalam penggunaan media sosial terdapat perbedaan mendasar penggunanya seperti adanya pengguna aktif dan pengguna pasif. Bahkan beberapa teori seperti Teori Hipodermik atau Teori Peluru yang dicetuskan oleh Harold Laswell mengatakan bahwa, sejatinya pengguna media sosial yang bersifat pasif sepenuhnya mengkonsumsi media atau dalam arti lain dapat dengan mudah terpapar segala jenis informasi. Menanggapi perbedaan pengguna ini, kami mewawancarai Kamil salah satu dosen Kajian Media di Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia untuk mengetahui lebih lanjut terkait pandangan akademisi dalam menanggapi perbedaan pengguna antar media sosial. 

“Secara teoritis itu kalau di dalam kajian, kita akan bertemu dengan teori audiens aktif dan pasif. Teori yang paling klasik itu misalnya Teori Hipodermik atau Teori peluru yang kira-kira itu mengasumsikan bahwa audiens itu sebenarnya pasif nggak berdaya di dalam mengkonsumsi media atau menggunakan media. Jadi aktif dan pasif bukan hanya dalam artian aktif dan pasif ini ya, tapi dalam konteks juga aktif mengkonsumsi media itu maksudnya dia tidak hanya menerima pengaruh dari media tapi dia juga aktif memberikan feedback terhadap media yang dikonsumsi.” Ujar Kamil (25/3)

Youtube, Whatsapp, Facebook, Instagram dan Twitter menjadi tiga media sosial yang paling banyak digunakan di Indonesia (Hootsuite, 2020). Selain itu, Tik Tok juga turut menjadi media sosial yang saat ini populer di kalangan masyarakat Indonesia. Pola interaksi pengguna di tiap media sosial ini membentuk suatu budaya yang menjadi ciri khas dan tak jarang seakan menuntun penggunanya untuk mengikuti tren media sosial yang ada. Dalam menganalisis pengaruh perbedaan pengguna antar media sosial, kami mewawancarai Elang salah satu sosial media marketing Sedekah Sekitar UII

“Jadi setiap sosial media itu kan kita tahu kalau mereka punya behavior beda beda, jadi sebagai seorang social media marketing kita dituntut harus bisa beradaptasi diantara itu semua, jadi kaya gimana sih tingkah lakunya orang-orang yang main sosial media semacam Instagram, Facebook, Twitter itu supaya kita bisa menarik lebih banyak peminat dari para calon customer kita, jadi kita yang disesuaikan sama perilaku para para pengguna itulah.”Ujar Elang (21/2)

Pengaruh pada Kehidupan Sosial Penggunanya

Dalam kajian komunikasi terdapat tiga tradisi riset khalayak dalam mengukur pengaruh pengguna media sosial. Pertama tradisi struktural yang menggunakan pemetaaan penggunaanya. Pemetaan ini bertujuan untuk membuat peta yang jelas mengenai tipologi karakteristik pengguna media sosial. Kedua tradisi behavioral yang lebih mengasumsikan bahwa audiens pasif dalam mengkonsumsi media. Riset yang digunakan lebih menguji pengaruh media pada penggunanya. Ketiga tradisi cultural studies yang  mengasumsikan audiens sepenuhnya aktif sehingga dapat berinteraksi langsung di media sosial seperti berkomentar, membagikan kontens dsb.

Tiap media sosial dengan perbedaan pengguna di dalamnya dapat memberikan berbagai  dampak baik positif maupun negatif. Selain sebagai wadah komunikasi, media sosial juga telah beralih menjadi tempat berbisnis hingga ajang campaign politik. Elang juga menambahkan bahwa dalam penggunaanya, instagram cenderung menunjukan eksklusivitas, Twitter lebih nyaman untuk dijadikan tempat berdiskusi, dan Tiktok sebagai media sosial yang lebih ekspresif. Untuk mengetahui lebih lanjut, kami juga mewawancarai Putri Citra salah satu beauty influencer dan content creator yang aktif di berbagai media sosial.

“Sejauh yang aku rasakan selama aku jadi content creator itu aku merasakan banget perbedaan dari masing-masing platform ya, apalagi interaksi netizen terhadap kita. Semua sosial media menurut aku punya tantangan yang hampir sama yaitu kita nggak pernah tahu kapan kita tuh bakalan di reach banyak orang karena algoritmanya yang random ini kita jadi nggak bisa berharap banyak sama reach yang kita dapatkan. Cara untuk mengatasi perbedaan yang ada aku lebih ke menyesuaikan isi konten aku dengan segmentasi pasar karena nggak bisa dipungkiri ya kita harus menyesuaikan target juga dan kita harus menyesuaikan diri kita sama apa yang sedang dicari.” ujar Putri.

Perbedaan karakteristik pengguna antar media sosial ini dalam konteks yang lebih luas turut mempengaruhi kehidupan penggunaannya baik yang berperan sebagai penikmat konten di media sosial, pembuat konten maupun individu yang berperan dalam keduanya. Hal ini turut dirasakan oleh beberapa responden dalam survey yang kami lakukan pada 23 Maret 2022. Survey yang dilakukan melalui google form ini diisi oleh 75 pengguna aktif media sosial dan 46,7 % nya merasakan terdapat adanya perbedaan karakteristik antar penggunanya seperti dalam cara berkomunikasi ataupun berkomentar.

“Di instagram orang orang nya kadang ngejudge sesuka hati dan ya asal jeplak aja. Di Twitter kebanyakan orang toxic yg berkedok open minded, beda pendapat dikit langsung diserang. TBH gapernah buka tiktok jadi ga tau netizen didalemnya. tapi yang paling unik dari semua netizen diatas adalah netijen nya Facebook. itu ibarat komen toxic nya di ig sama Twitter dicampur jadi satu. indescribable banget netizen fb. paling best lah! (dilihat dari sudut pandang yang berbeda).” ujar Putri.(23/3)

Gaya komunikasi pun berubah dari high context menjadi low context. Jika dahulu komunikasi hanya bisa dilakukan secara langsung dengan telepon, berkirim surat atau pesan teks kini tiap pengguna dapat dengan mudah berinteraksi melalui kolom komentar. Dalam penggunaan media sosial, selain terdapat tren dan dampak positif, komentar kurang pantas berupa perkataan straight to the point atau tanpa filter pun seringkali ditemukan dan menjadi hal yang kemudian sering dinormalisasi oleh masyarakat. 

Penelitian yang dilakukan oleh The Journal Depression and Anxiety menunjukan bahwa terjadi peningkatan angka gejala depresi sebesar 10% dari komentar negatif di sosial media. Selaras dengan dilansir dari halodoc.com Dr. Brian Primack seorang Direktur The Center for Research on Media, Technology and Health dari University of Pittsburgh berpendapat bahwa naluriah manusia lebih mudah terpengaruh dari pengalaman negatif daripada positif. Manusia remaja atau dewasa umumnya sudah dapat menerima dan mengelola informasi dengan baik. 

Besarnya pengaruh media sosial terhadap kehidupan penggunanya membuat semua elemen yang terlibat dalam penggunaan media sosial harus bersikap lebih bijak dalam berinteraksi satu sama lain. Pentingnya membatasi diri untuk tidak memberikan komentar negatif kepada pengguna sosial media lain dan memfilter segala jenis informasi yang didapatkan dari sosial media dapat menjadi langkah preventif sekaligus bagian dari solusi yang dapat kita lakukan mulai dari sekarang.

 

Daftar Rujukan:

Andres Kaplan & Michael HaenLein, 2010.User Of The World, Unite! The Challenges and Opportunities Of Social Media, Business Horizons.

Badan Pusat Statistik. (n.d.). Persentase Penduduk Usia 5 Tahun ke Atas yang Pernah Mengakses Internet dalam 3 Bulan Terakhir Menurut Kelompok Umur (Persen), 2018-2020. Badan Pusat Statistik. Retrieved April 1, 2022, from https://www.bps.go.id/indicator/2/840/1/-persentase-penduduk-usia-5-tahun-ke-atas-yang-pernah-mengakses-internet-dalam-3-bulan-terakhir-menurut-kelompok-umur.html

Fadli, R. (2019, October 15). Awas, Komentar di Sosmed Bisa Berakibat Fatal. Halodoc. Retrieved April 1, 2022, from https://www.halodoc.com/artikel/komentar-di-sosmed-bisa-berakibat-fatal

Pakar Komunikasi. (2022, April 2). Teori Jarum Hipodermik – Asumsi – Konsep – Kritik – PakarKomunikasi.com. Pakar Komunikasi. Retrieved April 5, 2022, from https://pakarkomunikasi.com/teori-jarum-hipodermik

Riset: Beda Media Sosial, Beda Karakter Penggunanya | kumparan.com. (2018, November 13). Kumparan. Retrieved April 1, 2022, from https://kumparan.com/millennial/riset-beda-media-sosial-beda-karakter-penggunanya-1punzgANRMJ

Riyanto, A. D. (n.d.). Hootsuite (We are Social): Indonesian Digital Report 2020 Andi Link. Retrieved April 9, 2022, from https://andi.link/hootsuite-we-are-social-indonesian-digital-report-2020/

peyunting : Citra Mediant, Aurelia Twinka & Wahyu Wahidatu Syifa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *