Klitih : Mata Rantai Senioritas dan Persoalan Akar Rumput

Oleh : Farhan Syahreza (Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia)

Jargon kota Yogyakarta yang terkenal sebagai kota yang ramah pelajar dengan banyaknya kampus dan sekolah, hari ini kian memudar. Muncul keresahan dari berbagai kalangan baik pelajar/mahasiswa maupun masyarakat Yogyakarta sendiri. Hal ini disebabkan karena maraknya kasus “klitih” yang kerap memakan korban. Berdasarkan data dalam kurun waktu awal tahun 2020 hingga November 2021 terdapat 58 laporan ke pihak Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta. Pelaku berjumlah 102 orang yang terdiri dari 80 orang pelajar dan 22 orang tidak bekerja. Modus operandi penganiayaan berjumlah 32 kasus, kejahatan jalanan dengan senjata tajam 25 kasus, serta 1 kasus dengan modus perusakan. Hingga kasus yang terbaru menewaskan seorang siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta di wilayah Gedongkuning, Yogyakarta. Teror yang bertebaran ini telah mencoreng Yogyakarta yang memiliki slogan “Berhati Nyaman”. 

Sejarah dan Mata Rantai Senioritas

Klitih dikenal sejak lama oleh kalangan pelajar Yogyakarta, hal ini merupakan salah satu aturan dari geng atau perkumpulan di dalam sekolah. Tujuan dari klitih ini sebagai “tes mental” bagi siswa baru di sekolah-sekolah menengah atas. Geng-geng di beberapa SMA menerapkan aturan ini dan tidak terlepas dari budaya senioritas. Perkelahian pelajar mendorong siswa agar dapat membela diri. Persaingan-persaingan antar SMA menjadi hal yang lumrah terjadi. Ketika seorang siswa bertemu dengan sekolah “lawan” maka ia harus menerima konsekuensi antara menyerang atau diserang. Mata rantai ini tidak pernah putus dan menjadi dendam warisan bagi kalangan pelajar. Klitih sebelum marak saat ini hanya terjadi di kalangan siswa pelajar, target pun juga hanya pelajar yang merupakan siswa sekolah musuh. Pencarian jati diri remaja merupakan salah satu faktor mengapa hal ini terjadi. Namun pada saat ini, telah terjadi pergeseran yang signifikan dari peristiwa klitih. Hal ini terjadi di kalangan remaja yang notabene putus sekolah dan siswa SMP. Persebaran kasus klitih pun sudah tidak berada di wilayah Kota Yogyakarta, melainkan daerah Sleman dan Bantul. Mereka berasal dari perkampungan pinggiran kota yang terpapar budaya di lingkungan rumah. Target mereka tidak pandang bulu, remaja bahkan orang dewasa menjadi korban tindakan mereka. Kenakalan remaja telah bergeser menjadi tindak kriminalitas yang serius. Peralihan pembelajaran dari sekolah ke rumah menjadi momentum awal maraknya kasus klitih. Kontrol dari guru maupun lembaga sekolah terhadap perilaku dan perkembangan siswa terhambat. Sehingga tindakan-tindakan kriminal tidak dapat terlacak dan diawasi. 

Budaya senioritas yang mengakar menjadi faktor pendorong seseorang melakukan praktik klitih tersebut. Senioritas dalam artian luas bukan hanya mencakup geng di sekolah, begitu pula yang terjadi di lingkungan rumah. Hal ini sempat terjadi di wilayah Jakarta, yang mana tawuran antar sekolah telah beralih arena menjadi tawuran kampung. Peralihan ini yang melahirkan gangster yang dikenal di beberapa wilayah Jakarta. Gangster ini merupakan sekumpulan remaja yang beranggotakan remaja usia 14 – 18 tahun dengan pola yang sama dengan klitih. Namun pihak kepolisian dengan tokoh-tokoh masyarakat dapat melacak keberadaan anggota gangster tersebut, sehingga kasus tersebut dapat ditekan oleh kedua pihak tersebut. 

Pengaruh Akar Rumput

Yogyakarta didominasi oleh dua partai besar yang secara sejarahnya telah mengakar di kalangan masyarakat Yogyakarta. Premanisme juga sangat lekat pada kedua partai tersebut dan menjadi cerita kelam kota pelajar. Kampung-kampung di Yogyakarta sudah dapat dipetakan melalui basis-basis partai yang berada di sana. Wilayah “Merah dan Hijau” menjadi salah satu hal yang umum diketahui oleh masyarakat. Pengaruh underbow dari kedua partai tersebut memegang peranan penting dalam melakukan komunikasi dengan tokoh-tokoh di wilayahnya, khususnya remaja. Proses peralihan kanak-kanak menuju remaja merupakan masa krusial. Tahapan ini dipenuhi dengan pencarian pola hidup yang sesuai dengan diri remaja. Rawan terjadi penyimpangan norma pada tahapan tersebut. Krisis identitas menjadi faktor utama dari terjadinya kasus klitih pada kalangan remaja. Pengaruh lingkungan merupakan akar dari permasalahan tersebut. Kondisi akar rumput yang telah terpolarisasi pergulatan politik mengarah pada kekerasan dan tindakan kriminal lainnya. Rivalitas akar rumput tersebut juga menghadirkan kondisi perkelahian dan menjadi tontonan bagi kalangan remaja. Cerita dari mulut ke mulut mempengaruhi perilaku remaja yang sedang dalam tahapan krisis identitas. Seorang ‘jagoan’ yang memiliki nama terkenal atau dikenal karena keberaniannya secara tidak langsung mempengaruhi penokohan di dalam diri remaja. Realitas yang terjadi di lingkungannya mendorong seseorang agar dapat bertahan dan eksis di tengah kelompok masyarakatnya. Tokoh-tokoh politik di akar rumput yang memegang posisi penting di kelompok masyarakatnya bertanggung jawab atas kenakalan remaja yang terjadi di wilayahnya. Pola asuh keluarga akan menjadi sia-sia ketika tokoh-tokoh tersebut tidak mengambil momentum untuk meredakan keadaan. Tokoh-tokoh politik akar rumput tersebut menciptakan kondisi patron – klien, sehingga ketika seseorang merasa terancam dan kontrol sosial tidak dapat lagi dijadikan sebagai suatu acuan, maka hubungan patronase dipilih sebagai mekanisme atau sarana perlindungan. 

Ketidaktegasan Pemerintah Daerah DIY

Sri Sultan Hamengkubawono X merespon kejadian klitih pada tanggal 5 April 2022. “Memang kami tidak bisa jika masyarakatnya sendiri, orang tuanya sendiri tidak bisa mengendalikan anaknya. Kami bisanya hanya punya harapan” ujar beliau dalam wawancara di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. Pernyataan tersebut menjadi satu hal yang harus digaris bawahi, bahwa belum ada ketegasan dari Pemerintah Daerah DIY terhadap peristiwa klitih tersebut. 

Sri Sultan Hamengkubawono X yang menjabat sebagai gubernur, memiliki tanggung jawab yang besar untuk menyelamatkan citra Yogyakarta. Kolaborasi antara pemerintah, kepolisian, tokoh masyarakat, dan keluarga merupakan kunci penting dalam pemberantasan klitih. Penurunan kasus begal di Depok dapat menjadi satu acuan dalam penanganan klitih di Yogyakarta. Maraknya razia dan patroli di wilayah Depok serta terbentuknya satuan tim khusus dari pihak Kepolisian dapat menekan angka kasus begal. Hal tersebut juga dapat diterapkan di Yogyakarta dengan penjaringan besar-besaran terhadap pelaku klitih dan menyandarkan tindakan pencegahan dengan aturan atau prosedur yang berlaku. Ketegasan pemerintah dapat merangsang tindakan Kepolisian Daerah DIY guna mempercepat penganggulangan kasus klitih. 

Negosiasi dan kekompakan antara para pemangku kebijakan dalam hal ini pemerintah, kepolisian, tokoh masyarakat, dan keluarga merupakan kunci utama. Pemerintah dapat melaksanakan suatu kebijakan-kebijakan tertentu guna menjadi dasar bagi aparat penegak hukum bertindak. Tokoh masyarakat yang memegang peranan besar dan dekat dengan warga juga menjalankan fungsi kontrol. Dua partai besar di Yogyakarta juga memiliki tanggung jawab terhadap wilayah akar rumputnya, hal ini demi kepentingan bersama dan kemajuan Yogyakarta. Keluarga sebagai kelompok terkecil harus dapat mengantisipasi perilaku remaja dengan penanganan yang sesuai. Gejolak batin di dalam diri remaja harus dimengerti dan diarahkan, karena semata-mata dapat menjadi bom waktu bagi siapapun. 

 

___________________________________________________________________________

Tulisan ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi Kognisia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *