Aksen Jaksel: Pengaruhnya Terhadap Pola Ketatabahasaan Kawula Muda

Oleh: Haidhar F. Wardoyo

Akhir-akhir ini, terdapat suatu fenomena ‘aksen Jaksel’ atau gaya bahasa yang khas digunakan oleh kawula muda Jakarta Selatan. Lambat laun aksen ini semakin santer digunakan hingga seantero negeri. Bermula dari tahun 2018, di mana penggunaannya hanya sebatas pada platform media sosial Twitter dan tempat-tempat tongkrongan di kawasan Jakarta Selatan saja. Tak disangka, aksen Jaksel kini justru berkembang hingga tak lagi menjadi fenomena yang naik lalu hilang begitu saja.

Fenomena ini kemudian menjadi sebuah pola ketatabahasaan yang eksis berdampingan dengan kehidupan sehari-hari. Penggunaan kata-kata yang selalu hadir dalam unsur kebahasaan dari aksen Jaksel seperti which is, literally, dan lainnya menjadi sesuatu yang lumrah didengar.  Lantas, bagaimana sebenarnya fenomena ini bisa menyebar dan turut serta digunakan oleh khalayak luas? 

Antara Code-Mixing, Code-Switching, dan Interferensi

Aksen Jaksel sebenarnya merupakan sebuah pola kebahasaan yang sangat simpel. Sebab, pada dasarnya aksen ini hanya mencampuradukkan antara kosa kata Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris saja. Kita juga dapat beberapa kali mendengar dan menemuinya di beberapa kota metropolitan lain seperti Surabaya—meskipun dengan logat yang tentu saja berbeda.

Fenomena mencampuradukkan kosa kata juga dapat ditemui pada lagu-lagu yang biasa didengarkan serta serial maupun acara televisi yang biasa di tonton. Sebut saja lagu dan serial drama Korea atau Spanyol yang tak jarang menyelipkan peralihan atau mencampuradukkan dua bahasa. Hal ini yang mungkin membuat kawula muda selaku konsumen utama dari produk industri hiburan tersebut turut serta menggunakan gaya bahasa ini.

Gaya bahasa campur aduk juga dijelaskan melalui ilmu bahasa atau linguistik dalam dua istilah yang berbeda. Pertama, ada istilah code mixing (campur kode) yang dalam penggunaannya berarti mencampuradukkan atau menggunakan dua bahasa sekaligus dalam satu kalimat. Kemudan, ada juga istilah code switching (alih kode) atau penggunaan dua atau beberapa bahasa sekaligus dalam satu percakapan dengan tujuan agar lebih memudahkan dan menyesuaikan diri dengan pendengar lainnya (Chaer & Agustina, 2004).

Perihal penggunaan aksen Jaksel ini, istilah code mixing sepertinya lebih relevan digunakan dalam mendefinisikan fenomena yang ada. Fauzan Al-Rasyid, penggemar dan pemerhati bahasa sekaligus Senior Editor Russia Beyond dalam sebuah wawancara dengan Kognisia (20/03) menjelaskan bahwa penggunaan dua bahasa, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dalam konteks kebahasaan aksen Jaksel memang tergolong dalam code mixing. “Code mixing itu simpelnya ya, penggunaan bahasa yang separuh-separuh dalam suatu kalimat, seperti yang kita biasa dengar dari aksen Jaksel.” Jelas Fauzan. Di mana frasa-frasa yang dicampuradukkan tersebut kemudian membentuk pola kalimat yang relevan dengan kategorisasi tersebut.

Sementara itu, dapat melihat dan mendengar penggunaan code switching dalam lingkup yang sedikit lebih kecil dan eksklusif. Sebut saja ketika seorang dosen sedang mengajar di kelasnya, pejabat berpengaruh yang sedang menjelaskan sesuatu, pebisnis yang sedang berbincang dalam pertemuan mingguan, hingga individu yang bertemu individu lain dengan latar belakang asal daerah yang sama. Mereka cenderung menggunakan pola kebahasaan yang lebih terstruktur dengan penuh penyesuaian, sama seperti kategorisasi dari code switching.

Adapun baik itu code mixing atau code switching biasanya digunakan untuk sekadar berkomunikasi saja. Sebab, cara berkomunikasi itu menunjukan identitas, wawasan dan status diri. Hal ini yang mungkin membuat kawula muda masa kini lebih suka menggunakan aksen jaksel dan menormalisasinya sebagai salah satu aspek yang melekat dalam percakapan harian mereka.

Fenomena ini juga membawa pada suatu analisis mengenai latar belakang penggunaan aksen dan bagaimana bisa diterima oleh masyarakat luas. Fauzan menjelaskan bahwa hal tersebut masuk ke kajian sosiolinguistik yang berfokus pada motivasi masing-masing individu. Selain itu juga karena memiliki keterkaitan dengan suatu istilah baru, yaitu ‘interferensi’.

“Interferensi adalah penggunaan bahasa asing tetapi dengan struktur dan tata kebahasaan yang sama dengan bahasa ibu kita,” sambung Fauzan. Singkatnya, kita menggunakan bahasa asing tetapi dengan gaya bahasa lokal. Hal ini dapat dilihat pada akulturasi bahasa antara Malaysia dan Inggris seperti, “Ya, you know lah,” yang sudah sangat lazim digunakan di Malaysia itu sendiri.

Pengaruhnya Terhadap Cara Berkomunikasi Masyarakat

Media merupakan salah satu instrumen yang berkontribusi besar dalam penyebaran eksistensi fenomena aksen Jaksel. Media memfasilitasi penyebaran kata-kata atau istilah baru, terutama dalam konteks aksen Jaksel dan menjadikan fenomena tersebut menjadi sesuatu yang lazim. Media sosial maupun media massa terus menggaungkan fenomena tersebut sehingga masyarakat pun pada akhirnya dapat menerimanya dengan baik.

Lebih dari itu, masyarakat juga sudah sangat terbiasa dengan penggunaan kosa kata asing dalam percakapan maupun aspek kehidupan sehari-hari.

“Hal ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi kita karena memang di era sekarang, semua hal berkaitan langsung dengan bahasa asing dan kita memang nggak bisa menghindari terpaan bahasa asing.” Tutur Fauzan.

Contohnya, pada penggunaan istilah work from office (WFO) dan work from home (WFH) yang mencuat pada masa pertengahan pandemi lalu. Pemerintah terlalu lambat dalam menerjemahkan, menyerap, atau memberikan padanan pada kata asing tersebut. Ditambah dengan media yang sudah terlanjur menyebarluaskan istilah asing alih-alih menggunakan padanan terjemahan seperti kerja dari kantor (KDK) dan kerja dari rumah (KDR).

Beberapa faktor tersebut pada akhirnya membawa fenomena aksen Jaksel pada pengaruh yang signifikan terhadap kehidupan sosial kawula muda, terutama dalam aspek berkomunikasi. Dampak positifnya tentu saja ada, seperti misal dapat lebih akrab dengan bahasa asing yang digunakan atau lebih nyaman dalam berkomunikasi. Namun, berkomunikasi tidak sebatas sama-sama paham atau sama-sama nyaman saja. 

Sebab dalam berkomunikasi, sebagai seorang manusia memiliki tata bahasa, struktur, dan kaidah-kaidah yang harus dipahami. Hal tersebut ada agar kita dapat berkomunikasi secara efisien, efektif, dan pesannya tersampaikan. Ini yang membedakan kita sebagai manusia dengan binatang yang mereka pun berkomunikasi sama-sama paham, tetapi tidak memiliki struktur kebahasaan seperti halnya manusia.

Fauzan juga menambahkan bahwa dampak negatif dari fenomena aksen Jaksel juga tak sedikit. “Menurut saya, orang-orang yang bicaranya campur-campur berarti dia nggak mampu mengekspresikan apa yang dia rasakan atau utarakan melalui bahasa ibu mereka. Kosa-kata mereka sangat terbatas dan cenderung minim, entah itu dalam konteks berbicara maupun menulis.” 

Eksistensi aksen Jaksel atau gaya kebahasaan khas yang akhir-akhir ini menyebar luas pada dasarnya memang dapat dilihat sebagai suatu fenomena sosial. Pengaruhnya memang begitu besar terutama dalam pola ketatabahasaan masyarakat Indonesia, spesifiknya anak-anak muda. Namun, ada baiknya masyarakat dapat lebih seimbang dalam menggunakan bahasa, jangan berlebihan dan gunakanlah bahasa itu sesuai dengan kapasitasnya.

Akhir kata, sedikit mengutip dan menyesuaikan amanat dari UU Nomor 24 Tahun 2009 tanggal 09 Juli 2009, tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan, yakni utamakan penggunaan Bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing. 

Daftar Pustaka

Al Rasyid, Fauzan interview. 20 Maret 2022. “Interview of Accent Jaksel Phenomenon”. Zoom Meetings.

Chaer, A., & Agustina, L. (2004). Sosiolinguistik : Perkenalan Awal. Rineka Cipta.

Nurdiarsih, F. (2018, September 15). KOLOM BAHASA: Gaya Bahasa Anak Jaksel, Cuma Tren atau Keruwetan Berpikir? Liputan6.com. Retrieved March 23, 2022, from https://www.liputan6.com/citizen6/read/3643014/kolom-bahasa-gaya-bahasa-anak-jaksel-cuma-tren-atau-keruwetan-berpikir

Penyunting : Lulu Yahdini dan Citra Mediant

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *