Bayu Hitam

Kontributor  Reyhan Majid

Sekarang pukul 12 siang di London, pukul 7 pagi di Philadelphia, dan tentu saja, pukul tujuh malam di Jakarta. Atau dalam pembagian waktu di Indonesia berdasarkan zonanya, waktu Jakarta mewakili WIB. Seperti malam-malam pada umumnya, semua tampak normal dan baik-baik saja. 

Sebaik apapun tata letak ruang tamu, kamu atur, bahkan sesuai arahan feng shui sekalipun, itu tidak akan mengurangi kemungkinan nasib buruk menimpamu. Ada beberapa penjelasan, mungkin saja zodiakmu Gemini atau Libra mereka erat dengan kesialan, atau kamu lupa menaruh aquarium disana, sehingga dalam kepercayaan tiongkok, energi baik sulit masuk, terakhir, alih-alih membaca feng shui kamu malah membaca komik Kung Fu Boy.

Oleh sebab itu, gemerlap lampu jalan serta kendaraan yang melintas, atau barangkali pasar malam, atau atlet balap lari sekalipun, tidak cukup mampu menutupi serba-serbi gejala masyarakat urban yang rumit dan ruwet. Kerumitan mereka serupa kepedihan tragedi Yunani, kecerdasan Shakespeare, dan kegembiraan teater musikal.

Gejala-gejala kemasyarakatan di atas sepertinya rutin ditampilkan di Royal Albert Hall London, atau di The Fillmore Philadelphia, mereka sungguh terlatih. Sebab di Jakarta semua itu hanya akan masuk berita televisi pagi dan sore, yang pembawa beritanya mengalami kebotakan dini.

**

Malam ini aku sedang tidak ingin melakukan apapun. Aku hanya berbaring dengan bantal menyangga kepalaku, lalu selimut tipis dengan motif bergaris ala rumah sakit menutupi sekujur tubuh. Aku sebetulnya terlahir dengan segudang cita-cita, pada umur 10 tahun aku ingin menjadi seorang koki. Tepat dimana ayah dan ibuku bercerai. 

Sejak saat itu aku gemar memasak, bukan karena aku pandai memasak. Memasak mengingatkanku pada ibu yang ternyata memasak itu membosankan, aku selalu gagal membuat sayur lodeh, aku juga kesulitan membedakan garam dengan gula. Pada umur 17 tahun, aku ingin menjadi polisi, setelan seragam ketat yang menonjolkan bentuk otot di lengan, serta berbagai lencana di seragam itu, sangat menyorot perhatianku. Kemudian di umur 17 tahun pula, aku ditilang polisi untuk ketiga kalinya, saat itu SIM ku belum jadi, lebih tepatnya aku agak malas mengurusnya. Sejak saat itu aku membenci profesi polisi. Sejak saat itu pula aku tidak punya cita-cita. Sampai akhirnya di umur 24 tahun aku memutuskan untuk benar-benar tidak punya cita-cita.

Meski begitu, aku tidak bisa bohong, aku ingin pergi keluar negeri. Kamerun, Kolombia, dan Kosta Rika, semua masuk dalam wishlist ku, beserta semua negara lain dengan awalan huruf “K”. Semisal: Kongo, dan Kirgistan. Tidak ada alasan, aku suka saja dengan huruf “K”.

Tapi terlepas dari semua itu, malam ini aku tidak ingin melakukan apa-apa. Aku hanya ingin mengingat-ingat masa lalu. Sekalipun tiba-tiba aku punya cita-cita, atau aku disodori tiket dan akomodasi gratis ke Kuwait, aku tetap ingin begini saja. Terlentang dengan tubuh yang terbungkus selimut, sembari mengingat-ingat masa lalu.

Menurutku, mengingat-ingat masa lalu, sama rasanya seperti berjalan di tepi Pantai Santa Monica, Los Angeles. Tapi tidak ada matahari yang hangat, tidak ada wisatawan yang berjemur, tidak ada juga yang menawari ganja atau jamur ajaib, hanya ada dirimu berjalan sendirian. Tidak ada lagu Summer dari Calvin Harris, atau Happy dari Pharrell William, yang ada hanyalah Symphony of Sorrowful Songs karya Henryk Gorecki. 

Menyusuri masa lalu tak pernah menyenangkan, sekalipun itu memori bagus, kamu akan tetap sedih, otentitas memori bagus tidak bisa diulang dua kali. Dari penyusuran pantai itu, kamu akan sampai di depan perpustakaan berisi seluruh memorimu. Kemudian kamu akan masuk dan mulai membaca satu per satu memorimu yang terpajang di sana. 

**

Sudah lama aku merencanakan liburan dengan Tania, istriku. Aku sangat mencintainya dan liburan singkat ini kuproyeksikan menjadi bulan madu yang tertunda selama lima tahun. Sungguh aku menikahinya dengan sepenuh hati namun dengan sedikit harta. 

“Semua sudah siap mas.” Ucap Tania dari dalam kamar.

“Baguslah sayang, sebentar lagi travel juga akan menjemput kita.” Aku menjawab dengan sedikit berteriak, maklum aku sedang berada di ruang tamu yang tidak ada aquariumnya.

“Jangan lupa obat-obatan yang kemarin kita beli sayang, dan jangan lupa jaket tebal. Perjalanan ke Batu Malang akan cukup jauh dan disana cukup dingin pula.” Tambah ku.

Selang setengah jam travel datang. Setelah menaikan seluruh barang bawaan kami ke atas travel dan menyelesaikan urusan pembayaran, kami diberikan denah tempat duduk dan langsung dipersilahkan naik sesuai dengan tempat yang ditentukan. Aku dan Tania dapat tempat duduk di belakang. Seharusnya deretan kursi ini mampu menampung tiga orang, tapi saat itu travel masih sepi. 

Butuh waktu kurang lebih 10 jam perjalanan darat dari Jakarta ke Batu Malang namun belum lama perjalanan dimulai, Tania sudah menyandarkan kepalanya ke pundakku. Mengingatkanku pada masa-masa pacaran yang indah juga menggelikan. Belum juga aku selesai mengingat-ingat, dia sudah tertidur pulas. Kugenggam tangannya selama perjalanan, seakan itu genggaman terakhir yang bisa aku berikan.

100 tahun adalah waktu yang singkat, apalagi 10 jam. Tak terasa kami sudah hampir sampai di tujuan. Dengan jelas aku melihat plang bertuliskan “Selamat Datang di Kawasan Batu Malang.”

“Bapak mau menginap di hotel mana ya? Karena di nota tidak tercantum tujuan penginapan bapak.” Sang supir tiba-tiba bertanya kepadaku, sambil melihat wajahku dari spion tengah.

“Tolong carikan hotel yang tidak terlalu mahal saja pak.” Jawabku. Aku menyadari betul, liburan kali ini tidak didukung dengan pendanaan yang baik. Tapi aku tidak ingin juga liburan ini terkesan backpackeran. Ya standar-standar saja.

Lantas travel berhenti pada sebuah hotel yang terlihat tidak begitu terurus, tapi tidak juga bisa dikatakan tidak terurus. Aku sedikit merasa familiar dengan tempat ini. 

Setelah selesai menurunkan semua barang, travel beranjak lalu kami mulai berjalan menuju lobi. Hotel ini bernama Hotel Jaya Kesuma, di samping pintu masuk terdapat sebuah Patung Buto. Patung Buto dalam Bahasa Sansekerta disebut dengan Dwarapala. Patung buto biasanya diletakan diluar candi, atau bangunan suci lainnya, yang bertujuan menjaga tempat suci itu dari orang jahat. Semua ini semakin membuatku merasa familiar.

**

Liburan berjalan begitu menyenangkan. Setidaknya semua sesuai dengan rencanaku. Kami berjalan-jalan ke Kebun Bunga Matahari, Peternakan Kuda Megastar, Coban Rais, Coban Rondo, dan Coban Putri. Coban berarti air terjun, karena terkesan hanya keliling-keliling air terjun, Tania merasa bosan dan ingin menghabiskan hari terakhir di sana dengan berdiam di hotel. Yang utama dari perjalanan ini adalah bulan madu, jadi seharian di hotel juga tidak ada salahnya.

Setelah selesai mencumbu satu sama lain, kami sama-sama kelelahan. Kami betul-betul melakukannya seperti masih muda dulu. Sungguh aku ingin melanjutkannya, namun seperti ku katakan tadi, kami sama-sama kelelahan. Aku memutuskan untuk keluar, sekedar mencari udara segar sambil menghisap rokok. 

Saat aku sedang duduk santai sambil melihat-lihat bukit atau pepohonan yang hampir tidak ada lagi di Jakarta. Semua betul-betul tenang sebelum seseorang datang dan mengagetkanku.

 

“Permisi mas.” Tanya seorang

 

“Iya pak?” jawabku gugup karena memang aku agak kesulitan berbicara dengan orang asing. Mungkin itu karena petuah ibuku, dia punya pengalaman buruk dengan orang asing.

 

“Nama saya Bayu Hitam, saya mau menawarkan ini.” Seraya membuka tas kecilnya. Dia mengeluarkan kayu berukuran kecil. Bentuknya seperti bambu runcing, tapi dengan ukuran yang sangat kecil. Kayu itu juga bukan Bambu, mungkin Mahoni, atau Akasia. Kurang lebih ukuranya sebesar jari manis orang dewasa.

 

“Tidak pak, terimakasih banyak, sudah banyak kerajinan dirumah saya.” Aku menolak halus, selain aku tidak butuh kerajinan, aku juga sedang menghemat uang baik-baik.

 

“Ini bukan kerajinan mas ini jimat. Siapapun yang memilikinya akan kaya raya.” Bayu Hitam coba menjelaskan, seperti kebanyakan sales pada umumnya, tapi dia lebih baik, aku pun tertarik. Aku teringat Tania. Dia sebetulnya ingin aku menghasilkan banyak uang, punya kerjaan yang mentereng. Selama liburan dia memang tampak baik dan menggemaskan, tapi aku yakin seminggu di rumah akan membuatnya mulai melemparkan perkakas ini dan itu.

Urusan ekonomi memang menyebalkan, dan aku selalu payah soal itu. Berapa keluarga yang bercerai atau saling bunuh karena gengsi sosial dan tekanan ekonomi. Beruntung Tania hanya melempar perkakas ini dan itu. Semua orang kurasa butuh jalan pintas, termasuk aku. Tidak ada salahnya mencoba jimat ini pikirku.

 

“Berapa harganya pak?” Tanyaku, berharap jimat itu tidak terlalu mahal.

 

“Ini saya kasih cuma-cuma mas, mas hanya perlu berjanji, kalau suatu hari saya telepon dan mas sudah sukses, pastikan jangan lupa berterima kasih ya mas.”

 

“Setauku dukun itu matre-matre, tapi kenapa Bayu Hitam sangat murah hati. Aku juga tidak tahu darimana dia datang. Mungkin dia keluar dari balik Buto itu. Atau Buto itu bisa berak? Dan wujud beraknya adalah Bayu Hitam. Bayu Hitam memang terlihat seperti gumpalan berak yang berjalan. Tapi kalau saja Buto itu berak dan mengeluarkan Bayu Hitam, bukankah itu lebih pantas disebut dengan proses melahirkan? Tapi setahuku Buto itu laki-laki, ah sudahlah.” Gumamku.

Setelah selesai bertukar nomor telepon, Bayu Hitam pergi. Aku melihat-lihat sebentar jimat itu, sebelum kemudian mengantonginya dan bersiap pulang.

**

Setelah hari itu, sungguh hidup begitu nikmatnya. Satu bulan setelah pulang dari liburan, jenjang ku di kantor naik. Kadang kala, saat waktu gajian tiba, bos memberikan insentif ini dan itu yang sangat banyak. Aku bahkan sering diberi jatah cuti cuma-cuma. Kadang kala, si bos juga memberiku tiket liburan gratis, kadang ke Bali, kadang ke Lombok, dan kadang-kadang tidak masuk akal.

Dengan bekal dana melimpah, aku pindah rumah. Sebuah apartemen yang cukup mewah. Tania terlihat sungguh sangat senang, meski ia terus bertanya mengenai semua sumber kekayaanku ini. Aku tidak memberitahunya tentang jimat dari Bayu Hitam, Tania memang pemarah, namun dia cukup taat pada agama. Minimal dia tidak mau terlibat kegiatan-kegiatan musyrik dan tahayul. Jika ku beri tahu tentang bos yang sebegitu baiknya padaku, jelas dia juga akan sulit percaya. Bos ku terkenal pelit dan jahat. Karena malas berdebat, ku bilang saja. 

“Proyek lagi banyak di kantor, dan rezeki tidak mungkin ditolak, kan?” Jawaban itu jelas tidak memuaskannya, karena pekerjaanku hanya santai-santai dan sesekali liburan dengannya.

Semua berjalan dengan baik selama kurang lebih dua tahun.  Tania Bahagia, dan itu yang utama untukku. Hubungan kami harmonis. Kami jadi sangat dekat, dan sering bercumbu. 

Tapi perlahan semua mulai berubah, aku merasa kehilangan ketertarikan pada Tania. Aku tidak sedang mencintai wanita lain diam-diam. Aku sangat mencintai Tania, tapi entah mengapa aku tidak lagi selera dengannya. Kalau ada kucing yang tidak suka daging ikan, itulah aku. Dan aku benar-benar kebingungan. 

Semua berjalan terus-menerus. Perlahan, Tania mulai menyadari perubahanku. Dia seringkali menanyakan apa yang terjadi padaku. Seperti biasanya pula, aku hanya menjawab bahwa aku tidak papa, aku sebenarnya merasa aneh, tapi aku tidak bisa menjelaskan mengapa.

Perasaan tidak nafsu kepada Tania mulai meningkat menjadi muak. Aku tidak lagi bisa melihat mukanya, setiap kali melihat raut mukanya, aku hanya ingin meludahi atau memukulnya dengan talenan kayu di dapur. Akhirnya, aku mulai sering menghindarinya.

Tepat di hari pernikahan kami yang ke sembilan, aku menceraikannya. Aku tahu ini salah, tapi aku tidak bisa membendung untuk mengatakannya. Semua berlalu begitu saja. Kami bercerai, dan Tania pulang ke orang tuanya. Sebelum pergi Tania berkata.

“Jika memang ada orang lain di balik semua ini, pastikan kamu mati bersamanya!”

Kata-kata Tania terus terngiang di pikiranku. Setelah kepergiannya, perasaanku jadi tidak karuan. Aku sering melamun, tidur terlalu lama, sampai kesulitan berpikir. Hal-hal indisipliner semacam ini, membuat aku dengan cepat di pecat dari kantor. Dalam sekejap semua sungguh berantakan.

Dalam suasana yang carut-marut, telepon genggamku berdering.

 

“Apa kabar Mas Rinto? Sudah sukses sekarang yah?”

 

“Terimakasih.”

**

Di dalam pustaka ingatanku, aku menemukan sebuah memori tentang aku dan keluargaku yang berlibur saat itu. Destinasi wisatanya adalah Batu Malang. Saat itu sangat menggembirakan. Ayah ku sangat sibuk, dan bisa berlibur bersama, merupakan sebuah mukjizat. 

Dalam ingatan itu, aku dan keluargaku menginap di sebuah hotel yang terlihat tidak begitu terurus, tapi tidak juga bisa dikatakan tidak terurus. Hotel itu bernama Hotel Jaya Kesuma. Di dekat pintu masuknya terdapat Tugu Buto.

Aku tidak begitu mengenal siapa dia, tapi ayahku sempat membeli semacam sebuah jimat dari seseorang yang mukanya menyeramkan sekaligus menyebalkan. Itu terjadi tepat di hari kepulangan kami. Aku dan ibu perlu menunggu sekitar setengah jam di dalam travel, sebelum ayah menyusul masuk.

Hari-hari setelah liburan itu sangat membingungkan. Aku sekeluarga pindah rumah. Kami pindah ke sebuah perumahan elit. Ayah mendadak sangat kaya raya. Sampai sekarang aku tidak tahu kenapa. Tapi suasana saat itu sangat aku benci. Setelah kaya raya dan aku rasa segala kebutuhan kami tercukupi, ayah dan ibu bercerai. Aku tak tahu alasan pastinya, ibu hanya berpesan padaku, untuk tidak mudah bicara dengan orang asing.

Setelah hari perceraian itu, ibu menikah dan bahagia, sementara ayah, terus menyebutkan nama “Bayu Hitam” sampai dia dibawa kerumah sakit jiwa dua minggu kemudian.

**

“Pak Rinto, maaf membangunkan, Dokter Budiman mau bicara sebentar.”

Suster membangunkanku, aku tidak ingat apa-apa lagi. Aku bahkan tidak mengerti dengan pasti apa yang suster dan dokter bicarakan di depanku. Aku hanya mendengar kata: kejiwaan, rumah sakit, antidepresan, dan obat bius. Aku tidak paham apa yang mereka bicarakan.

“Pak Rinto, saya Dokter Budiman, ini sudah kontrol ketiga, gimana rasanya sekarang, udah enakan badannya? Coba bapak pengen cerita apa silahkan.” Pinta Dokter Budiman.

 

“Bayu Hitam.” Jawabku.

**

Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Muhamaddiyah Yogyakarta (UMY)

**

Cerita pendek ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi Kognisia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *