Oleh: Liotta Pangestu
Budaya patriarki adalah budaya yang menganut sistem konstruksi sosial yang menempatkan posisi laki-laki lebih superior dibandingkan perempuan. Dalam budaya patriarki, perempuan diposisikan sebagai inferior dan hanya berhak mengikuti peraturan yang ada. Selain itu, budaya ini telah diturunkan secara turun temurun sehingga telah tertanam di benak masyarakat bahwa kaum laki-laki adalah nomor satu, istimewa, dan dominan. Pola pikir seperti inilah yang menyebabkan budaya patriarki masih langgeng hingga kini serta menjadi faktor banyak terjadi kasus penindasan dan eksploitasi terhadap perempuan, pelecehan seksual, pemaksaan perkawinan, pemaksaan kehamilan, pemaksaan aborsi, dan masih banyak lagi.
Namun, nyatanya tidak banyak orang yang berani mengungkapkan isu-isu tersebut. Berbeda dengan Lamia Putri Damayanti. Penulis ini cukup berani mengangkat isu-isu sosial yang dialami oleh para perempuan. Ia membawakan isu-isu sosial yang kerap terjadi di masyarakat tersebut ke dalam bentuk yang unik yaitu berupa kumpulan cerita pendek dengan tema “rahasia” yang diberi judul Nona Penyimpan Rahasia. Sesuai dengan judulnya, buku ini berisi dua belas cerita pendek yang mengisahkan tentang rahasia masing-masing tokohnya. Dalam kumpulan cerpen ini, rahasia yang dimaksud bukanlah aib bukan juga suatu kebohongan atau dusta melainkan ranah privasi tiap individu yang disimpan erat untuk tetap bertahan hidup.
Dalam buku ini ada tiga cerita pendek yang menarik karena penulis mampu menggambarkan potret kehidupan para perempuan yang kerap terjadi di masyarakat hingga pembaca merasakan suasana yang emosional. Contohnya seperti kutipan di bawah ini.
“Kau mau sebut aku ini munafik? Kalian semua mau bilang aku kurang iman? Kalian pasti juga mau bilang kalau aku tidak berusaha maksimal, kan? Bagaimana jika kasih kami kesempatan? Setidaknya, beri kami kesempatan untuk bernyanyi tanpa dapat gangguan dan pelecehan dari lelaki.” (halaman 29)
Kutipan ini berasal dari cerita pendek “Kolom Komentar” yang mengisahkan seorang biduan yang dirundung melalui kolom komentar di media sosial karena videonya yang menggunakan pakaian seksi dan bernyanyi viral. Semua orang menghujat biduan tersebut dan memberi cap “murahan”, “sundal”, dan berbagai macam hujatan lainnya. Kisah ini sangat menggambarkan potret banyaknya kasus pelecehan terhadap biduan atau penyanyi yang terjadi di Indonesia.
Ketika terjadi pelecehan pada biduan yang menggunakan pakaian seksi, masyarakat akan cenderung menyalahkan pihak korban karena menggunakan pakaian yang terbuka. Lantas, apakah artinya dengan menggunakan pakaian terbuka semua orang menjadi berhak untuk menyentuh atau meraba bagian tubuh orang lain tanpa izin? Apakah menggunakan pakaian terbuka artinya setuju untuk disentuh? Ketika pihak korban memilih untuk speak up mengenai pelecehan yang dialami, ia akan dihakimi oleh masyarakat dengan dihujani pertanyaan “mengapa tidak melawan saja?”
Hal yang sama terjadi ketika biduan dilecehkan. Mereka dihujat dan dihakimi atas pelecehan yang mereka alami oleh masyarakat. Padahal, mereka juga seorang manusia yang sedang berjuang untuk bertahan hidup dengan caranya sendiri yaitu menyanyi.
“Apakah video itu konten porno? Mengapa orang bisa terangsang dengan konten kekerasan? Seharusnya orang-orang berempati. Bukan bermasturbasi. Internet begitu gelap. Tetapi manusialah yang tetap paling mengerikan. Sebab gelapnya internet berasal dari manusia juga.” (halaman 107)
Kutipan yang kedua ini berasal dari cerita yang sangat tragis sekaligus mengerikan yaitu “Tayang 24/7”. Cerpen ini mengisahkan tentang seorang remaja laki-laki yang melaporkan penyebab kakak perempuannya bunuh diri adalah karena video porno dengan pelakon utama sang kakak perempuan tersebar. Video porno yang diambil dengan cara biadab yang tak lain adalah pemerkosaan oleh beberapa lelaki dan bahkan salah satu pemerkosa tersebut adalah pacar sang kakak perempuan.
Namun, tanggapan aparat terhadap laporan sang adik laki-laki tersebut hanya dianggap sebagai lelucon belaka. Cerita yang tragis, tetapi realita lebih tragis lagi. Realitanya kisah seperti ini banyak terjadi. Mirisnya, ketika seorang perempuan diperkosa yang disalahkan oleh masyarakat adalah sang korban.
Terlebih lagi jika pelaku pemerkosanya adalah pacar atau orang terdekat, maka akan dianggap melakukan hal tersebut dengan sama-sama suka. Bahkan, aparat yang seharusnya melindungi pihak korban nyatanya banyak yang dianggap masalah sepele sehingga tidak ditangani. Hal ini menyebabkan banyak korban tidak mendapat keadilan dan para pelaku tersebut berkeliaran bebas tanpa rasa takut. Korban sudah diperkosa, dihakimi masyarakat, tidak mendapat keadilan sedikitpun. Oleh sebab itu, patut diapresiasi karena realita yang tragis ini sukses diilustrasikan oleh Lamia dengan penulisannya yang cakap dan berani.
“Aku lahir sebagai seorang istri, kemudian menjadi seorang ibu, tetapi mati sebagai seorang pengarang. Aku tidak bilang bahwa menjadi istri atau ibu adalah sesuatu yang buruk. Tetapi kalau kau hidup di dalam sebuah tekanan, kurasa tak ada satu pun perempuan yang akan merasa dirinya utuh, memikul beban berat yang bukan main mulia dengan menjadi seorang istri sekaligus ibu.” (halaman 135)
Kutipan yang terakhir ini berasal dari kisah “Tanpa Nama” yang menceritakan tentang kehidupan rumah tangga sepasang penulis. Sayangnya, sang suami bukanlah pasangan yang baik. Sang suami adalah tipe lelaki yang maskulinitasnya mudah rapuh karena karier istrinya lebih melejit dibandingkan dirinya. Parahnya lagi, ia memaksa istrinya untuk memiliki anak dan ditekan oleh berbagai pihak untuk melahirkan dengan cara normal dan tidak boleh sesar.
Omong kosong dan janji-janji manis akan bersama-sama membesarkan si buah hati yang dilontarkan oleh suaminya juga tak pernah direalisasikan. Nyatanya, suaminya hanya berkutat pada persoalan pekerjaannya saja dan tak pernah sekalipun ingin mengetahui urusan domestik maupun anaknya. Tragisnya, setelah punya anak sang istri harus berhenti mengerjakan mimpinya sehingga dapat mengurus si buah hati. Mengulik dari kisah “Tanpa Nama” ini nyatanya banyak terjadi pada perempuan di masyarakat. Seakan perempuan diciptakan hanya untuk berkutat pada urusan domestik dan urusan anak.
Menyedihkan sekali, perempuan seringkali terjebak pada situasi yang membuatnya harus berhenti bekerja sehingga memiliki ketergantungan ekonomi terhadap suaminya karena harus mengurus anaknya. Padahal, anak merupakan urusan kedua belah pihak tetapi pandangan masyarakat beranggapan bahwa sudah sewajarnya untuk perempuan berkorban lebih banyak dalam mengurus anak karena menurut mereka hal itu sudah kodratnya. Dalam banyak hal, perempuan dituntut untuk harus mengorbankan mimpinya, pekerjaannya, dan dirinya sendiri hanya karena pasangannya egois dan tak mau bekerja sama dalam hubungan rumah tangga tersebut sehingga salah satu harus berkorban terus menerus.
Jika ada kata yang bisa mendeskripsikan buku ini mungkin hanya kata “menakjubkan”. Hanya dengan 171 lembar, Lamia dapat menggambarkan dengan apik banyak potret gelap kehidupan perempuan yang disebabkan keegoisan dan budaya patriarki yang berada di masyarakat. Sangat direkomendasikan kepada para pembaca yang suka mengenai persoalan sosial seperti feminisme, patriarki, atau misoginis.
Tulisan ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi Kognisia.
Penyunting: Haidhar F. Wardoyo
Grafis: Zaid Hafizhun Alim