Kabar Kabar Estetik

Menyaksikan Keberagamaan Cerita Tersembunyi di Rumah Adat Sade

Oleh: Youmi Hanesfu Noor

Suku Sasak Sade rasanya sudah tidak asing didengar oleh masyarakat setempat serta wisatawan dari mancanegara. Suku in bertempat tinggal di Desa Sade yang terletak di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Sade sendiri adalah sebuah desa yang kecil yang dijadikan tempat wisata sampai sekarang. Sebagai salah satu warga lokal di daerah Lombok, saya sendiri terkadang kerap menyambangi desa wisata itu untuk melepas rasa rindu dengan penampilan suku Sasak Sade. 

Mengulik ketertarikan masyarakat, bukan hanya rumah Sade yang menjadi fokus utamanya. Namun, kesenian dan adatnya juga yang sangat unik sehingga mampu membawa desa ini sebagai desa yang kental dengan adat dan budayanya. Masyarakat di sini memiliki kebiasaan yang kadang berbeda dengan budaya setempat dan menormalisasikannya sebagai kebiasaan yang unik dan telah menjadi berbudaya sampai sekarang.  Namun, hal ini sudah diampu oleh pembesar di Suku Sasak Sade. 

Penduduk dan Rumah adat Desa Sade

Warga yang berada di Desa Sade ini adalah mereka yang tinggal dengan orang tuanya dan merupakan garis keturunan langsung dari nenek moyang mereka. Jumlah penduduk di Desa Sade adalah sekitar 700 warga dengan 150 orang kepala keluarga. Mereka adalah pemegang tombak warisan sehingga masih mempertahankan hukum adat yang berlaku untuk melestarikan budaya peninggalan sesepuh atau nenek moyangnya. 

Umumnya, suku ini memiliki daya tarik yang cukup terkenal yaitu dilihat dari bentuk bangunannya. Namun, tidak hanya itu mereka memiliki kesenian, kebiasaan dan hingga sampai saat ini menjadi budaya yang turun temurun. Terlihat sangat jelas yang dibangunnya yang cukup memberikan rasa penasaran bagi orang yang berkunjung. 

Perihal ini, rasa penasaran saya yang memuncak membawa saya untuk menyelisik lebih dalam. Saya kemudian menemui pemangku adat yang berada di daerah Sade, Mas Salim yang juga merupakan salah satu anggota pemandu lokal. 

“Jadi kalo keunikannya rumah adat kami memakai kotoran sapi. Kalau tempat di rumah yang di sana kan mereka pakai tanah liat, tetapi kalau kita terbuat dari tanah liat dan campuran sekam padi dan seminggu sekali kita kasih campuri kotoran sapi. Sebenarnya tujuan dari kotoran sapi untuk mengganti semen agar tidak retak, bagian dari tradisi itu dan dianggap bersih,” jelas Mas Salim.

Hanya di kalangan pedesaan saja yang masih menjadikan kotoran sapi sebagai balutan pondasi rumahnya. Mereka hanya menjalankan pesan dari nenek moyangnya yang harus dijaga sampai dia kembali lagi. Sejalan dengan istilah bahasa Lombok jagalah Gubuk Geumpang (peninggalan adat), itulah yang menjadikan mereka memilih untuk berdiam di desanya. 

Menilik Kehidupan dan Keragaman Budaya

Selain adat dalam konteks rumah, ada juga cerita lain yang saya temukan berkaitan dengan Sade. Peresean adalah salah satu pertarungan yang pernah ada pada era kerajaan zaman dahulu. Konon, adat ini memiliki ikatan dengan legenda Bau Nyale (menangkap cacing laut) yang masih menjadi budaya dan masih dilakukan setahun sekali sesuai perhitungan kalender sasak. Acara pertarungan ini dilangsungkan dengan berdasar pada cerita sayembara mendapatkan hati Putri Rinjani atau sekarang disebut dengan Putri Nyale.

Putri Rinjani adalah salah satu wanita yang tercantik pada zaman itu, dia memiliki paras yang sangat cantik, hati yang lemah lembut dan bijaksana. Kebijaksanaannya ini telah dibuktikan ketika dia memutuskan untuk menyeburkan dirinya ke laut untuk kepentingan masyarakat. Setelah itu, Putri Rinjani berubah menjadi cacing laut. Ada beberapa jenis warna cacing laut yang ditemukan, seperti ada warna kemerahan, coklat dan hijau dan tentunya bisa dimakan baik secara langsung ataupun dengan cara dimasak. Sampai sekarang juga pertarungan ini hanya dilakukan di Festival Bau Nyale dan untuk penyambutan tamu yang berkunjung di desa Sade. 

Pernikahan yang ada di desa Sade juga begitu unik, mereka sangat menghormati adatnya sehingga mereka masih menjalankan pernikahan dengan sepupunya, “Misalnya menikah harus sama sepupu, jadi tujuannya untuk mempererat tali kekeluargaan dan adat istiadat tetap terjaga dan ini pun masih terjadi sampai sekarang,” tutur Salim. 

Di samping itu, ada beberapa hal lain seperti anak perempuan yang memiliki larangan dalam bergaul, tidak diizinkan untuk sekolah, dan untuk bisa keluar jauh pun mereka ada batasnya. Kehidupan sehari hari mereka juga sangat sederhana karena mata pencaharian mereka hanya di ladang atau sawah, tugas seorang kepala keluarga mereka berladang untuk menanam seperti padi, jagung, dan kedelai sesuai musimnya.  

Namun, hal itu yang sejatinya semakin meningkatkan pamor Desa Sade dan segala hal di dalamnya. Sebab, pada segala macam kegiatan yang mereka jalani itu sudah diayomi para pembesar atau kepala adat. Bahkan ini sudah menjadi tradisi nenek moyang mereka yang harus dijaga dan dilestarikan.  


Penyunting: Haidhar F. Wardoyo

Grafis: Zaid Hafizhun Alim