Kabar Tanggap

Aksi Teatrikal “Dukun Santet” di FIB UGM Sebagai Bentuk Keresahan Rakyat

Oleh : Nadilla Putri, Alliva Balqis Putri Cefa, Shabrina Aliya Nugraha, Tri Cahyantari

Sorak, simbol, dan ironi menyatu dalam Aksi Teatrikal “Dukun Santet” yang digelar oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Lewat panggung jalanan, aksi ini menjadi cara lain menyuarakan keresahan rakyat terhadap kondisi sosial dan politik yang kian menyesakkan ruang publik.

Aksi pun digelar pada Kamis (11/06) di depan Gedung Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Aksi Teatrikal tidak hadir sebagai aksi demonstrasi biasa. Pada acara ini, peserta menampilkan puisi, aksi teatrikal, dan memajang spanduk berisi pernyataan sikap dan tuntutan yang dibawa untuk menyampaikan kegelisahan mereka. Melalui ekspresi artistik, aksi ini membuka ruang refleksi bersama bahwa perlawanan juga bisa hadir lewat kebudayaan.

Consiusness dalam Pendidikan
Salah satu peserta yang hadir turut mengungkapkan perasaanya malam itu, ia menegaskan kesadarannya sebagai mahasiswa tidak seharusnya hanya menjadi “tong kosong”. Dalam orasi nya, ia menyoroti untuk mengajak mahasiswa untuk tidak sekadar menerima keadaan, tetapi juga menyadari posisi mereka sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki kemampuan untuk bersuara dan melawan ketidakadilan.

“Karena fasisme bisa dihancurkan hanya dengan consciousness atau kesadaran bahwa kita sedang didoktrin, kesadaran bahwa kita harus melawan,” ujarnya.

Tak hanya orasi, aksi ini juga menyediakan panggung bebas bagi ekspresi sastra dan budaya. Monolog dan pembacaan puisi bergantian, mewakili suara-suara yang kerap terpinggirkan. Di sekitar panggung, terpasang berbagai banner berisi kritik terhadap pemerintah. Di bagian depan, lilin-lilin disusun berjejer, berdampingan dengan sejumlah properti bernuansa ritual, poster presiden dan wakil presiden, potongan koran, bunga, dupa, wadah anyaman, hingga seekor ayam berwarna hitam. Seluruh elemen itu membentuk simbol kritik yang sengaja dihadirkan untuk menggugah tafsir dan kesadaran penonton, Seluruh elemen itu membentuk simbol kritik yang sengaja dihadirkan untuk menggugah tafsir dan kesadaran penonton tidak ada aba-aba, orang-orang menonton dalam diam.

Harapan Aksi Teatrikal “Dukun Santet” Untuk Rakyat

Selanjutnya, kami melakukan wawancara kepada salah satu mahasiswa sekaligus inisiator pada aksi tersebut yang kerap disapa Haris Haris, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya jurusan Sastra Arab sekaligus Ketua Lembaga Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (LEM FIB). Haris menjelaskan bahwa inisiatif ini berangkat dari keresahan yang dirasakan oleh warga negara, khususnya mahasiswa dan publik akademik.

Tujuan utama aksi ini adalah membangun kesadaran kolektif terhadap kondisi nasional yang dinilai tidak sepenuhnya baik. Menurutnya, penggunaan istilah “dukun santet” merupakan bentuk luapan aspirasi dan keresahan yang disampaikan melalui medium budaya, sebagai alternatif selain aksi turun ke jalan.

Ia juga menyoroti dua isu utama yang mencuat pada awal Juni dan memicu kegelisahan publik, yakni pengesahan undang-undang baru terkait TNI-Polri serta kenaikan harga BBM yang cukup drastis hingga menjadi perbincangan luas. Haris juga membuat pernyataan agar kondisi nasional ke depan dapat membaik.

“Harapannya, stabilitas ekonomi bisa segera membaik dan ada respons pemerintah yang lebih terbuka, baik dalam cara berpikir, penyelesaian masalah, maupun dalam menyikapi keresahan mahasiswa secara dewasa oleh pihak yang berwenang” ujarnya.

Mahasiswa S2 Politik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada bernama Faviyan juga mengungkapkan pentingnya aksi semacam ini. Menurutnya, baik aksi turun ke jalan maupun aksi dengan pendekatan berbeda seperti “dukun santet” memiliki tujuan yang sama, yakni menyuarakan keresahan publik. Ia menegaskan bahwa jika kondisi saat ini dibiarkan, dampaknya pada akhirnya akan dirasakan oleh semua pihak.

“Ini sebenarnya hal yang memang harus dilakukan, apalagi melihat kondisi sekarang. Mungkin ini masih sebatas inisiasi kecil, tapi kalau inisiasi seperti ini tidak dilakukan, apa bedanya dengan orang-orang yang membiarkan krisis ekonomi terjadi,” ungkap nya.

Faviyan menilai bahwa di tengah berbagai tekanan, aksi sekecil apa pun tetap penting untuk terus dilakukan. Ia tidak terlalu mempersoalkan apakah pemerintah akan merespons atau justru menganggapnya sebagai angin lalu, karena hal tersebut tidak seharusnya menjadi penghalang bagi mahasiswa untuk terus bergerak. Menurutnya, melakukan aksi dalam bentuk apapun merupakan langkah awal yang tepat.

Ia menutup tanggapannya dengan menekankan pentingnya kesadaran politik di kalangan mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa perlu memahami bahwa berbagai persoalan publik yang terjadi saat ini akan berdampak pada kehidupan mereka di masa mendatang. Ia juga mengajak mahasiswa untuk tidak bersikap apatis dan lebih aktif terlibat dalam menyuarakan aspirasi, karena gerakan mahasiswa dapat menjadi salah satu cara untuk mendorong pemerintah melakukan sistem

Aksi teatrikal ini ditutup dengan doa sesuai kepercayaan masing masing dan peletakan lilin disekitar area panggung.