Oleh: Haidhar F. Wardoyo
Sebuah festival seni membawa kami menembus kemacetan Jogja pada Senin sore lalu (18/09). Melintasi jalan-jalan protokol yang identik dengan padatnya kendaraan bermotor, kami menyelinap taktis di antaranya agar dapat segera sampai di Suluh Sumurup Art Festival. Yang menarik sekaligus yang membawa kami ke festival ini adalah apa yang berusaha dihighlight atau ditonjolkan, yakni perihal disabilitas.
Mengangkat tema Gegandengan, festival ini diselenggarakan cukup lama sejak 14 sampai 22 September 2023 di Taman Budaya Yogyakarta. Perjalanan kami ke Suluh Sumurup sejatinya tidak hanya untuk berkunjung dan menikmati karya, tetapi juga ingin menyelisik lebih dalam ihwal penyelenggaraan festival ini. Selepas berkeliling dalam tur galeri, kami kemudian menemui Oktala selaku Manajer Pameran.
Di selasar tangga depan gedung pameran, Oktala menjelaskan bahwa secara garis besar, Suluh Sumurup Art Festival merupakan kegiatan pameran yang berisikan karya-karya dari teman-teman disabilitas. Karya-karya ini dikurasi oleh beberapa pegiat seni seperti Nano Warsono, Budi Irawanto, dan Sukri Budi Dharma. Ada sekitar 18 partisipan individu dan 8 partisipan kelompok yang terlibat di Suluh Sumurup. Seniman yang berpartisipasi ini disaring melalui mekanisme undangan maupun submisi.
“Untuk karyanya sendiri itu ada beberapa kategori, yang pertama itu kelompok, personal, sama open call. Dan berarti karyanya itu lebih dari 50 ya karena satu peserta ada yang dua atau tiga kayak gitu,” sambung Oktala (18/09).
Selama sembilan hari, pergelaran festival ini tidak hanya memamerkan karya seni saja, tetapi juga menghadirkan berbagai rentetan kegiatan lainnya. Sebut saja diskusi sastra bersama Irwan Dwi Kustanto, galeri tour bersama komunitas Jogja Disability Arts, workshop tari inklusi bersama komunitas Nalitari, juga workshop bahasa isyarat bersama komunitas Ba(Wa)yang yang berisikan anak muda pegiat seni bayangan. Selain itu, ada juga workshop wayang sodo bersama komunitas Kembang Selatan yang berbasis di Gunungkidul, workshop suminagashi bersama Wiji Batik, dan ditutup dengan pertunjukan musik disabilitas dan eksperimental bunyi oleh Endank N Friend & Gandana.
Di Balik Festival Suluh Sumurup
Berangkat dari keinginan Taman Budaya Yogyakarta untuk memberikan ruang bagi teman-teman disabilitas dalam berkarya, Suluh Sumurup kemudian lahir sebagai salah satu wadahnya. Seni dan disabilitas digubah menjadi sebuah ekshibisi yang turut dipadukan dengan pelbagai agenda dari komunitas. Selain itu, terdapat bazar UMKM yang juga melibatkan teman-teman disabilitas dengan bentuk usaha mereka yang beragam.
Gegandengan atau yang dalam bahasa Indonesia berarti bergandengan pun dirasa menjadi interpretasi yang relevan sebagai tema besar festival.
“Kalau gegandengan sendiri itu pada intinya kita harus sama-sama menguatkan dan saling mensupport satu sama lain. Intinya pengin bikin ekosistem yang baik lah untuk teman-teman disabilitas gitu, karena sebenarnya mereka itu bukannya tidak bisa melakukan sesuatu tapi mungkin juga karena tidak terfasilitasi aja,” jelas Oktala.
Sebab, dewasa ini disabilitas masih menjadi isu yang belum sepenuhnya lepas dari stigma kurang baik, seperti misal dianggap sebagai sebuah aib. Perihal penerimaan pun menjadi sesuatu yang krusial bahkan di lingkup terdekat seperti keluarga. Oleh karena itu, eksistensi festival ini beserta tema yang berusaha diangkat sejatinya memiliki makna yang mendalam. Tidak sekadar menjadi wadah semata, tetapi juga fasilitator.
“Bagaimana kita membesarkan hati keluarganya bahwa ini tuh, memang mereka itu bukan beban kok buat kita. Sebenarnya mereka tuh juga ada potensi, cuma memang caranya saja yang mungkin kita tidak paham,” sambung Oktala.
Beberapa karya menarik perhatian kami, bahkan sejak dari pintu masuk. Fasad yang menampilkan ilustrasi visual dari tokoh-tokoh pewayangan seakan menyambut hangat para pengunjung yang datang. Oktala juga sedikit bercerita ihwal proses Dwi Putro dalam pembuatan fasad ini, “Dia kalau gambar itu kan kayak self-talk, Mas, kayak bicara dengan dirinya sendiri. Toh mungkin itu yang dirasakan oleh Pak Wi dan sehingga lambat laun dia itu semakin baik secara emosi, terus tidak takut dengan orang, kayak gitu-gitulah.”
Masuk ke dalam, terdapat area bagi para pengunjung agar dapat turut berkreasi dalam melukis. Setelahnya, hasil karya ditempel bersusun dengan karya dari para pengunjung lain di sudut kanan area kreasi. Pengalaman kasat mata datang ke Suluh Sumurup pun tidak jauh berbeda dengan datang ke festival seni lain, karena karya-karya yang ditampilkan memang layak dan memiliki kualitas. Apabila tidak ada penonjolan pada konteks disabilitas, barangkali tidak ada yang menyangka bahwa karya-karya itu berasal dari para perupa disabilitas.
Selepas keluar dari gedung galeri, terdapat bazar UMKM yang berjejer rapi dengan aneka barang yang diperjualbelikan. Kami sedikit berbincang dengan Hartini, pemilik usaha Mardian Art yang telah ada sejak tahun 1992 perihal pengalamannya turut berpartisipasi dalam festival ini. “Senang Alhamdulillah, jadi bisa mengeluarkan stok barang yang sudah lama tidak keluar. Mudah-mudahan dapat diadakan lagi,” ucapnya (18/09).
Suluh Sumurup Art Festival sendiri menambah daftar pendek festival atau pergelaran yang mengangkat keterbatasan. Sebab, dewasa ini hanya ada sedikit acara disabilitas yang diadakan, terlebih dengan penyelenggaraan yang serius seperti ini.
“Harapan kita sih terhadap teman-teman tidak hanya melihat karyanya ini dalam bentuk belas kasih. Mereka itu memang berpotensi gitu loh, makanya kan sengaja tidak ditulis disabilitasnya apa karena pengen menonjolkan bahwa mereka tuh sebenarnya mampu,” pungkas Oktala.
Penyunting: M. Athaya Afnanda
Grafis: Aulia Salsabilla