Mengenal Tapal Batas Utara Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Masjid Plosokuning

“Masjid ini dibangun tahun 1758 oleh Sultan Hamengkubuwono I. Ya sudah sekitar 251 tahun lalu,” ujar pria paruh baya di kawasan Masjid Plosokuning kepada kami, Jumat (25/5).

 

Sore hari, masjid ini selalu ramai dengan anak-anak. Biasanya mereka datang datang ke masjid untuk belajar mengaji bersama sembari menunggu adzan maghrib berkumandang. Di samping masjid, terlihat sekumpulan bapak-bapak mengikuti kajian keislaman dan beberapa di antaranya sedang menyiapkan kudapan makanan untuk berbuka.

Kamaludin Purnomo atau yang biasa disapa Kamaludin, adalah pria yang kami temui sore itu. Kamaludin merupakan takmir Masjid Plosokuning, salah satu masjid yang paling bersejarah di Yogyakarta. Kamaludin sendiri sedang mengikuti kajian keislaman yang sedang diadakan, bersamaan dengan itu ia menyambut hangat kehadiran kami, sekedar berbagi cerita mengenai sejarah Masjid Plosokuning.

Masjid Plosokuning merupakan salah satu dari empat masjid Pathuk Negara atau yang lebih di kenal dengan nama Masjid Pathok Negoro. Masjid Pathuk Negara dirancang untuk melindungi Kraton Yogyakarta dan berfungsi sebagai benteng pertahanan dan penyangga dari Kraton Yogyakarta, masing-masing terdapat satu masjid di setiap penjuru Yogyakarta (timur, selatan, barat, dan utara). “Nama resminya kan Masjid Pathok Negoro Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat, yang meresmikan adalan Hamengkubowono I dan arsiteknya adalah seorang bupati dari Madiun dulunya,” ucap Kamaludin.

 

Kamaludin juga menjelaskan jika keseluruhan Kraton, Masjid Gedhe, Pasar Bringharjo, Tugu, dan keempat masjid Pathok Negoro semuanya didesain oleh Sultan Hamengkubowono I. Meskipun desain dari masjid Pathuk Negara ini mirip dengan masjid Gedhe, terdapat perbedaan susunan tata ruang serta tata letak dari kedua masjid bersejarah ini. Penggunaan nama Plosokuning diambil dari nama kelurahan daerah sekitar masjid sebelum diganti menjadi keluarahan Minomartani. Nama Plosokuning sendiri berasal dari sebuah nama pohon yaitu pohon ploso yang dulunya banyak tumbuh di sekitar daerah masjid Plosokuning.

Di bagian belakang masjid Plosokuning, terdapat pemakaman yang merupakan makam dari imam pertama masjid beserta keturunannya. “Setiap imam masjid disini juga berfungsi sebagai penasihat negara. Orang Jawa ya sulit ngomong Pathuk Negara, toh, makanya jadi Pathok Negoro, tapi maksudnya tetap penasihat negara,” imbuh Kamaludin. Plosokuning sendiri sekarang sudah memiliki imam yang ke-9 dalam perjalanannya.

Kamaludin bercerita jika pemilihan orang sebagai penjaga dari keempat masjid Pathuk Negara memiliki beberapa alasan tersendiri, salah satunya berasal dari keterikatan kerabat. Untuk masjid Plosokuning pada awalnya dijaga oleh mbah Mustofa yang merupakan cucu dari mbah Muriman. Mbah Muriman sendiri merupakan kakak dari Sultan Hamengkubowono I. Namun selain karena keterikatan kerabat, Sultan Hamengkubowono I tidak serta merta memilih setiap penjaga masjid Pathuk Negara dari kerabatnya semua. Seperti masjid Pathuk Negara yang ada didaerah Dongkelan (masjid Pathuk Negara bagian barat) yang dijaga oleh seseorang yang berjasa bagi Sultan Hamengkubowono I. “Jadi memang ada hubungan emosional antara pendiri Kraton sama orang-orang yang ada di Pathok Negoro,” lanjut Kamaludin.

Selain dari hubungan kekerabatan maupun orang-orang terpilih yang ditunjuk untuk menjaga masjid Plosokuning, pihak Kraton sendiri juga memilih dua orang yang merupakan warga di sekitaran masjid untuk menjadi pengurus masjid. Selain menjadi pengurus masjid, orang-orang terpilih ini nantinya juga akan menjadi Abdi Dalem.

Sembari kami berbicara dengan Kamaludin, terdengar riuh suara anak-anak berlari kesana kemari dan tertawa. Sore itu terasa sungguh menyejukkan hati. Sangat kerasan rutinitas menunggu bedug maghrib untuk berbuka puasa disekitar masjid Plosokuning saat itu.

Setelah bercerita mengenai sejarah dan orang-orang dibalik masjid Pathuk Negara, Kamaludin juga bercerita tentang berbagai macam kegiatan sehari-hari yang ada di masjid terkhusus masjid Plosokuning. Ia menuturkan setiap harinya selalu ada kegiatan berbeda yang diadakan di masjid. Untuk malam senin, terdapat kegiatan hafalan Al-qur’an. Sedangkan di malam selasa, ada kegiatan tahfidz Al-qur’an. Pada malam rabu terdapat kajian-kajian yang diperuntukkan untuk anak-anak muda. Di hari kamis, terdapat kegiatan sarasehan menggunakan busana jawa. Pada malam jum’at, terdapat do’a bersama yang ditujukan untuk mendo’akan semua orang termasuk Kraton dan negara. Lalu pada malam sabtu terdapat kegiatan kajian kitab kuning. Terakhir pada malam minggu, terdapat kegiatan kesenian. Semua kegiatan ini dilakukan pada hari-hari biasa.

Selain memiliki kegiatan rutin disetiap harinya, Kamaludin menambahkan, ada beberapa upacara atau tradisi yang sampai sekarang masih dilakukan dan dijaga kelesteariannya sampai sekarang. “Tradisi di sini ada seperti safaran, muludan. Terus ada sholawatan jawa, sholawatan rodat, juga ada sholawatan badui. Itu kita tampilkan menjelang ramadhan, akhir tahun, malam tahun baru kita tampilkan semua,” tambah Kamaludin.

Kamaludin menuturkan, khusus di bulan ramadhan kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada hari-hari biasa menjadi pengecualin. “Kalo bulan puasa ini ya berbeda, kalau sore seperti ini ada pengajian bapak-bapak, anak-anak belajar ngaji, kemudian nanti malam dilanjutkan dengan sholat taraweh, pengajian umum, tadarus Al-qur’an, nanti ada itikaf dan sholat malam juga,” tutupnya. (Marhamah Ika)

Foto: Citra Mediant

Reporter bersama: Durotul Karimah, Denis Pramesti dan Aisyah Hanifah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: