Cerpen Sastra

Dirimu di Antara Bintang

Oleh : Aqila Khairun Niswah

Kelulusan masa SMA sedang dirasakan oleh para remaja yang menginjak kelas 12 saat ini, yang sebentar lagi akan melanjutkan pendidikan mereka ke tahap kuliah. Satria Siregar dan Seno Wijaya adalah 2 sahabat yang sudah cukup dekat sejak sekolah dasar. Dimana ada Satria, pasti ada Seno di sebelahnya. SMA Luna Semesta baru saja merayakan kelulusan para siswa-siswanya. Mereka menghabiskan waktunya untuk bermain dengan teman-teman sekelasnya, melempar balon isi air, mencoret baju seragam milik mereka, dan masih banyak lagi. Siang itu dipenuhi oleh sorakan para siswa dan siswi yang sedang bersenang-senang sampai hari sekolah selesai. Di perjalanan pulang, Satria dan Seno sedang berbincang santai, sampai suatu pertanyaan terucap dari mulut Satria, “kamu jadi ambil astrofisika di Amerika?” 

Pertanyaan itu selalu membuat Seno bingung. Di satu sisi, dia tidak mau meninggalkan Satria sendiri, tapi, cinta nya terhadap sains sangat besar, sampai-sampai dia lolos di salah satu universitas di Amerika. Bisa dibilang, jurusan astrofisika saat itu belum ada di Indonesia, dan Seno yang sedang tergila-gila dengan luar angkasa, mencoba untuk menembak peluangnya di luar. “Surat pengumumannya sudah sampai padaku kemarin, dan aku diterima.” Ucap Seno, namun nada suaranya tidak terlalu senang.

“Aku sudah duga kamu bakal di terima di sana. Cinta mu kepada sains memang tidak ada tandingannya.”

“Justru itu,” Seno berhenti berjalan, wajahnya tertunduk ke arah tanah yang ia pijak. “Kalau aku pergi ke Amerika, kamu gimana?” Nada suara Seno sedikit serak, menandakan bahwa ia sedang menahan tangisnya itu. Satria tak pernah melihat sisi Seno yang seperti  ini. Tidak pernah dalam seumur hidupnya ia melihat Seno menunjukkan perasaan terlemahnya. Bahkan ketika eksperimen yang dia lakukan gagal, tidak pernah Seno akan memasang wajah sedih. “Yailah, santai aja kali Sen, kayak apa aja sih. Emang kalau kita pisah, dunia kiamat?’ Satria bercanda sedikit—untuk mencairkan suasana. Tapi, melihat Seno yang sangat serius mengkhawatirkan persahabatan milik mereka, Satria terdiam

“Emang kamu bisa jaga diri kalau ku tinggal pergi ke Amerika?” Seno bertanya dengan pelan. Hanya ada satu jawaban yang keluar dari mulut Satria, “Bisa.” Dengan itu, mereka menghabiskan waktu yang ada sebelum akhirnya Seno pergi meninggalkan tanah air untuk mendapat ilmu di belahan dunia lain. Tentu saja selama Seno sedang belajar beradaptasi di Amerika, Satria sedang menyiapkan dirinya untuk masuk ke perguruan tinggi. Sesekali mereka bertukar surat meski harus memakan waktu berbulan-bulan.

Bunga di daerah Massachusetts mulai bermekaran, daun-daun melambai diterpa angin, Seno seperti biasa mengecek kotak post miliknya. Tentu saja mengharapkan surat dari sahabat sejatinya, Satria.

“Untuk sobatku Seno”.

Yo, Seno! Bagaimana riset mu di Amerika? Tidak ada kendala kan? Aku harap kamu sehat selalu di sana. Aku ingin sedikit bercerita tentang keseharian ku semenjak menjadi anak teknik. Tugas ku makin lama makin numpuk, mana aku sempat ketahuan merokok di kamar mandi ujung gedung bangunan fakultas ku. Oh, sama aku ada berita ini. Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Aku tidak akan memberikan detail terlalu banyak untuk mu, tapi sebaiknya kamu tidak pulang saat libur nanti. Intinya, keadaan di sini sedang kacau balau. Aku tidak mau menambah beban pikiranmu (yah, meski aku ragu kamu kesusahan dengan sains, apalah itu yang sangat kamu cintai itu.) Aku.. sehat sih, kecuali kalau kau bilang rokok membuat ku sakit, itu lain cerita. Yah semoga kau sehat selalu dan dipermudah riset-riset milik mu itu. Jangan lupa balas surat ku ya! 

“Sahabat terbaikmu, Satria.”

Tidak pulang? Seno jadi kembali ingat surat dari orang tua nya yang juga memberitahukan agar sebaiknya ia pulang saat akhir tahun atau tahun depan saja, namun tidak menyebutkan detail apa yang sedang terjadi di tanah airnya. Ia sedikit penasaran, namun mengabaikan perasaannya itu. Seno kembali menjalankan kesibukannya di hari itu dan akan membalas satu-satu surat yang ia dapatkan itu di malam hari.

“Untuk Ayah dan Ibu.

Kabarku disini baik-baik saja. Tidak usah khawatir dengan asupan nutrisi ku. Aku sudah mulai terbiasa dengan makanan di Amerika, meski aku kangen sekali dengan masakan milikmu, Bu. Ayah, aku harap kau sehat selalu, ibu juga. Aku senang restoran milik Ayah dan Ibu semakin ramai. Oh, jangan terlalu memikirkan biaya hidupku. Aku mendapat kesempatan untuk magang di salah satu bagian pemerintahan di sini yang bekerja di bidang sains luar angkasa. Akan aku kirimkan setengah uangnya untuk kebutuhan kalian di sana.

“Anak tersayangmu, Seno.”

Setelah selesai menulis pesan untuk kedua orang tuanya, ia akhirnya menulis surat untuk Satria. Kembali terpintas memori masa kecil dan remaja saat mereka bermain bersama, atau membuat sedikit kenakalan. Ia teringat bagaimana Satria suka mengambil buah mangga di belakang sekolah, yang ternyata milik warga di sekitar daerah itu. Dan alhasil sang pemilik pohon tersebut memberikan Satria hukuman, berupa membersihkan gudang miliknya yang berdebu.. Sementara Seno hanya menyemangatinya dari jauh karena dirinya sudah kabur terlebih dahulu. Ia juga ingat bagaimana mereka membuat rekayasa roket meluncur menggunakan sebuah botol plastik dan pompa, serta memandang langit saat malam hari, di dekat bukit tempat mereka tinggal. Mengingat semua itu membuatnya merasa rindu akan rumah.

“Untuk sahabatku Satria.

Halo Satria, aku harap saat kau membaca surat ini kau sudah berhenti merokok. Saat ini kesibukan ku hanya meriset luar angkasa dan mengerjakan tugas-tugas kuliah. Sekarang aku magang di salah satu perusahaan bagian pemerintah di bidang sains yang berfokus pada luar angkasa. Aku tau saat kamu membaca ini kamu tidak akan kaget. Tentang berita tanah air, apa yang terjadi? Aku memang sedikit khawatir saat membacanya tapi aku harap saat kamu membalas pesan ini akan ada penjelasan terkait kondisi negara tercinta kita. Aku sangat ingin pulang. Tapi, melihat surat darimu dan orang tua ku yang berkata agar tidak usah pulang dulu, aku tidak akan pulang. Tapi aku akan memberikan gantungan kunci ini untuk mu agar setidaknya kau masih mengingat aku, dan ingat kepada kata-kataku untuk berhenti merokok.

Sobat terbaikmu sepanjang masa, Seno.”

Mengingat semua memorinya di tanah air, membuatnya sangat ingin pulang. Tapi, jika 2 orang sudah memberitahukan dirinya agar ia tidak pulang, maka hal terbaik yang dia ambil adalah mengikuti saran itu. Sementara itu, di belahan dunia lain, Satria dan para mahasiswa lain sedang memperjuangkan sesuatu. Sesuatu yang sangat berharga untuk mereka, masyarakat, dan negara.

Daun mulai berguguran sepanjang mata Seno memandangi pemandangan kota Cambridge, tempat dimana ia menempuh ilmu sains yang sangat ia sukai. Hampir sebulan ia tidak mendapatkan surat dari Satria. Surat dari orang tuanya masih berdatangan seperti biasa. Hanya surat milik Satria yang tak kunjung muncul di kotak pos apartemennya. Daun yang berjatuhan pun kini terganti menjadi salju yang menumpuk, namun rasa rindu akan sahabatnya Satria tak pernah hilang. “Apakah tugas kuliah membuatnya sangat sibuk untuk membalas suratku? Apakah Indonesia baik-baik saja? Ah, ibu dan ayah masih bisa mengirimiku surat. Seharusnya tidak ada masalah di sana. Namun.. Wahai sobatku, sekarang kau sedang apa? Apakah kau tidak merindukan sahabat mu?”

Seno sedang berangan-angan apa yang sedang dilakukan sahabatnya itu, dirinya yang baru saja memasuki bangunan apartemen dimana ia tinggal, sorot matanya perlahan melirik ke arah loker pos miliknya yang sudah lama tidak buka, berharap setidaknya di antara tumpukan surat itu ada surat dari Satria. Membuka loker pos miliknya itu, tangannya meraih isi loker tersebut dan terkejut ketika menemukan apa yang ada di dalam lokernya itu. Tidak hanya satu, namun tiga surat. Menarik tangannya keluar sembari mengambil benda misterius itu, ia melihat tiga surat. Satu dari kedua orang tuanya, satu dari nama yang ia tidak kenal, dan yang terakhir, surat dari Satria. Bergegas ia pergi ke ruang kerjanya yang ada di dalam apartemen. Pertama ia membuka surat dari kedua orang tuanya, berisi kabar baik tentunya lalu ia membuka surat kedua, surat dari Satria.

“Untuk sobatku Seno

Seno, maafkan aku karena terburu-buru menulis surat ini dan juga pendek. Aku tidak akan basa basi, jadi langsung ke intinya saja ya. Akan ada demo besar-besaran di Indonesia. Pemerintahan yang sekarang tidak becus. Kami para mahasiswa yang berjuang untuk negeri ini akan berpamitan pada keluarga dan sahabat, untuk itulah aku menulis surat ini meski berita ini akan sangat telat untuk sampai padamu. 12 Mei, waktu surat ini dituliskan untuk mu, aku akan pergi turun untuk memperjuangkan tanah air kita. Jangan terlalu khawatir saat kau membaca surat ini. Seperti yang aku bilang 2 tahun lalu, aku bisa menjaga diriku. Mohon doa dan semangat nya.

Sahabat terbaikmu sepanjang masa, Satria.”

Pernahkah kalian merasa ada sesuatu yang janggal di dalam hati kalian saat mendengar suatu berita? Itulah yang dirasakan Seno saat ini. Meski sangat ingin percaya bahwa Satria baik-baik saja, ada satu surat lagi yang belum dia buka. Sedikit harapan muncul di dalam lubuk hati Seno. “Mungkinkah surat dari salah satu temannya yang ada di sana?” Perlahan, ia melepaskan segel yang ada di surat tersebut dan membacanya.

“Teruntuk Seno Wijaya

Salam kenal, namaku Kael Mahendra, salah satu teman kelas Satria. Ku harap saat kau membaca surat dari ku ini, kau sudah membaca surat dari Satria terlebih dahulu. Maafkan aku yang telat mengirim surat itu karena kami sedang berduka.  Seperti apa yang ada di surat milik Satria, ada demo besar yang terjadi di tanggal 12 Mei dan dia turun bersama teman-teman yang lain. Maafkan aku harus membawa berita pahit ini tapi.. Satria tidak pernah terlihat semenjak demo besar itu. Aku dan kawan-kawan yang lain awalnya dia sedang bersembunyi atau sudah pulang ke tempat orang tuanya. Seminggu setelah kejadian, aku mendatangi kos miliknya dan dia tidak ada di sana. Aku juga mengontak orang tuanya dan mereka juga tidak tau kabar Satria saat ini. Kami semua menunggu kabar Satria dan aku rasa kau juga harus tau. Aku menemukan tumpukan surat dari mu saat aku datang ke kos miliknya. Aku memang mengenalmu lewat cerita-cerita yang ia sampaikan padaku. Bagaimana kamu mengubah kehidupannya, bagaimana cintamu terhadap sains dan masih banyak lagi. Untuk sekarang, mari berdoa agar dia pulang dengan selamat.

Salam hangat dari diriku, Kael.”

Seno terdiam di ruang kerja nya. Entah kenapa air matanya seolah tak bisa keluar. Hampa dan panik serta khawatir mulai memasuki isi hatinya. Pikirannya yang awalnya tenang menjadi berisik. Terduduk di kursinya, ia membuka laci dimana ia menyimpan semua surat yang diberikan Satria padanya. Membaca kembali surat-surat itu cukup sudah untuk dirinya meneteskan air mata. Frame foto di meja kerjanya, foto dirinya dan Satria di hari kelulusan. Tangannya terulur ke arah frame foto itu dan perlahan memeluknya. Sobatnya dari masih kanak-kanak sekarang tak tau sedang berada dimana.

Malam yang biasa ia isi dengan mengurus dokumen-dokumen pekerjaan, lebih sering ia isi dengan melamun di atas kasur, membayangkan apa jadinya jika ia pulang ke tanah air sebelum Satria “menghilang”. Bahkan, ia yang biasanya tidur sesuai jadwal, kini tetap terbangun sampai matahari terbit, mencoba menyibukan diri sendiri ke dalam pekerjaan dan tugas-tugas kuliah yang terus berdatangan, membuat kantung matanya semakin gelap. Seno tidak bisa tidur. Tidak akan bisa sampai ia mendapat kabar tentang sahabatnya, Satria.

18 Januari, 8 tahun kemudian.

Seno akhirnya memberanikan diri untuk pulang ke tanah air, setidaknya untuk bertemu dengan ayah dan ibunya. Juga “makam” milik Satria. Berkat Kael yang memberikan Seno surat selama beberapa tahun terakhir, Seno merasa akhirnya ia bisa mengikhlaskan Satria yang hilang ditelan alam. Ia sedang bersiap di kamarnya, menggunakan pakaian hitam-hitam, bersiap mengikuti kegiatan yang akan didatangi oleh para korban demo itu. Berangkat bersama orang tuanya dan juga Kael, mereka tiba di istana negara. Banyak sekali orang disana, orang-orang yang kehilangan teman, saudara, sahabat, kakak, adik, dan masih banyak lagi.

“Satria, ingatkan kau janji di hari itu? Janji dimana kau akan menjaga dirimu selagi aku mengejar pendidikan di belahan dunia yang lain. Apakah kau akan datang, sobatku? Apa kau tidak rindu dengan ocehanku tentang angkasa itu?” Gumam Seno pada dirinya sendiri. Kael yang mendengarnya hanya bisa merangkul Seno, seolah berkata bahwa temannya Satria adalah temannya juga. “Seno, percayalah bahwa ia melihatmu di antara bintang-bintang malam yang jauh disana.” 

Sembari menggenggam gantungan kunci yang awalnya ia berikan untuk Satria, kini akan ia persembahkan untuk makam tanpa jasad itu.


Penyunting : Siti Rifqah Aqilah

Grafis : Qanita Zahia Ardini