Oleh: Muhamad Farhan Sukmadjaja, Shabrina Aliya Nugraha, Nadilla Putri
Di tengah hiruk-pikuk Jalan Malioboro, organisasi masyarakat Social Movement Institute (SMI) memelopori rangkaian kegiatan bertajuk “Mengenal Cak Munir: Taktik, Gerakan & Kaderisasi.” Aksi edukasi politik ini sengaja menyasar ruang terbuka publik dengan momentum peringatan perjuangan Munir pada akhir September (25/09). Aksi yang dikemas melalui kegiatan walking tour, berlangsung mulai Kamis sore hingga Sabtu malam. Rangkaian tersebut diawali aksi Kamisan yang menjadi pembuka acara, kemudian dilanjutkan dengan walking tour yang dimulai pada Jumat sore hingga malam hari dan diakhiri dengan Sabtu malam sebagai puncak acaranya.
Pemanfaatan Malioboro dilakukan dengan mendirikan instalasi visual berbahan rangka scaffolding yang dirancang mencolok di pinggir trotoar. Melalui instalasi tinggi dan penuh warna ini, para penyelenggara berupaya menarik perhatian ribuan pejalan kaki yang melintas saat akhir pekan, sekaligus menyajikan informasi mengenai rekam jejak dan nilai-nilai perjuangan Cak Munir secara ringkas dan interaktif.
“Kita pengen mengokupasi public space, yang dimana public space sekarang udah sulit sekali untuk kita okupasi, dan sulit sekali untuk kita jadikan sebagai tempat untuk pendidikan politik seperti ini. Nah, kita mengambil sepanjang Jalan Malioboro karena tujuan dan sasaran kita adalah masyarakat yang lebih luas,” jelas Jule selaku koordinator walking tour. (25/9)
Ia juga menegaskan bahwa orang yang hadir di walking tour tidak akan meninggalkan jejak dengan tangan kosong. Itulah mengapa walking tour ini menggunakan rangka scaffolding agar orang yang melintasi sepanjang Jalan Malioboro bisa mengenal siapa itu Cak Munir. Jule memberikan contoh analogi dengan cara mengajak massa aksi untuk membayangkan kalau di hari Kamis, Jumat, Sabtu, dan malam Minggu akan banyak orang yang berkeliaran di sepanjang Jalan Malioboro, sehingga mereka pasti melirik terhadap instalasi-instalasi yang tinggi yang menggunakan warna-warna yang eye catching.
Pemanfaatan Public Space dengan Menggunakan Konsep Scaffolding
Kegiatan yang Beruntun
Jule selaku koordinator walking tour, mengatakan rangkaian kegiatan tersebut merupakan satu kesatuan acara yang berlangsung hingga Sabtu malam. Setelah walking tour, kegiatan dilanjutkan pada Sabtu pagi dengan lomba mewarnai yang diikuti anak-anak TK dan PAUD. Sementara itu, acara puncak digelar pada Sabtu malam dengan berbagai kegiatan, seperti orasi, nyanyian, keroncong, angklung, puisi, dan pembacaan syair.
Dalam walking tour, terdapat sesi diskusi yang diawali dengan Javier sebagai orator memantik massa aksi untuk memberikan tanggapan ataupun pandangannya mengenai Cak Munir. Dia juga mempersilahkan kepada para partisipan apabila ada pertanyaan. Seorang partisipan menceritakan kesannya mengenai Cak Munir, dilanjutkan dengan partisipan lainnya yang melontarkan beberapa pertanyaan sehingga membuat suasana diskusi makin hidup.
Pemantikan Sang Orator
Munir Tidak Benci Militer
Munir adalah sosok yang memperjuangkan keadilan masyarakat sipil dan juga kesejahteraan bagi para prajurit yang menjadi budak pemegang kekuasaan saat itu. Munir tidak menganut dualisme, melainkan menuntut hak yang seharusnya dimiliki oleh para korban, seperti masyarakat sipil dan militer.

Kutipan Cak Munir Mengenai Praktik Militerisme
Pemahaman yang dibawa Cak Munir menganut nilai-nilai untuk membela sipil, dia berkeyakinan bahwa tidak ada tempat untuk militer di bangku pemerintahan dengan dalih melakukan kegiatan militerisme sehingga menggeser paham demokrasi yang dipahami negara.
Jule, sebagai ko0rdinator walking tour menekankan bahwa Cak Munir tidak benci terhadap militer, yang dia lawan adalah paham paham militer yang dibawa ke ranah sipil. Dia mencoba memberantas hal tersebut. Karena memang seharusnya militer dan sipil itu mempunyai semacam tanda terima kasih atau pembatas yang jelas. Sipil tidak boleh memasuki peranan militer, begitu pun sebaliknya.
Perjuangan dan Taktik Munir
Javier, sebagai orator, tidak hanya menceritakan kembali sosoknya, tetapi juga mengenalkan berbagai gagasan dan perjuangan yang pernah Cak Munir lakukan pada masa itu. Pengunjung diajak melihat bagaimana dia menggunakan advokasi, kritik dan dialog sebagai cara untuk mendorong perubahan. Salah satu rekam perjuangannya terlihat ketika ia terlibat dalam pembahasan UU TNI pada periode 2002-2004. Dalam pembahasan tersebut, Cak Munir tidak hanya memberikan kritik terhadap lembaga negara, tetapi juga konsisten menawarkan solusi, termasuk mengenai kesejahteraan prajurit. Pengutipan dan peninjauan rekam jejak sejarah ini dilakukan sesuai dengan ketentuan Pasal 43 dan Pasal 44 UU No.8 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, yang menjamin penggunaan karya atau informasi untuk kepentingan edukasi, kritik, dan penulisan laporan tanpa melanggar hak cipta.
Pendidikan Tak Harus Formal
Perjuangan Cak Munir turut dibahas dalam kegiatan walking tour sebagai bagian dari upaya memperkenalkan pendidikan politik dengan cara yang lebih dekat dengan masyarakat, khususnya generasi muda saat ini. Pendidikan politik tidak harus berlangsung dengan diskusi formal atau ruang-ruang yang kaku. Hal ini dirasakan langsung oleh Uze, salah satu peserta kegiatan walking tour. Ia mengaku memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai perjuangan almarhum setelah acara tersebut.
“Kalau dengan kita berbicara sehari-hari, kita bisa jadi lebih tahu jelas bagaimana perjuangan seseorang” ungkap Uze (25/09).
Menurutnya, mengenalkan kembali sejarah kepada generasi muda penting dilakukan agar kejadian masa lalu tidak hanya diketahui, tetapi juga menjadi pembelajaran dalam menghadapi tantangan di masa depan.
Sejarah Merupakan Kompas Generasi Muda
Aksi di Malioboro ini menegaskan bahwa Perjuangan Cak Munir bukan sekedar sejarah masa lalu, melainkan kompas bagi anak muda hari ini. Sosok Munir memberi teladan tentang pentingnya mengkritik kekuasaan secara konstruktif dan berbasis solusi seperti saat ia mengawal UU TNI demi mendorong profesionalisme lembaga negara sekaligus membela kesejahteraan prajurit. Di tengah ruang publik yang kian terbatas, pendekatan populer melalui walking tour dan ruang kreatif berhasil membumikan isu hak asasi manusia. Ditambah pentingnya pengarsipan sejarah untuk melawan lupa, kegiatan ini membuktikan bahwa pendidikan politik bisa hadir secara dekat, inklusif, dan mudah dipahami oleh masyarakat awam.
Pada akhirnya, mengokupasi Malioboro adalah sarana merebut kembali ruang publik sebagai tempat belajar bersama yang bebas dari rasa takut. Kendati pengusutan kasus dan penegakan keadilan atas peristiwa yang menimpa Cak Munir secara hukum masih menyisakan utang sejarah, keberanian untuk merawat ingatan tidak boleh surut. Sebagaimana diungkapkan oleh Javier Maramba dari KontraS, penuntasan keadilan mungkin menjadi tugas panjang lintas generasi: “Tugas kita saat ini adalah merawat ingatan, meski keberhasilannya mungkin baru dipetik oleh generasi selanjutnya.”
Langkah kaki pejalan kaki yang terhenti sejenak malam itu mungkin sederhana, namun pertanyaan “Siapa itu Cak Munir?” yang terbit di benak mereka adalah awal dari lahirnya kesadaran kritis yang akan terus menyala.
Penyunting: ABD. Mu’iz Atqon
Grafis: Admira Naira Ramadhani