Oleh: Aulia Salsabilla dan Helin Trialia Febrianti
Pandemi menyebabkan berbagai aspek kehidupan bertransformasi ke arah digital. Hal tersebut didukung dengan kemajuan teknologi yang telah banyak diterapkan oleh berbagai instansi pendidikan, guna mempermudah segala urusan administrasi maupun urusan penting lainnya. Kondisi ini juga dimanfaatkan oleh Universitas Islam Indonesia (UII) dalam urusan administrasi bidang akademik, yaitu melalui Badan Sistem Informasi (BSI) yang berbasis online. Salah satu bentuk digitalisasi tersebut dengan di keluarkan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) yang terdapat dalam laman admisi.uii. KTM digital tersebut didapatkan setelah mahasiswa melakukan pendaftaran atau dinyatakan ‘diterima’, yang mana pada laman admisi ini telah memuat data-data beserta foto yang diperlukan sebagai identitas mahasiswa UII.
Kegiatan perkuliahan luring dimulai sejak Maret 2022, belum ada informasi resmi lebih lanjut terkait adanya KTM fisik bagi mahasiswa angkatan 2020 dan 2021. Padahal keterangan KTM digital tertera keterangan bahwa kartu tersebut sebagai pengganti sementara kartu mahasiswa fisik selama pandemi covid-19. Oleh karena itu, mahasiswa masih bertanya-tanya perihal pengadaan dan pencetakan KTM fisik demi kemudahan dalam mengakses beberapa fasilitas yang tersedia di universitas selama menjalankan aktivitas luring.
Respons Mahasiswa terhadap KTM Digital
Sebagai alternatif, KTM dalam bentuk digital ini dipilih oleh pihak universitas untuk sementara memenuhi kebutuhan mahasiswa. Kartu ini dinilai lebih aman dan tidak mudah hilang karena dapat diakses di manapun pada laman admisi.uii.
Selasa pagi (5/7), salah satu mahasiswa program studi Hubungan Internasional angkatan 2020, Atifa, mengeluhkan terkait belum tersedianya informasi KTM dalam bentuk fisik. Padahal, sudah selayaknya KTM fisik menjadi hak mahasiswa yang harus terpenuhi. Menurut Atifa, KTM digital dianggap kurang efektif karena tidak dapat dimanfaatkan sepenuhnya dalam menggunakan fasilitas kampus.
“Menurut aku KTM digital kurang efektif karena aku kan kelas di perpus, terus juga bareng sama anak PBI dan ada beberapa anak PBI yang kalo masuk perpus tu tinggal nge-scan barcode yang ada di KTM fisik mereka yang udah tercetak, nah sedangkan di barcode KTM yang file pdf ini aku pernah nyoba itu gak ke-scan, jadi tetep harus ngetik manual,” tutur Atifa.
KTM fisik juga sangat dibutuhkan sebagai tanda pengenal karena ketika di luar kampus kerap kali dibutuhkan untuk menunjukkan kartu mahasiswa sebagai bukti. “Sebagai mahasiswa itu kita kadang di jalan kayak, oh iya kamu mahasiswa dari mana? Oh iya kita dari UII, mana KTMnya? Kan gak enak ya, bentar nyari file-nya dulu, jadi kan kita kalo ada KTM fisiknya tu tinggal kita perlihatkan aja ke orang-orang oh iya bener mereka anak UII ada KTM fisiknya. Kalo KTM digital ini agak susah gitu.” ungkap Atifa.
Dilain kesempatan, kami juga mewawancarai Amanda, mahasiswi program studi Psikologi angkatan 2021. Amanda mengungkapkan mengenai kendala dalam penggunaan KTM digital.
“Aku pake ktm secara digital di kampus belum, soalnya kan KTM nya dari admisi tuh nah pas aku save hasilnya tuh pecah banget, jadi mau dipake pun buat semisal nge-scan barcode itu ga bisa,” tuturnya. Ia juga merasa bahwa banyak mahasiswa tidak menyadari bahwa mereka memiliki KTM karena tidak adanya bentuk fisik dari KTM tersebut.
Sejak diterapkannya sistem hybrid pada pembelajaran di UII, tidak sedikit dari mahasiswa yang berusaha mencari informasi mengenai cara mencetak KTM fisik. Amanda mendapat keterangan bahwa untuk mendapatkan KTM fisik harus menunggu kabar dari pihak universitas, tetapi sayangnya sudah hampir setahun kabar tersebut masih nihil. Kemudian, kabar yang sama juga didapatkan oleh Atifa melalui LEM hingga DPM, tetapi ia hanya diminta untuk menunggu informasi dari pihak universitas dan hingga saat ini belum ada kejelasan.
Belum terpenuhinya hak mahasiswa untuk mendapat KTM secara fisik menimbulkan kesan tersendiri bagi mahasiswa. Baik Amanda maupun Atifa pun menyayangkan ketidakjelasan kabar KTM fisik tersebut.
“Sebenarnya lumayan sedih ya soalnya kan KTM termasuknya kan dasar banget, tapi belum terpenuhi padahal kan aku angkatan 21 dan bakalan ada adik tingkat lagi yang bakal masuk tapi sampai sekarang belum dapat gitu dan angkatan 20 pun juga ternyata belum dapet KTMnya secara fisik itu,” ucap Amanda.
Harapannya segera ada informasi lebih lanjut mengenai pengadaan dan pencetakan KTM fisik, karena hal itu akan sangat berguna bagi mahasiswa baik di dalam maupun di luar kampus kedepannya.
“Jadi menurut aku, KTM itu sangat berguna baik itu di dalam maupun di luar kampus. Jadi, ayok! Aku perlu KTM fisik!” tandas Atifa.
Respon Direktorat Layanan Akademik
Dengan adanya keluhan dari beberapa mahasiswa perihal KTM fisik yang tak kunjung ada, Dr. Tatang Shabur Julianto , S. Si., M. Si. selaku Direktur Direktorat Layanan Akademik (DLA) pun menjawab pertanyaan: ”Kapan layanan pencetakan KTM fisik akan tersedia?”. Dalam wawancaranya (11/8), beliau menjelaskan awal mula adanya KTM digital sebagai pengganti KTM fisik selama masa perkuliahan daring akibat pandemi. Hal tersebut dilakukan demi kebaikan bersama dan merupakan win-win solution yang dapat dilakukan pihak universitas agar mahasiswa tetap mendapat layanan fasilitas sebagai mahasiswa resmi.
Memasuki tahun ajaran baru 2022/2023 yang akan segera dimulai pada awal bulan September, Dr. Tatang Shabur Julianto, S. Si., M. Si. pun memberi informasi bahwa DLA telah melakukan persiapan untuk melakukan pencetakan KTM fisik secara serentak. Berbeda dengan tahun lalu, di mana hanya 3 fakultas yang melakukan aktivitas secara luring, itu pun masih sebagian. Kebijakan tahun ini, semua aktivitas perkuliahan di tiap fakultas akan dilaksanakan secara luring. Dalam proses pencetakannya mahasiswa pun tidak perlu repot untuk foto lagi, karena DLA akan menggunakan dokumen yang telah ada pada laman admisi.
“Kebijakan tahun ini akan luring semuanya. Hal itu juga berpengaruh kepada penyediaan KTM, kita sudah berpikir seperti itu. Kita kan mengikuti kebijakan universitas dulu, kalo universitas masih daring ya kita ngapain ngasih KTM fisik gitu kan ya, tidak akan ketemu orangnya kan sama saja. Nah, insya allah bulan September ini sudah preparasi untuk bentuk fisiknya (KTM). Nanti tidak perlu foto lagi, jadi kita mengandalkan data yang ada di dokumen yang sudah di-upload untuk menghindarkan masih adanya pandemi, juga masih transisi dan belum fix, sehingga kita putuskan melalui foto yang sudah terupload gitu. Nah, nanti kita cetak di sini semua di DLA dicetak, kemudian akan didistribusikan ke fakultas masing-masing. Supaya gak ngumpul semuanya di sini biar tersebar di masing-masing fakultas.” jelas beliau.
Dr. Tatang Shabur Julianto, S. Si., M. Si. juga mengungkapkan alasan atau kendala yang dihadapi sehingga tidak segera menyediakan layanan cetak KTM ketika beberapa fakultas telah melakukan aktivitas perkuliahan secara hybrid.
“Karena yang masuk itu kan hanya 2020/2021 dan itu sebagian, tidak semuanya full, nanti agak sulit untuk proses cetaknya kan malah jadi ribet gitu ya. Mana saja yang sudah dicetak? Kalau massal itu kan kita tinggal mengurutkan cetak sudah langsung massal dan tanpa menghilangkan fungsi digital kemarin, digital kan tetap bisa dipakai walaupun tidak fisik. Nah, insyaallah sekarang semuanya akan fisik nanti.”
Meskipun demikian, Dr. Tatang Shabur Julianto, S. Si., M. Si. berpendapat bahwa baik KTM digital maupun KTM fisik tidak terdapat perbedaan, keduanya memiliki fungsi yang sama untuk mengakses semua fasilitas yang ada di universitas, termasuk perpustakaan. Keluhan mahasiswa terkait akses perpustakaan yang terkesan ribet pun telah diatasi dengan adanya koordinasi yang dilakukan bersama direktur perpustakaan.
Akhir kata, perkembangan digitalisasi tak sepenuhnya dapat secara efektif diterapkan ketika aktivitas luring telah berjalan sepenuhnya. Ditambah dengan bertambahnya keluarga besar UII yaitu mahasiswa baru angkatan 2022, diharapkan segala fasilitas yang sudah pihak kampus janjikan bisa terealisasikan. Perlu adanya keseimbangan dalam memanfaatkan kecanggihan teknologi yang ada saat ini, sehingga kegiatan perkuliahan dapat dilaksanakan secara maksimal.
penyunting : lulu yahdini & aurelia twinka