Perempuan dan Pendidikan Modern di Indonesia

Oleh Citra Mediant

Salah satu bahasan yang sekiranya menarik untuk diulas dari buku Sejarah Perempuan Indonesia karya Cora Vreede-De Stuers adalah ‘Kebangkitan Nasional dan Pendidikan Modern Perempuan Indonesia’ dirangkum dalam bab-III. Buku setebal 301 halaman yang terbit pertama kali pada tahun 2008 setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dicetak kembali di tahun 2017.

Setidaknya buku ini menyuguhkan pandangan lain tentang perempuan-perempuan yang memiliki andil dan memainkan peran penting  dalam perjuangan bangsa mencari jati dirinya sampai berhasil mendirikan sekolah, hingga kongres pada 22-26 Desember 1946. Singkatnya peran penting mereka dalam tatanan masyarakat dan sosial di lingkungan sudah dicontohkan oleh beberapa perempuan yang berjuang dan menyuarakan hak-hak atas wanita sebut saja Tjut Nja’ Dien yang menggantikan suaminya berjuang membebaskan Aceh dari penjajahan kolonial Belanda, Kartini, Dewi Sartika yang mendirikan sekolah sampai Rahmah El-Junusiah yang mendirikan madrasah.

**

Kartini yang acap berkirim surat dengan teman penanya Stella Zeehandelaar hingga Nyonya N. Van Kool, pendiri partai sosialis Belanda juga anggota parlemen. Dalam surat-suratnya Kartini banyak melayangkan kritik menyoal kehidupan yang ia alami sebagai perempuan dari keluarga terpandang di Jawa hingga menyoal pendidikan yang timpang pada saat itu, Kartini bersurat dengan Prof G. K. Anton dan Nyonya Jena yang pernah mengunjungi Jawa.

Jika kami menginginkan pendidikan bukan berarti kami ingin menyaingi  kaum laki-laki tapi karena kami ingin perempuan lebih cakap melakukan tugas yang diberikan Ibu Alam kepada kami sebagai pendidik yang utama (Hal: 65)

Usaha Kartini dalam memperjuangkan emansipasi kaumnya tak hanya berhenti dalam surat-menyurat, ia mendirikan sekolah kecil di rumahnya yang pada zaman itu sekolah merupakan hal yang eksklusif bagi masyarakat di daerah jajahan. Hanya kalangan atas dan memiliki jaringan dengan pejabat saja yang bisa mendapat pendidikan. Namun Kartini dan perempuan-perempuan yang bergerak di masa itu memutar otak untuk mencari jalan agar semua orang bisa mendapat kesempatan yang sama yaitu; pendidikan.

Lantas perjuangan Kartini mendirikan sekolah di lapangan mangkunegaran Solo itu dilanjutkan oleh Dewi Sartika yang mendirikan sembilan sekolah di tanah sunda pada 1904 jumlah itu mencapai 50% dari seluruh jumlah sekolah pada saat itu. Sekolah tersebut ia namai ‘Keutamaan Istri.’  Sejak saat itu perempuan Indonesia semakin sadar akan pendidikan yang sangat dibutuhkan mereka sebagai bekal untuk mendidik generasi penerus.

Tahun-tahun berikutnya, bermunculan sekolah bagi perempuan dari organisasi-organisasi perempuan seperti Perempuan Mardika hingga Putri Sedjati yang didukung kelompok studi  pimpinan Dr. Soetomo. Putri Sedjati mendirikan sekolah hingga Koto Gadang, Minangkabau. Sekolah yang dinamai Amai Setia itu menjadi cikal-bakal lahirnya Keutamaan Istri Minangkabau, sekolah yang menggagas peningkatan perempuan melalui pelajarannya yang sederhana itu berdiri pada tahun 1914. Lantas pada 1920 sekolah-sekolah di Indonesia berkembang jenisnya mulai dari sekolah desa, sekolah menengah, dan sekolah lanjutan. Lantas dari keseluruhan murid yang belajar di tiga jenis sekolah itu hanya 24, 22, dan 25 persen murid perempuan.

Tak lupa, pendidikan modern dengan basis agama juga berkembang di Minangkabau berkat Rahmah El-Junusiah yang mendirikan sekolah dasar Diniyah Putri (1922) yang memadukan pendidikan agama dengan pendidikan modern. Dalam madrasah itu, Rahmah mengkhususkan pendidikan bagi perempuan guna mengembangkan dan memajukan pemikiran kaumnya. Tak hanya itu, Diniyah Putri menolak dengan tegas bantuan dana yang diberikan oleh pemerintah Kolonial Belanda.

Langkah politis yang diambil oleh Rahmah merupakan bentuk kemandirian perempuan untuk memajukan kaumnya meski dalam periode 1900 – 1920-an sekolah dan perkumpulan perempuan masih terkungkung oleh adat untuk mencapai kesetaraan. Di sisi lain prestasi pergerakan perempuan Indonesia masa itu menjadikan mereka diakui dalam tatanan sosial masyarakat.

Perjuangan perempuan tidak berhenti dengan hanya dengan mendirikan sekolah-sekolah, Siti Sundari melalui surat kabar Wanito Sworo tahun 1913. Surat kabar yang banyak menerbitkan artikel terkait pentingnya emansipasi wanita dan mengkritik pedas praktik poligami itu juga menyebarkan pengetahuan tentang merawat bayi dan informasi yang berkorelasi untuk perempuan.  Pada periode yang sama pula, perempuan di Minangkabau menerbitkan surat kabar Suara Perempuan di Padang, Perempuan Bergerak di Medan hingga Pengasih Ibu dan Anak Keturunan (Pikat) di Minahasa,

Sejatinya organisasi dan perkumpulan perempuan yang mendirikan sekolah dan kantor surat kabar itu diprakarsai oleh kalangan atas, uniknya kalangan atas tersebut memiliki tujuan agar bisa bertemu dengan sesama perempuan dari kalangan menengah dan bawah. Karena pada masa itu perempuan kelas atas seperti kuda pingintan.

Kuda tersebut dikurung dan tidak dibiarkan bebas berkeliaran seperti kuda lain. (Hal: 85)

 **

Buku Sejarah Perempuan Indonesia merupakan terjemahan dari The Indonesian Woman: Struggles and Achievement (1960) yang terbit pertama kali pada tahun 2008 dan dicetak ulang untuk kedua kalinya pada 2017 oleh penerbit Komunitas Bambu. 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *