Merawat Hobi di Kala Pandemi

Oleh Citra Mediant

Pandemi Covid-19 yang semakin tak bisa ditebak kapan akan mereda sedikit banyaknya merubah pola hidup hingga hobi seseorang. Salah satunya Sigit, mahasiswa jurusan manajemen angkatan uzur. Semenjak pandemi mewabah di Indonesia ia sibuk bergulat dengan hobi barunya memelihara ikan hias. Mulanya ia memelihara ikan jenis cupang tapi tak bertahan lama dan berpindah ke lain jenis, yaitu ikan Gabus (sapaan akrab ikan spesies snakehead).

“Susah kalau udah hobi tu, gak bisa diganti sama yang lain” ujar Sigit.

Sigit memelihara ikan gabus spesies Channa maruliodes yang berasal dari hulu sungai Sentarum, Kabupaten Kapuas Hulu. Ikan-ikan itu ia hunikan di dalam, akuarium berukuran kurang lebih 1×1 meter persegi. Ia memiliki sejumlah aquarium, setiap akuarium berisi satu ekor ikan Channa yang berukuran 15-20 cm. Nantinya ikan-ikan tersebut akan dijual kembali dan menjadi ikan hias. Dalam akuarium tersebut, ia menaruh pasir malang merah dan penerangan dari lampu LED berwarna putih.

Kognisia.co/Redaksi
Kognisia.co/Redaksi

Dalam memelihara ikan-ikannya, sehari sekali ia memberikan makan berupa cacing. Memberikan makan satu kali dalam sehari bukan berarti ia pelit karena menurut Sigit, jika ikan-ikan itu terlampau banyak makan lantas bobotnya akan cepat meningkat dan membuat ikan-ikan peliharaannya malas untuk bergerak.

“Ikan-ikan ini tu gak boleh makan banyak, terus untuk memilih perawatannya tu harus satu-satu. Kalau mau mempercantik warna ya pake sari Ketapang dulu, nanti baru perawatan yang lain,” ujar Sigit sembari menunjuk ikannya.

Kognisia.co/Redaksi

Selain memberikan makan, setiap hari Sigit memberikan sari daun Ketapang untuk meningkatkan rona sisik dan memunculkan semburat di antara sisik-sisik ikan peliharaan. Semburat  di sisik ikan itu acap disebut dengan ‘Bunga’ dan bunga-bunga itu yang akan menambah nilai jual ikan tersebut.

“Nah kalau bunganya sudah mulai bagus kayak gini, terus warnanya cantik tandanya masa depan cerah,” ujar Sigit sembari menyeringai.

Tak berhenti di rona sisik dan bunga, ikan Channa itu akan lebih bernilai harganya jika ia aktif menari-nari di dalam huniannya. Berkaitan dengan hal itu, untuk membuat ikan-ikan itu bergerak aktif, Sigit juga melakukan perawatan yang berhubungan dengan ihwal itu salah satunya mengajak mereka bermain-main dengan cahaya mereka sendiri.

Menurut Sigit, ikan-ikan peliharaannya akan merasa tertantang ketika diperlihatkan wujud mereka dengan cermin. Jika sudah merasa tertantang ikan Channa peliharaanya mengejar bayangan itu dengan sendirinya.

“Nah kalau udah bisa ngejar dan aktif kayak gini mentalnya bagus.” ujar Sigit sembari bermain dengan ikannya.

Di sisi lain, dalam merawat ikan hias, kasih dan sayang menjadi faktor yang menentukan bagaimana ikan akan berkembang, selain itu tidak bisa disamaratakan perawatan ikan yang satu dengan lainnya karena setiap ikan memiliki ciri khas masing-masing. Ciri khas tersebut yang nantinya akan menjadi nilai tambah pada ikan tersebut.

**

Sigit tidak berhenti hanya dengan memelihara Ikan-ikan itu. Ia juga menjual untuk memutar uang di kantongnya. Harga jual ikan hias yang ia pelihara itu juga beragam, mulai dari 30 ribu hingga jutaan rupiah. Hal itu juga yang dilihat sigit sebagai peluang saat pandemi.

“Selain karena hobi, ikan-ikan ini ada nilai ekonomisnya,” tutur Sigit.

Ikan-ikan itu juga tidak bisa dijual sembarangan karena menurut Sigit ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam perawatan sebelum menjual ikan tersebut. Di antaranya warna, semburat yang mewarnai sisik ikan sampai warna mata yang akan membuat ikan-ikan itu semakin menawan. Untuk sampai pada titik ikan bisa dialih tangankan ke pihak yang ingin memelihara setidaknya ikan tersebut sudah berukuran 20 cm. Lantas ketika sudah laku terjual Sigit akan memutar keuntungannya untuk membeli bibit-bibit baru dan membesarkannya kembali dari awal.

**

Penyunting: Rayhana Arfa Amalia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *