Di Balik Layar Televisi

Oleh Durotul Karimah

Televisi menjadi bagian penting dalam sejarah peradaban manusia. sejak awal kemunculannya di Indonesia televisi menjadi media massa yang paling digemari oleh khalayak. Di Indonesia sendiri, industri televisi dimulai sejak 4 Agustus 1962, bertepatan dengan pembukaan pesta olahraga se-Asia IV atau Asean Games di Senayan. Sejak itu pula Televisi Republik Indonesia yang disingkat TVRI hadir yang hingga kini siarannya sudah dapat menjangkau hampir seluruh rakyat Indonesia (Joni.A.H., Endah. H. U & Yoenarsih N. 2017).

Saat itu televisi merupakan media komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat, disamping sebagai hiburan bagi elit politik dan pemerintahan. Pada saat itu Media televisi mengajarkan agar setiap warga masyarakat patuh kepada pemerintah/ penguasa. Biasanya program televisi didominasi acara resmi dan pernyataan birokrat. Masyarakat pemirsa televisi dipaksa mengkonsumsi informasi dan pesan pembangunan yang dilakukan pemerintah/ penguasa (Rieka, 2012: 2).

Seiring perkembangan zaman, televisi menampilkan berbagai macam siaran. Hadirnya berbagai macam acara yang disajikan bagi masyarakat ditandai dengan bermunculan stasiun televisi swasta yang dipelopori oleh RCTI dan diikuti oleh SCTV, TPI, ANTV, Indosiar, Trans TV, TV 7, Metro TV, Global TV, dan Lativi. Kuswandi (dalam Sona, 2014:2). Pasca regulasi dunia penyiaran tahun 1991, Ranah publik dalam saluran siaran umum mulai dipenuhi oleh sejumlah stasiun televisi swasta baru yang karakteristiknya semakin menjauhi karakter TVRI. . (Rieka, 2012: 3). Dan hingga saat ini kita dapat menikmati siaran informasi, hiburan, edukasi, dan politik.

Televisi Sebagai Medium

Televisi bukanlah suatu ruang yang hampa. Sejak awal diciptakan, televisi tidaklah bisa berdiri sendiri. Selalu ada pihak yang berada di belakangnya sebagai pemegang kontrol utama. Televisi dalam konteks ini dipahami bukan sebagai seperangkat teknologi yang merujuk pada sebuah mesin berbentuk benda material segi empat semata, melainkan lebih sebagai ‘medium’. Teknologi menjadi medium ketika sejumlah kode simbolis tertentu digunakan dan ditempatkan pada suatu latar sosial politik tertentu (Reni, 2011).

Televisi sebagai medium berarti televisi menjadi perantara antara khalayak dan seseorang yang berada di balik layar siaran televisi. Selain itu juga di dalam siaran televisi terdapat simbol-simbol yang disampaikan kepada khalayak.  Terlepas dari apapun yang mempengaruhi televisi, televisi memiliki pengaruh dalam penyampaian pesan, karena televisi itu sendiri adalah pesan. Seperti ungkapan Marshall McLuhan yang menyebutkan bahwa ‘The medium is the message.’

Pilihan siaran televisi dan kepentingan yang melatarbelakangi dibaliknya kemudian menentukan pola perilaku, sehingga dapat mempengaruhi khalayaknya. Memberikan stereotip mengenai budaya di masyarakat, tentunya televisi bukan sekedar benda mekanis, tetapi sebuah organisasi yang penting dalam masyarakat, karena televisi juga memainkan peran dalam menentukan tatanan sosial di masayarakat.

Namun perkembangan industri media tidak terlepas dari perkembangan teknologi. Kualitas siaran yang terus berkembang baik mampu menarik banyak peminat televisi. Tidak dipungkiri, saat ini, rumah-rumah di Indonesia kebanyakan memiliki ruang keluarga yang pasti terdapat televisi di salah satu sudut ruangan tersebut. Menurut Reni Triwardani (2011) dalam jurnalnya yang berjudul Televisi dalam Ruang Keluarga, Kehadiran televisi dalam ruang keluarga, menjadi sebuah tanda terjadinya perubahan dalam kehidupan berkeluarga.

Ketika televisi sedang dihidupkan, ia tidak dapat diabaikan begitu saja, sehingga mau tidak mau menonton televisi. Televisi menjadi hal yang wajib ada saat keluarga berkumpul. Kegiatan menonton televisi menjadi semacam pengalaman kolektif keluarga yang kemudian menjadi kebiasaan di keluarga Indonesia. Tidak dipungkiri akan muncul pertengkaran-pertengkaran kecil saat keluarga berkumpul dan menonton televisi bersama. Perdebatan mengenai acara apa yang akan ditonton, siapa yang memegang remot, atau kubu mana yang akan memenangkan pertandingan sepak bola sepak bola. Tidak hanya keluarga yang berada di kota saja, namun keluarga yang berada di desa-desa perbatasan pun sudah bisa mengakses televisi. Hal ini membuat pertukaran informasi semakin meluas. Banyaknya peminat televisi, juga membuat para produsen televisi semakin meningkatkan kualitas tayangan dan juga teknologinya.

Tergerus Arus

Setelah televisi hitam putih yang mengawali kedatangannya di Indonesia, pada tahun 1968 televisi berwarna sudah ada di Indonesia. Dilansir dari Pemberitaan Harian Kompas, 7 Agustus 1967, menyebutkan, saat itu sebuah perusahaan produsen televisi dari Perancis bersedia membantu jika Indonesia berencana menyiarkan televisi berwarna. Namun, pada saat itu tidak semua kalangan masyarakat di Indonesia mampu memiliki televisi berwarna. Karena harga televisi berwarna yang mahal. Sekitar tiga kali televisi hitam putih pada saat itu.

Namun,karena tayangan yang semakin berkualitas dan menarik, televisi semakin terjangkau oleh kalangan menengah. Sehingga televisi tidak lagi menjadi barang mewah. Walaupun begitu, produsen televisi tetap meningkatkan kualitas produknya. Televisi tabung berlayar cekung juga semakin ramping  dengan layar datar. Tayangan televisi yang sebelumnya hanya berisi siaran lokal saja, sekarang dapat mencakup siaran luar negeri.

Meskipun kemajuan teknologi memberikan dampak negatif dalam dunia industri televisi, kemajuan teknologi juga memberi tantangan tersendiri. Tantangan tersebut ditandai dengan kehadiran internet yang memberikan banyak kemudahan akses informasi, yang sebelumnya hanya bisa didapatkan dari televisi dan media cetak. Sekarang siapapun dapat membagikan dan memperoleh informasi dari internet, terutama di media sosial.

Semakin hari pengguna media sosial semakin meningkat, dilansir dari pemberitaan CNN, 9/05/2018, dari hasil survei Google hari itu, Youtube ditonton oleh 53 persen pengguna internet di Indonesia. Sementara 57 persen netizen juga menonton televisi. Youtube merupakan media sosial yang menyajikan berbagai produk audio visual dari berbagai creator.

Kehadirannya yang memudahkan akses pengguna di mana saja dan kapan saja membuat stasiun televisi harus memutar otak untuk bisa menyamai kedudukan Youtube di mata pengguna.   Salah satunya membuat aplikasi televisi online, yang membuat  pengguna bisa menonton siaran televisi di manapun dan kapanpun. Namun kemudahan yang diberikan tersebut belum bisa sepenuhnya menarik pengguna yang lebih memilih menonton youtube daripada televisi. Konten yang ditampilkan televisi masih belum bisa mengalahkan konten Youtube yang sangat beragam dan baru.

Di Indonesia sendiri Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) membuat aturan yang berupa Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS) bagi lembaga penyiaran. Aturan ini bertujuan untuk melindungi khalayak dari kemungkinan dampak buruk siaran televisi. Siaran televisi begitu ketatnya diatur dan diawasi oleh lembaga bernama KPI yang juga mewakili perwakilan di daerah bernama KPID. Aneka tayangan yang sekiranya dapat menimbulkan dampak negatif dilarang muncul di televisi. (Aceng. A & Lilis. P, 2018).

Sayangnya peraturan ini hanya berlaku pada media televisi. Sehingga pengguna masih bebas mengakses konten yang ada di Youtube. Ini adalah salah satu alasan mengapa Youtube lebih menarik daripada televisi.

Kabarnya pihak Kominfo kabarnya terus melakukan pemblokiran terhadap tayangan-tayangan negatif tersebut, namun derasnya informasi-informasi yang datang secara global membuat membuat aksi pemblokiran itu hampir kewalahan (Aceng. A & Lilis. P, 2018).


Penyunting: Zakiyyah Ainun

Grafis: Rosyi Hilmi


Daftar Rujukan

Joni.A.H., Endah. H. U, dan Yoenarsih N. 2017. Perkembangan Industri Televisi.

Rieka, Mustika. 2012. Budaya Penyiaran Televisi di Indonesia. 3(1), 51-56.

Reni, Triwardani. 2011. Televisi dalam Ruang Keluarga: Menyoal Menonton Televisi sebagai Praktik Konsumsi dalam Konfigurasi Ruang Domestik. 8(2).

Aceng Abdullah, dan Lilis Puspita sari.2018. Media Televisi di Era Internet. 2(1), 101-110.

Kustin Ayuwuragil. 2018. Penonton Youtube, Saingi Jumlah Netizen yang Tonton Televisi.https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20180509180435-185297003/penonton-youtube-saingijumlah-netizen-yang-tonton-televisi. Diakses pada 20 November 2018.

Retia Kartika.D. 2018. Cerita di Balik Hadirnya Televisi Berwarna di Indonesia. https://nasional.kompas.com/read/2018/05/21/15141381/cerita-di-balik-hadirnya-televisi-berwarna-di-indonesia?page=all. Diakses pada 20 November 2018.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *