Ada Pilu di Balik-Sorak-Sorai Peringatan Hari Guru

Oleh Fadhlina A. B. 

Sejak 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) yang terdiri dari para guru pribumi yang berperan sebagai guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan pemilik sekolah. Menggambarkan dengan jelas bagaimana kemerdekaan dimulai sejak dalam pikiran, sejarah tidak bisa menghapus peran guru dalam meraih kemerdekaan bangsa. Kemudian pada tahun 1932 diubah menjadi PGI (Persatuan Guru Indonesia) dimana keberanian ini berhasil membuat pemerintah Belanda kebakaran jenggot karena menganggap PGHB sebagai ancaman.

Lantas setelah seratus hari kemerdekaan, tepat tujuh puluh lima tahun lalu Kongres Guru Indonesia diadakan pada 24-25 November 1945 di Surakarta yang bertujuan menghimpun Guru di Indonesia dengan menghapuskan perbedaan kelompok, daerah, politik, agama dan suku untuk bersatu dengan semangat solidaritas. Kongres tersebut membuahkan hasil satu diantaranya ialah terbentuknya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Tahun-tahun berikutnya, tanggal terbentuknya PGRI (25/11) selalu diperingati sebagai hari guru nasional. Namun peringatan tersebut bak sekadar peringatan saja, memang dihayati dengan upacara perayaan meski bukan resmi tanggal merah. Terkadang juga proses belajar mengajar ditiadakan dan diganti entah dengan menyanyikan Hymne Guru, lomba-lomba, pementasan seni, atau sekadar mengadakan perjamuan kecil di ruang guru.

Karena-jika-melihat realita yang terjadi di lapangan guru yang semula dielukan sebagai manusia serba bisa juga berwibawa di masyarakat kian hari kian bergeser menurut Earl Pullias, James D. Young, juga status sosial profesi guru sudah tidak bergengsi (PR Sangkar). Selain itu menurut Darmaningtyas (2015) munculnya ukuran baru di masyarakat membuat sosok guru semakin terpinggirkan. Sedikit banyaknya hal itu mempengaruhi kalangan anak muda yang tergiur kesuksesan besar lebih memilih menjadi pengiklan di sosial media, atau content creator yang mampu mengumpulkan banyak rupiah dengan kreasi yang tak jarang hanya sekedar sensasi.

Setali tiga uang dengan pergeseran tersebut, faktanya lulusan S1 keguruan di berbagai bidang tidak serta merta dapat langsung menjadi guru dengan status Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau minimal penghasilan setara UMR dikarenakan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) tentang Program Pendidikan Profesi Guru Prajabatan No. 87 tahun 2013, serta Peraturan Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi (Permenristekdikti) tentang Standar Pendidikan Guru No. 55 tahun 2017. Bahwa untuk menjadi guru sebagai sebuah profesi, maka seorang lulusan sarjana pendidikan (S.Pd) mesti mengikuti kuliah Pendidikan Profesi Guru (PPG) selama setahun. Setelah itu mereka masih harus mencari lowongan pekerjaan sendiri.

Bila dewi fortuna tidak berpihak pada mereka, guru-guru fresh graduate harus bertukus lumus menempuh perjalanan sampai pelosok negeri untuk mengabdi sepert seperti yang dilakoni Zulkifli Katili, seorang guru honorer yang berjuang mengajar SMP dan SMA Negeri di Toili, Sulawesi Tengah. Di masa pandemi, dengan akses internet yang amat terbatas serta tidak memungkinkan melakukan pengajaran jarak jauh dengan lancar. Ia terpaksa mencari siasat agar tetap bisa mengajar, salah satunya dengan cara mendatangi muridnya satu persatu. Ia yang masih menyandang status pegawai honorer sudah memikul tuntutan dari standar pendidikan yang kian tahun kian tinggi.

Belum lagi soal pendapatan guru yang tidak merata dan sudah terjadi sejak lama mengakibatkan jatuhnya status sosial guru di depan murid yang memiliki status sosial lebih tinggi (Darmaningtyas, 2015: 116). Selain itu pendapatan guru yang tidak merata juga berdampak pada ongkos hidup yang besar, jika jarak sekolah tempat mengajar jauh dari rumah maka guru harus mengeluarkan ongkos lebih untuk biaya transportasi dari rumah menuju sekolah.

Dampak dari sekelumit permasalahan tersebut juga akan merembet pada semua aspek di dalam sistem pendidikan yang semakin kesini mengharapkan generasi cemerlang. Perlu diingat bahwa harapan terciptanya generasi yang cemerlang haruslah diiringi dengan kesejahteraan guru. Selain itu mensejahterakannya, guru itu sendiri juga harus memperluas cakrawala pengetahuannya agar dapat menfasilitasi siswa untuk memahami dunia.

Guna memiliki pengetahuan yang mumpuni guru harus memiliki akses yang leluasa untuk mencari informasi dan mengikuti perkembangan zaman agar mampu mengetahui apa yang dibutuhkan oleh muridnya dua diantaranya ialah membaca buku agar memiliki imajinasi guna menanamkan benih-benih pemikiran kritis terhadap muridnya (Darmaningtyas, 2015: 127) Dan berselancar mesin pencarian, namun sering kali ketika harus mencari informasi untuk menambah pengetahuan tersebut, guru-guru sudah dilema dahulu dengan urusan perut mereka atau membeli kuota.

Apalagi di masa pandemi seperti ini yang mana, guru dituntut menyajikan pelayanan prima melalui daring namun sarana yang di bawah standar memadai. Semoga saja BSU (Bantuan Subsidi Upah) yang dijanjikan pihak Kemendikbud cepat terealisasi dan menjadi angin segar bagi guru. Karena BSU ini menurut Nur Rohmi Aida dalam tulisannya akan menyasar 1.634.832 guru serta pendidik sekolah negeri dan swasta, dengan jumlah masing-masing sebesar 1,8 juta.


Penyunting: Zakiyyah Ainun

Grafis: Dimas Surya


Referensi :

Darmaningtyas. (2015) Pendidikan Yang Memiskinkan. Intrans. Malang, Indonesia.

Sinambela, P. N. (2017). Kurikulum 2013 dan implementasinya dalam pembelajaran. Generasi Kampus, 6(2).

Aida, Nur Rohmi. (2020). 10 Tanya Jawab BLT Guru Honorer, dari Syarat hingga Bagaimana Pencairannya…

https://www.kompas.com/tren/read/2020/11/21/123000165/10-tanya-jawab-blt-guru-honorer-dari-syarat-hingga-bagaimana-pencairannya-?page=all 

Ramadhani, Yulaika. (2019). Sejarah Hari Guru Nasional yang Diperingati 25 November 2019.

https://tirto.id/sejarah-hari-guru-nasional-yang-diperingati-25-november-2019-emgq

https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/04/lebih-dari-50-persen-dana-bos-boleh-digunakan-untuk-gaji-guru-honorer

https://m.kumparan.com/amp/retyan-sekar-nurani/kisah-perjuangan-guru-honorer-di-pelosok-sulawesi-mengajar-saat-pandemi-corona-1toErhJPWNv#aoh=16063103393583&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&amp_tf=From%20%251%24s 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *