Ada FOMO di Balik Gemerlap Media Sosial

Oleh : Annisa Ramadhani

Di era saat ini, media sosial telah menjadi bagian integral dalam kehidupan masyarakat. Dengan beragamnya pilihan platform dan fitur yang ditawarkan, media sosial lantas menjadi opsi hiburan yang digandrungi oleh berbagai kalangan usia. Setiap orang pun berlomba-lomba menampilkan momen terbaik mereka, entah bersama teman, sanak keluarga, maupun kolega. 

Jika kita lihat sekilas, tentu tidak ada yang salah dengan berbagi cerita dan momen bahagia di beranda Facebook atau Instagram Story. Namun di balik euforia yang dirasakan pengguna saat berselancar di media sosial, terdapat sebuah tren peningkatan gangguan kecemasan yang kerap mengintai. Gangguan kecemasan ini disebut dengan FOMO.

Apa itu FOMO?

FOMO (Fear of Missing Out) dapat didefinisikan sebagai rasa cemas dan takut yang timbul akibat bermain media sosial. FOMO terjadi ketika seseorang merasa tertinggal dari orang lain, baik dari segi informasi mengenai orang tersebut maupun pencapaiannya di media sosial. 

FOMO dapat pula muncul ketika seseorang menyaksikan orang lain mengalami kejadian yang lebih menyenangkan di media sosial dibanding apa yang ia alami (Putri et al.,2019). Dengan kata lain, FOMO merupakan situasi dimana seseorang membandingkan kehidupan nyata mereka dengan apa yang ditunjukkan orang lain melalui media sosial (Scott, 2021).

Di antara jenis gangguan kecemasan lainnya, karakteristik FOMO terletak pada faktor pemicunya, yakni media sosial. Menurut salah satu penelitian Przybylski (2013) melengkapi karakteristik tersebut dengan tiga indikator yang melekat pada FOMO: ketakutan, kekhawatiran, dan kecemasan. Ketiga indikator tersebut biasanya akan muncul jika seseorang tidak dapat mengakses media sosial yang menyebabkan ia tidak mengetahui informasi terkini maupun aktivitas terbaru yang dilakukan oleh orang lain. 

Dalam hal ini, istilah “FOMO” yang dicetuskan pertama kali oleh Dr. Dan Herman pada tahun 1996 silam semakin kerap diperbincangkan. Hal ini disebabkan jumlah pengguna media sosial yang terkena gangguan FOMO telah menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh JWTIntelligence pada 2012, terungkap sebanyak 40% pengguna internet di dunia yang mengalami FOMO. Persentase tersebut cukup fantastis mengingat terdapat 4,66 miliar pengguna internet dunia. 

Dampak FOMO terhadap perubahan gaya hidup

Selain perasaan cemas, khawatir, dan takut yang terus mengintai, FOMO juga dapat berdampak pada perubahan gaya hidup seseorang. Berakar dari rasa iri hati dan rendah diri (low self-esteem) yang timbul ketika melihat unggahan orang lain di media sosial yang terlihat bahagia, seseorang dapat merasa tertinggal dan merutuki dirinya karena tidak mampu mengalami hal yang serupa. 

Menyikapi ketakutan tertinggal tersebut, tidak sedikit dari mereka yang rela melakukan sandiwara dan memaksakan diri untuk tetap up to date dengan apa yang dilakukan orang lain di media sosial. 

Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Lisya Putri pada tahun 2019 terhadap mahasiswa pengidap FOMO di Kota Palembang. Beberapa subjek mengamini bahwa mereka dengan sengaja menciptakan citra positif di media sosial yang acap kali bertolak belakang dengan keadaan di dunia nyata. Citra positif tersebut termasuk menampilkan kondisi “bahagia”, “baik-baik saja”, serta memenuhi kriteria “cantik” atau “ganteng” di dunia maya.

Para pengidap FOMO juga menyatakan bahwa interaksi yang dilakukan di media sosial cenderung dibuat lebih “ramah” dan “akrab” daripada yang terjadi sesungguhnya. Tidak jarang pula mereka memaksakan keakraban dengan orang lain karena akan diunggah ke media sosial. 

Lantas, bagaimana cara mengatasi FOMO?

Dilansir dari laman Verywell Mind, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi FOMO. Pertama dan yang utama adalah dengan mengubah cara pandang kita. Alih-alih fokus pada apa yang tidak kita miliki, cobalah mengakui apa saja yang telah kita miliki. 

Membandingkan foto dan videomu dengan milik orang lain pun membenci kehidupanmu lantaran kurang “sempurna” dibanding kehidupan orang lain hanya akan membuatmu semakin terpuruk dan selalu menyalahkan diri. 

Selain itu, Elizabeth Scott (2021) menyatakan bahwa pada dasarnya media sosial memang diciptakan sebagai wadah untuk saling membanggakan diri. Entah itu unggahan bersama teman atau kolega, bahkan hal sederhana yang mengandung “kebahagiaan” seolah-olah ditujukan untuk membuka kompetisi. 

Ketika media sosial telah menjelma menjadi tempat yang buruk bagi kesehatan mental, tak menjadi masalah apabila kita meninggalkannya sejenak untuk melepaskan kecemasan yang telah ditimbulkan. Refleksikan kembali pada diri sendiri bahwa apa yang kita miliki di kehidupan nyata lebih berharga dibanding apa yang ditampilkan di dunia maya.

Daftar Pustaka

Przybylski, A. K. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in human behavior, 29(4), 1841-1848.

Putri, L. S., Purnama, D. H., & Idi, A. (2019). Gaya hidup mahasiswa pengidap Fear of Missing Out di kota Palembang. Jurnal Masyarakat & Budaya, 21(2), 129-148.

Scott, E. (2021, Maret 25). How to Deal with FOMO in Your Life: The Origin of FOMO and How It Affects Our Health. Very Well Mind. https://www.verywellmind.com/how-to-cope-with-fomo-4174664

Penyunting : Aurelia Twinka Nugroho

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *