‘Garuk Sampah’ Selaksa Laku Merawat Jogja

Oleh Fadhlina Bernedicta

Merapi gregetan, blegere ilang

Ketutupan iklan, dadi angel disawang

Neng duwur dalan, balihone malang

Sampah visual pancen kudu dibuang!

-Jogja Ora Didol (Jogja Hip-Hop Foundation)

Yogyakarta salah satu bagian dari nusantara dengan tata keprajan yang istimewa, kata Sabdatama. Dahulu orang bisa jauh-jauh menyambangi Jogja hanya untuk menuntut ilmu, namun kini kita saksikan Jogja bergerak dari kota pelajar bersahaja menuju metropolis padat karya.

Bisa dilihat dari pemandangan kota yang tak lagi hanya langit, gedung, dan Merapi, tapi juga warna-warni lembar iklan sana-sini. Mulai dari baliho promosi rumah makan, sampai iklan universitas, tak lupa reklame sedot WC, acara pentas seni, obat kuat, telat bulan, sampai joki skripsi menjadi penampakan yang jauh dari konsep estetik manapun.

Seperti halnya polusi yang menyesakkan, sampah visual bukan perkara main-main. Perkembangannya pesat bak jamur musim hujan. Dikutip dari Utama & Sara (2019), penelitian pada tahun 2016 menunjukkan kurang lebih 80% ruang publik kota Jogja sudah dipasangi reklame, baliho, spanduk dan sejenisnya. Hal ini berakibat tentunya pada pemandangan yang terganggu, serta anggapan masyarakat mengenai ketertiban kota yang belum tercermin dengan baik (Nurhadi, Purwantara, & Khotimah, 2012).

Tergerak dari keprihatinan sebagai warga Jogja, lahirlah suatu komunitas bernama “Garuk Sampah” yang sejak 2014 telah bergerak  mengecam sebaran sampah visual yang makin meresahkan.

**

Beruntung pada sabtu (20/3), kami berkesempatan menyaksikan langsung bagaimana para pemuda ini meniti laku giat garuk sampah visual yang kala itu ditargetkan pada sepanjang jalan Affandi (Gejayan) terhitung dari simpang tiga Colombo sampai kawasan terminal Condong Catur. Kegiatan kali ini merupakan yang pertama setelah PPKM DIY dilonggarkan. Tentu saja situasi pandemi menjadi bahan pertimbangan mereka, untuk itu dari yang sebelumnya dua minggu sekali menjadi sekali sebulan.

Info kegiatan disebarkan melalui Instagram Garuk Sampah yang memiliki lebih dari 4000 pengikut. Saat itu diberitahukan titik kumpul di depan gedung Mandala Bhakti Wanitatama yang berada tepat samping kampus UIN Sunan Kalijaga.

Pada pukul 15.30 WIB, sudah terlihat beberapa pemuda terduduk di pekarangan samping pintu masuk gedung, beserta kendaraan yang terparkir di sekitarnya. Kami mendatangi kumpulan tersebut dan ikut duduk bercerita.

Sebut saja mas Min, seorang pegiat yang menuturkan beberapa hal pada kami. Tujuan dari gerakan garuk sampah ini bukan sekadar bersih-bersih semata. Lebih dari itu, garuk sampah merupakan bentuk kritik damai pada pemerintah daerah yang dirasa kurang tegas menindak komersialisasi ruang publik. Ketika ditanya perihal alasan mengapa mas Min bersedia menjadi relawan, “Ya ngabdi, mbak.” Jawabnya mantap. Baginya, garuk sampah menjadi bentuk pengabdian sebagai warga Jogja untuk merawat kota tercinta.

Ketika jam sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB, mas Min dan kawan-kawan mulai bergerak ke lokasi tujuan. Berjumlah sekitar lima orang yang dibagi dalam dua tim, satu tim bergerak dari pertigaan Colombo menuju terminal Condong Catur, sedang sisanya bergerak dari arah yang berlawanan.

Mereka mulai menyisir tepi jalan sepanjang Gejayan. Beberapa menggunakan motor, ada pula yang bersepeda. Jika bertemu target, mereka lantas menepi dan langsung mengeksekusi. Satu-satu reklame yang menancap di pohon dan tiang-tiang dicopot dengan alat-alat yang disiapkan, lantas disortir bambu dan kawat pengaitnya, lembarnya dilipat. Teratur, rapi, dan cekatan.

Ujung waktu giat mereka ini tidak formal ditentukan, “ya sak kenceng-kencenge, Mas.” Ucap salah satu relawan. Mereka tak segan memanjat pohon untuk mencapai sasaran. Sampai lepas maghrib, teman-teman garuk sampah berhasil menurunkan 40-50 lembaran sampah visual yang kemudian dilabuhkan ke tempat tujuan, yakni Kantor Kelurahan Condong Catur.

Mengapa harus kantor kelurahan?

Menurut mereka, hal tersebut merupakan refleksi nyata dari kritikan yang dituju. Sebab memang bukan kewajiban mereka menertibkan sampah visual di Jogja, melainkan wewenang pemerintah daerah yang sudah menjadi tugasnya menindak tegas pelanggaran sampah visual.

Garuk sampah telah konsisten hampir 7 tahun, Mas Min mengutarakan bahwa  bukan tanda terima kasih yang mereka butuhkan, melainkan ruang publik Jogja yang di jaga dengan baik.

Tiba di sini, boleh dikatakan pada hakikatnya Garuk Sampah bukan sekadar komunitas peduli lingkungan. Lebih dari itu, giat mereka adalah rupa demokrasi sebagai wujud cinta bakti bagi kota Jogja yang mereka cintai.


Penyunting: Durotul Karimah

Foto: Citra Mediant


Rujukan:

Utama, Alif & Sara, Futuha. (2019). Analisis Degradasi Lingkungan Akibat Polusi Visual di Wilayah Urban Yogyakarta Melalui Kerangka DPSIR. Diambil dari : https://www.researchgate.net/publication/332093569_Analisis_Degradasi_Lingkungan_Akibat_Polusi_Visual_di_Wilayah_Urban_Yogyakarta_Melalui_Kerangka_DPSIR

Nurhadi, N., Purwantara, S., & Khotimah, N. (2012). Kajian Spasial Keberadaan Reklame Luar Ruang terhadap Etika dan Estetika Ruang Publik di Kota Yogyakarta. INFORMASI. https://doi.org/10.21831/informasi.v2i2.4448

Kabarkota.com. (2021) Level Kota Layak Anak di Yogya Terganjal Iklan Rokok? Dalam Kabarkota.com. Diambil dari : https://www.kabarkota.com/level-kota-layak-anak-di-yogya-terganjal-iklan-rokok/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *