Mengurangi Sampah dengan Sedekah

Oleh  Yasmine A. R. 

Ahad ketiga di bulan Maret lalu, kami berkesempatan untuk mengunjungi Masjid Al Muharram di Kampung Brajan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Masjid Al Muharram ini juga merupakan markas dari gerakan Shodaqoh Sampah yang digagas oleh Ananto Iswantoro yang sehari-hari sendiri berprofesi sebagai Dai.  

Semula pada 2005 beliau dan istri mendirikan sepetak rumah di kampung tersebut yang ternyata kondisi lingkungan yang kurang nyaman bagi mereka. Akhirnya mereka pun mencoba berkesimpulan untuk jika mereka tidak bisa merubah lingkungan, berawal dengan mengubah cara pandang mereka terhadap lingkungan.  Dengan menekankan pada simpati dan empati terhadap masyarakat sekitar akhirnya Ananto mulai bergerak menjalankan misinya untuk membuat Kampung Brajan menjadi lebih baik. Hal tersebut dimulai pada tahun 2007 dengan cara mendekati anak-anak muda Kampung Brajan. 

Ananto saat diwawancarai reporter Kognisia.

Beliau meminta komitmen anak-anak mudah tersebut untuk membantunya dalam mengubah citra kampung mereka. Kemudian pada tahun 2010, Beliau dan istrinya mendirikan PAUD Aisyiyah di rumahnya untuk mempersiapkan generasi berikutnya dengan dibekali ajaran agama yang harapannya secara tidak langsung juga akan memberikan contoh bagi orang tuanya yang dapat dikatakan kurang dalam segi religiusnya. Dengan begitu, dai-dai untuk orang tua di kampung Brajan ini bukanlah Beliau tetapi anak-anaknya sendiri. 

“Kalau orang Jawa ada filosofi begini,  dapat ikannya tapi tidak membuat keruh airnya, yaitu dapat hatinya tetapi tidak menyakiti, ujar Ananto.

Lalu, pada 2013 gerakan Sedekah Sampah ini mulai beliau galakkan karena melihat lingkungan Kampung Brajan yang semakin kotor dan juga kos-kosan semakin banyak. Ditambah munculnya karena keluhan-keluhan masyarakat mengenai keterbatasan ekonominya untuk memenuhi biaya pendidikan maupun biaya kesehatan.

Konsep Sedekah Sampah ini berbeda dengan program Bank Sampah. Jika hasil dari Bank Sampah hanya untuk per individu, dimana ketika seseorang menyetor sampah kemudian Bank memberi nilai sampah yang disetor dan menggantikannya dengan uang seharga sampah yang disetor bagi si penyetor atau nasabah tersebut. 

“Nah kalau di Sedekah Sampah ini seperti hakikat dari sedekah itu sendiri. Menyetor sampah apapun di masjid, kemudian balasannya adalah pahala. Hasil dari sampah yang disedekahkan harapannya akan bermanfaat untuk membantu warga dari Kampung Brajan sendiri.”

Lantas, tepat pada 1 Ramadhan 1434 Hijriyah, beliau memulai gerakan ini. Hal itu dikarenakan sehabis orang-orang berbuka di masjid, banyak sampah dari kotak nasi yang berserakan di lingkungan masjid sehingga membuat kotor. Kemudian melakukan gerakan Sedekah Sampah tersebut yang berangkat dari pikiran bagaimana caranya agar lingkungan ini bersih tetapi tetap ada ibadahnya dan juga nilai sosialnya. 

Awal mulanya warga kampung brajan bingung ketika Beliau mengumumkan  agar kotak nasi yang telah selesai digunakan harap dikumpulkan pada satu karung yang telah disiapkan insya Allah menjadi sedekah. Mereka bingung bagaimana bisa sampah menjadi sedekah. Awalnya dia memilah sampah tersebut sendiri ba’da subuh. Kebetulan Pak Ananto ini juga aktif di sebuah lembaga penanggulangan bencana, sehingga Ia pun juga mengumpulkan sampah kardus bekas bantuan-bantuan. 

Hingga pada akhirnya dia pun kembali mengumumkan bahwa akan ada sedekah sampah  di halaman masjid, sehingga ia menghimbau warga setempat untuk membawa segala macam sampah dari sampah plastik hingga kertas dan sebagainya. Ia pun mengeluarkan sampah-sampah yang telah disimpan di halaman masjid, tak terduga ternyata banyak warga yang heran karena ternyata jumlah sampah yang telah Beliau kumpulkan cukup banyak. Mulai dari situlah warga setempat banyak yang tertarik mengikuti gerakan Sedekah Sampah ini. 

Pada awal pengumpulan sampah, sedekah yang dikumpulkan dapat mencapai Rp500.000 rupiah. Uang tersebut lah yang dapat digunakan untuk membiayai anak-anak yatim piatu di Kampung Brajan. Beliau pun menekankan kembali bahwa dengan konsep sedekah sampah seperti ini, warga yang memiliki keterbatasan ekonomi pun tetap dapat bersedekah meskipun dengan sampah. 

Kesuksesan gerakan ini lah yang menghasilkan program-program berbentuk bantuan biaya pendidikan dhuafa, santunan sembako untuk janda dan fakir miskin, serta santunan kesehatan untuk warga yang kurang mampu.

Kemudian, target selanjutnya dari pengelolaan sampah ini adalah bukan banyak-banyakan sampah karena, sedekah sampah ini bukan dilihat dari seberapa banyak sampah yang telah disedekahkan tetapi sekecil apapun sampah yang dimiliki akan dicatat sebagai sedekah.

Sistem tersebut pun membuat warga yang miskin tidak malu jika membawa sampah yang sedikit dan juga warga yang kaya pun tidak sombong jika membawa sampah yang banyak. Hal itu pula yang mengedukasi masyarakat untuk lebih mengurangi produksi sampah. Itu juga yang menjadikan Sedekah Sampah ini berbeda dengan sistem Bank Sampah. 

Jika dibandingkan dengan dahulu, lingkungan Kampung Brajan sekarang ini pun berubah total. Selain meningkatkan kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan, kesadaran utama masyarakat untuk menolong pun juga telah muncul. Hal itu tidak luput dari prinsip sedekah sampah yaitu ta’awun dan takaful. Dengan sedekah sampah, masyarakat dari berbagai latar belakang ekonomi dapat ikut bersedekah karena di sedekah sampah ini semua sampah ada nilainya. Meskipun sekarang ini pendapatan dari Sedekah Sampah tidak sebanyak pada awal gerakan tersebut dimulai, tetapi Ia bersyukur karena berarti produksi sampah yang dihasilkan telah berkurang.


Penyunting: Citra Mediant

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *