Antologi Anjing

Oleh Fadhlina A. B.

Terlahir sebagai anjing membuatku paham rasanya mendengar tanpa punya waktu bicara, melihat tanpa dilihat dan bernafas tanpa perlu merasa ada. Terlebih, sepanjang memori yang dapat kutarik, dua kaki belakangku memang tidak bisa bergerak bahkan mati rasa. Mereka berukuran jauh lebih kerdil dari kaki anjing normalnya. Kaki yang gagal berkembang ini buat langkahku lebih berat, ya setidaknya itu yang dapat kupikir saat melihat anjing lain mampu berlari dan main lempar tangkap bola. Rambut oranye-hitam di sekujur tubuhku selalu dekil oleh hujan, lumpur, dan segala jenis kotor lainnya.

Selasar toko itu menjadi tempat terbaik di dunia. Sejak lima tahun bernyawa, dunia di mataku adalah hamparan yang begitu luas dengan beragam makhluk berlalu-lalang, riuh berisik berkejaran. Warna-warni segala yang lewat bagi retina ku hanya berupa hitam-putih. Tuhan mencipta cahaya agar warna bisa dicerna, namun aku juga merasa cukup dengan batas cahaya ini. Setidaknya aku paham di luar ruang inderaku masih ada abu-abu dan warna lainnya mempesona saling beradu.

Sebagai anjing, aku masuk dalam klub mongrel, jenis anjing yang tak diakui dalam ras apapun. Sebuah takdir yang membuatku paham mengapa anjing lain hidup dalam rumah dengan manusia yang menyayangi mereka. Anjing kampung sepertiku hanya akan jadi gelandangan, atau paling beruntung dapat tidur di depan pagar sebuah rumah untuk menghalang pencuri atau menangkap koran. Tidak untuk dipeluk dan dipamerkan. Potongan tulang paha ayam terbuang saja sudah kurasa jadi berkat, maka hal-hal mewah seperti kandang kayu dan kasih sayang rasanya tidak berani kujadikan impian.

Kadang kala aku berpikir untuk apa ada nafas dan kesadaran, jika sepanjang hayat hanya menjadi kenangan buruk penyiksaan. Dimanakah rahmat Tuhan jika katanya Dia maha pengasih, dimanakah Dia? Bahkan pantaskah anjing sepertiku bertanya? Manusia melihatku sebagai barang hina, binatang lain melihatku bukan teman mereka, dan jika Tuhan juga tidak menerima maka kemana lagi aku harus menaruh air mata?

**

Tiap hari berganti, kian sakit kaki cacat ini semenjak tiga hari lalu seorang anak laki-laki melempar pecahan bata merah berkali-kali ke arahku yang tidak mampu berlari cepat. “Pergi sana anjing!” Teriaknya sambil tertawa. Suaraku tercekat, gonggongan ku sia-sia. Akibat menghindar serabutan, ujung tumitku menggores paku bekas yang mencuat di papan-papan iklan samping selokan. Spontan tubuhku terjatuh di saluran air kotor, gelap, dan beraroma busuk macam kotoran sapi berlumut yang kena hujan. Dengan darah yang mengucur akibat paku sialan itu, aku berusaha bangkit dan mendaki tangga batu di  ujung selokan yang untungnya dapat kugapai.

Darah itu sudah kering, namun ngilu ini seakan menyebar ke tiap sendi. Usahlah pikir makan, untuk bernapas saja masih kucari jalan termudahnya. Kelaparan yang biasa tertahan, kini ku lepas dan dinikmati saja. Susah payah aku kembali ke toko kelontong bernama Indoapril di tepi pertigaan jalan ini. Sialnya, dengan mudah aku dipindah paksa oleh salah seorang penjaga ke dekat tempat sampah hijau besar di samping bangunan putih biru itu.

“Pak, tolong itu anjingnya disingkirkan. Tidak enak sama pelanggan. Jijik.” Kata pemilik toko.

Baiklah, setidaknya di sini aku tidak terlihat oleh manusia. Tapi nun jauh di pojok pun, aku masih dihindari. Meski tidak diinginkan bukanlah hal baru, tapi ngilunya masih saja terasa. 

Seperti kejadian kemarin, ada seorang anak sedang mengganyang nikmat batang coklat di tangannya, langsung lari sambil menangis saat melihatku dihinggapi lusinan lalat. Atau seorang wanita muda yang harus repot mengambil sapu untuk mengusirku, sedang energiku kandas mengais sisa kekuatan untuk beranjak. Hadir menjadi beban memang lebih menyiksa daripada ribuan hantaman batu beserta luka-lukanya.

Tidak seperti anjing yang diberkati seperti jelmaan Dewa Yama yang masuk surga bersama Samiaji, atau anjing dalam kitab suci yang ratusan tahun menjaga para penghuni Kahfi, aku diciptakan bersama anjing-anjing biasa di tengah semesta raya yang katanya tidak terhingga. Jika Tuhan meliputi semuanya, lantas mengapa aku perlu lelah mencarinya? Dia tentu tidak hanya milik mereka yang suci, juga bukan milik mereka yang merasa memiliki. Sudah barang pasti Dia menemani di tiap kelu rinduku, namun sibuk meratapi bangsatnya hidup telah menghalangi langkahku mencari temu.

Rasanya hidup menjadi anjing tidaklah sulit. Hanya cukup bernafas dan menerima jalan nafas akan membawa pada apa dan siapa. Manusia mungkin merasa lebih suci, hingga darah dan sekian lumpur ini memang membuatku layak dibuang. Namun jika aku berpikir menjadi suci adalah bentuk kesombongan, maka sungguh nyatanya api itu milikku juga. Berulang kali aku memohon ampun jika keadaan lusuh ini membuatku merasa mereka yang menatapku jijik adalah pendosa. Padahal dosa sebenarnya adalah milikku yang berani menghukumi dosa pada makhluk lain sedang aku percaya Tuhan memang ada.

Sedihku kian meluruh satu-satu, sungguh kotor hina ini memang patut disyukuri. Menerima membuat segalanya jadi menyenangkan. Adalah hiburan, jika nestapa ini dibuat ketawa saja. Tidak banyak yang beruntung mendapat kesempatan terlihat hina sehingga terbebas dari beban ‘harus terlihat sempurna’. Pun suci tidak suci nyatanya bukan perkara, jika yakin sang maha cinta pasti memeluk semua.

Lucu, aku tertawa sendiri di sudut tempat sampah. Tertawa pada refleksi wajah sendu anjing ini lewat genangan hujan bekas sore tadi. Lucu, bahwa nyatanya berkontemplasi dengan kemalangan dan sekuintal bingung membuatku dekat, dengan Dia yang kabarnya lebih dekat dari urat nadi. Seperti dipeluk oleh hangat surya menjelang senja. Seperti cahaya yang menjawab tanya, seperti cinta yang tidak pernah tidak ada.

Rasanya nafasku tinggal separuh, saat seorang pria paruh baya membawa senter putih mengangkat tubuhku dengan sarung hitam wangi misik. 

**

“Lama tidak berjumpa, kawan lama. Bertahun kemana-mana aku cari, ternyata kau disini.” Bisik orang itu di telingaku.

Malam 17 Ramadhan katanya, gemerlap lampu menyilaukan kala aku dibawanya dengan sepeda kumbang berkeranjang rotan. Aku ditaruh di keranjang itu, dengan alas tumpukan koran, hangat. 

Sepanjang jalan, ada film aneh terputar di pelupuk mata. Ada segmen hidup yang agaknya terlupa. Lapis demi lapis berseliweran di kepala. Beradegan diriku yang berukuran lebih kecil menggonggong ria di sudut lampu merah dekat stasiun. Energi penuh dan mata berbinar. Tidak lapar dan bergerak ringan. Bersama ibu dan ketiga saudara lainnya, dengan kaki mereka yang bergerak lincah. 

“Kemari anjing-anjingku!” Seru seorang pria di ujung timur palang pintu rel kereta. Dia mengendarai sepeda dengan keranjang rotan berisi gulungan koran.

Seketika semua lari berkejaran menuju arah paman itu. Menyisakan aku dan kaki cacat yang duduk tertinggal. Aku yang tidak mampu mengejar, malah terseok hilang arah akibat gerobak pemulung yang lewat menyeretku jauh ke belakang. Berakhir dengan menatap nanar dari kejauhan, beserta kehampaan dan penuh takut. “Lalu besok aku makan apa? Jika mati akan dikubur siapa?” Tanyaku pada udara.

Selang bertahun-tahun sejak hari itu, nyatanya hidupku tetap berjalan. Biasa saja, sepi dan sepertinya cukup menderita. Sampai pada malam ini, ada manusia menatapku dengan gembira. Tidak kusangka, dari sekian absurditas alam, yang paling aneh adalah kenyataan bahwa diriku pernah dirindukan.

Mata menghangat berkaca. “Jangan takut anjing kecil. Kamu aman, aku disini.” Kata paman itu lirih.

Penghujung nafas hampir tiba, akhirnya aku mendapat jawaban. Untuk pertama sejak selamanya, akhirnya aku tahu rasanya kenyang dan belum sampai pada tujuan si Pak tua aku dibawa, aku sudah merasa pulang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *