Hati-hati Anxiety di Kala Pandemi

Oleh: Wahyu Wahidatu Syifa

Coronavirus disease 2019 atau yang dikenal dengan COVID-19 pertama kali ditemukan di Kota Wuhan salah satu daerah metropolitan provinsi Hubei. Direktur Jenderal World Health Organization (WHO) Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus mengumumkan bahwa pandemi ini disebabkan oleh penyakit CoV sehingga disebut sebagai COVID-19, hal ini merupakan singkatan dari penyakit corona virus 2019 pernyataan tersebut diungkapkannya pada tanggal 11 Februari 2020. Menurut peraturan kesehatan internasional (IHR; International Health Regulations 2005) kondisi ini disebut sebagai sebuah pandemi yang bersifat global, WHO juga mengatakan bahwa pandemi ini adalah kondisi darurat.

Kondisi darurat tersebut disebabkan oleh transmisi COVID-19 yang sangat cepat ke seluruh belahan bumi, tak terkecuali Indonesia. Wabah ini mulai bertandang ke Indonesia sejak pemerintah mengumumkan terdapat dua kasus positif COVID-19 pada tanggal 2 Maret hal ini dituliskan oleh Ellyvon Pranita di dalam tulisannya bertajuk “Diumumkan Awal Maret, Ahli: Virus Corona Masuk Indonesia dari Januari” tulisan ini diterbitkan oleh Kompas pada 11/05/20 Hingga saat ini kondisi pandemi di Indonesia telah berlangsung kurang lebih selama 6 bulan.

Berdasarkan data statistik pemerintah Indonesia, pada 24 September 2020 terdapat 257.388 masyarakat indonesia yang positif COVID-19. Tingginya tingkat kasus positif corona dan lamanya durasi pandemi ini berlangsung, tentu tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik tetapi juga ‘mental’ masyarakat Indonesia.

Menurut WHO kesehatan mental adalah kondisi kesejahteraan (well-being) individu yang sadar akan kemampuan diri yang dimilikinya, mampu untuk mengatasi tekanan-tekanan yang ada di dalam kehidupannya yang normal, melakukan pekerjaan secara produktif, dan dapat berkontribusi pada komunitasnya. Definisi kesehatan mental juga dijelaskan di dalam UU Nomor 18 Tahun 2014 bahwa kesehatan mental merupakan suatu kondisi seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga kondisi kesejahteraan (well-being) dapat terpenuhi dengan baik.

Pada saat pandemi seperti saat ini, terdapat kesulitan untuk mencapai keseimbangan fisik dan juga mental, hal ini dikarenakan banyak masyarakat Indonesia yang hanya terfokus pada kesehatan fisik dan mengesampingkan kesehatan mental. Berdasarkan data dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) selama 5 bulan pandemi COVID-19 berlangsung, terdapat 64.8% dari total responden sebanyak 4010 masyarakat Indonesia. Tiga masalah psikologis yang memiliki persentase tertinggi yaitu kecemasan, depresi, dan trauma. Kelompok usia yang banyak mengalami masalah psikologis yaitu usia 17-29 tahun dan >60 tahun. Tingginya tingkat masalah psikologis yang terjadi di Indonesia menjadi alasan bagi kementerian kesehatan mengeluarkan buku pedoman Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial (DKJPS) pada saat pandemi COVID 19.

Kecemasan menjadi salah satu masalah psikologis yang memiliki persentase tinggi, hal ini menjadi bukti bahwa kondisi pandemi mampu memberikan dampak pada kesehatan mental. Menurut Sadock dkk (dalam Vibrianti, 2020) timbulnya kecemasan merupakan sebuah respon terhadap adanya situasi berbahaya yang bersifat mengancam dan ini merupakan sebuah respon yang normal terjadi, karena situasi yang dirasakan tersebut merupakan sebuah stressor yang menjadi awal munculnya kecemasan.

Perlu diketahui bahwa tidak semua kecemasan dapat mengarahkan pada gangguan kesehatan mental, ketika masyarakat mampu mengelola rasa cemasnya tersebut dengan baik maka hal tersebut justru akan memunculkan sikap lebih waspada terhadap kondisi pandemi saat ini, namun apabila perasaan cemas tersebut tidak mampu untuk dikelola dengan baik maka akan memunculkan perasaan panik berlebihan yang dapat mengarahkan pada gangguan kesehatan jiwa.

Berdasarkan skema Proses Seorang Individu Mengatasi Kecemasan terhadap Ancaman Virus COVID-19 yang dijelaskan oleh Spielberger (dalam Vibrianti, 2020) proses munculnya kecemasan pada masa pandemi berawal dari fase Evaluate Situation dimana seseorang mempercayai bahwa adanya pandemi COVID-19 merupakan sebuah rangsangan (stressor) yang bersifat ancaman dan membahayakan. Setelah itu individu akan memasuki tahap persepsi yaitu proses Perception of Situation dimana individu akan mulai mempersepsikan situasi pandemi yang diyakini sebagai sebuah ancaman menggunakan beberapa aspek yaitu kemampuan, sikap, pengetahuan, dan juga pengalaman yang terjadi pada masa lampau.

Apabila individu telah memiliki persepsi mengenai stressor yang membahayakan maka akan muncul sebuah reaksi kecemasan (Anxiety State Reaction) reaksi kecemasan ini dapat menimbulkan adanya respon fisiologis seperti keringat dingin, sakit perut, detak jantung lebih cepat dari biasanya, dan respon fisiologis lainnya. Ketika kecemasan ini telah dirasakan, maka pertahanan di dalam diri individu (defense mechanism) digunakan untuk dapat mengurangi dan juga mengatasi kecemasan yang sedang dirasakan. Freud sebagai pencetus defense mechanism menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan bentuk ketidaksadaran yang ada pada individu dalam menghadapi sebuah realita. Bentuk mekanisme pertahanan diri menurut Freud dibagi menjadi 9 yaitu : represi, regresi, reaction formation, fiksasi, proyeksi, rasionalisasi, displacement, sublimasi, dan denial.

Selain melakukan defense mechanism, individu juga dapat melakukan aktivitas yang berkaitan dengan kognitif dan juga motorik, seperti membaca buku, menulis jurnal harian, olahraga, meditasi, melukis, dan lain-lain. Aktivitas tersebut dapat disesuaikan dengan kemampuan dan juga ketertarikan setiap individu, sehingga melalui tahapan terakhir yaitu coping, individu dapat menemukan solusi yang tepat berdasarkan bentuk mekanisme diri yang baik dan diterapkan melalui aktivitas yang positif .

Berdasarkan pemaparan diatas dapat dikatakan bahwa adanya kondisi pandemi saat ini, kecemasan merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari dan wajar terjadi apabila masih dalam batas wajar. Masyarakat dituntut untuk dapat beradaptasi dengan kondisi yang terjadi, dengan langkah awal untuk dapat menerima kondisi yang sedang terjadi dan sadar akan kondisi tersebut membuat kita mampu mengontrol perasaan cemas dengan baik, hal ini dapat dimulai dengan melakukan penyeleksian terhadap informasi dan juga berita yang diterima, selain itu dengan melakukan coping yang tepat, sehingga perasaan cemas dapat dikontrol dengan baik namun ketika kondisi kecemasan sudah dirasa sangat mengganggu aktivitas sehari-hari maka dapat segera meminta bantuan kepada pihak professional.


Ilustrasi: Rosyih Hilmi

Penyunting: Citra Mediant


Daftar rujukan 

Vibriyanti, D. (2020). Kesehatan Mental Masyarakat: Mengelola Kecemasan di Tengah Pandemi COVID-19. Jurnal Kependudukan Indonesia, 69-74.

Rosyanti, L, dan hadi, I. (2020) Dampak Psikologis dalam Memberikan Perawatan dan Layanan Kesehatan COVID-19 pada Tenaga Profesional Kesehatan. HIJP: Health Information Jurnal Penelitian, 12(1), 107-130.

IASC MHPSS Reference Group. 2020. Catatan Tentang Aspek Kesehatan Jiwa dan Psikososial Wabah COVID-19 Versi 1.0 

Swaperiksa Web PDSKJI per tanggal 14 Mei 2020: http://pdskji.org/home Diakses pada tanggal 28 September 2020, pukul 20.00.

Pranita, E. (2020, Mei 11) Diumumkan Awal Maret, Ahli: Virus Corona Masuk Indonesia dari Januari.https://www.kompas.com/sains/read/2020/05/11/130600623/diumumkan-awal-maret-ahli–virus-corona-masuk-indonesia-dari-januari#:~:text=KOMPAS.com%20%2D%20Pada%202%20Maret,ke%20Indonesia%20sejak%20awal%20Januari. Diakses pada 28 September 2020, pukul 20.30

Afifah, M.N. (2020, 10 Mei) Bagaimana Dampak Stres pandemi Corona pada Kesehatan Mental dan Fisik? https://health.kompas.com/read/2020/05/10/190700368/bagaimana-dampak-stres-pandemi-corona-pada-kesehatan-mental-dan-fisik-?page=all Diakses pada 29 September 2020, pukul 20.30 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *