Hijrahnya Empat Sehat Lima Sempurna Jadi “Isi Piringku”

Oleh Duratul Karimah

Tidak banyak yang tahu bahwa konsep sumber nutrisi penting yang kita kenal dengan slogan “empat sehat lima sempurna” sudah tidak berlaku lagi. Terinspirasi dari Basic Four Amerika Serikat,  Prinsip empat sehat lima sempurna diperkenalkan oleh Bapak Gizi Indonesia Prof. Poorwo Soedarmo tahun 1940an. Menurut prinsip tersebut, menu makanan yang bergizi terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayuran dan buah-buahan, serta minum susu untuk menyempurnakannya. namun seiring perkembangan zaman, slogan tersebut sudah tidak relevan diterapkan sehingga harus diperbarui dengan slogan yang tepat dan sesuai dengan keadaan saat ini. 

Kementerian kesehatan, dalam peraturan menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2014 tentang pedoman gizi seimbang menyatakan bahwa perkembangan Iptek gizi menunjukkan bahwa dengan mengonsumsi lima kelompok pangan  dalam “4 sehat 5 Sempurna”, belum memadai untuk mencapai hidup sehat dan cerdas. Diperlukan pula air sebagai zat gizi yang jumlahnya jauh lebih banyak dari kebutuhan pangan sehari-hari oleh karena pentingnya air dalam proses metabolisme dan dalam pencegahan dehidrasi. Juga diperlukan kebersihan diri dan keamanan pangan agar terhindar dari kemungkinan penyakit yang menular melalui makanan. Makan saja tanpa disertai dengan aktifitas fisik akan menimbulkan kegemukan dan jauh dari kebugaran. Oleh karena itu penyempurnaan pedoman gizi dari 4 Sehat 5 Sempurna menjadi Gizi Seimbang perlu disertai dengan pengembangan Slogan Gizi yang baru. 

Lantas pada 2017 muncul slogan “isi piringku” yang menyempurnakan slogan sebelumya “ empat sehat lima sempurna.” Berbeda dengan 4 sehat 5 sempurna, isi piringku lebih mengutamakan proporsi makanan agar sesuai dengan kebutuhan tubuh setiap orang atau kelompok umur, porsi makan yang dikonsumsi dalam satu piring terdiri dari 50 persen sayur , dan 50 persen lagi sisanya terdiri dari karbohidrat dan protein. “isi piringku” ini juga menganjurkan untuk membatasi gula, garam, dan lemak dalam konsumsi sehari-hari. Selain itu juga menekankan untuk cuci tangan sebelum makan, Karena budaya perilaku hidup bersih akan menghindarkan seseorang dari keterpaparan terhadap sumber infeksi. Olahraga fisik juga diperlukan agar berat badan tetap seimbang. Dalam “isi piringku” susu bukan lagi penyempurna makanan sehari-hari. Karena lebih baik mengkonsumsi makanan yang mengandung zat gizi yang sama atau bahkan lebih seperti kandungan yang ada susu , seperti sayuran, buah-buahan dan protein. 

Empat sehat lima sempurna sampai isi piringku tetap sulit diterapkan oleh anak kost

Pemenuhan gizi seimbang sulit diterapkan pada kelompok usia remaja dan dewasa saat ini. Kegiatan belajar dan bekerja yang padat, waktu di rumah yang singkat juga ketidaktahuan tentang gizi menyebabkan kelompok usia ini cenderung memiliki pola konsumsi pangan yang tidak seimbang. Terlebih mereka yang tinggal jauh dari orang tua. Hidup sendiri di kost membuat sebagian besar kebutuhan gizi sulit terpenuhi. Ditambah padatnya waktu untuk kuliah membuat sebagian besar anak kost abai akan pola makan mereka, anak kost juga cenderung berhemat karena uang saku yang mepet alias pas-pasan. saat memilih makanan mereka akan cenderung memilih makanan yang murah dari pada makanan yang sehat.   

Padahal pola makan yang salah dapat menyebabkan terhambatnya proses kinerja otak dan kesehatan seseorang berkaitan dengan tingkat produktivitas, ketelitiank. Aktivitas seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat kesegaran jasmani dan rohani. Kebutuhan fisik dan mental diperlukan untuk kenyamanan,keamanan dan kesehatan individu. Keadaan fisik yang sehat maka akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan individu, sebaliknya jika keadaan fisik yang tidak sehat maka akan mengganggu kegiatan belajar individu.Oleh karena itu kesehatan fisik jasmani perlu dijaga. Cara untuk menjaga kesehatan jasmani antara lain menjaga pola makan yang sehat dengan memperhatikan nutrisi yang masuk kedalam tubuh, karena kekurangan nutrisi akan membuat tubuh cepat lesu, lelah dan mengantuk selain itu rajin berolahraga, menjaga kebersihan diri dan istirahat yang cukup (Niswah, 2016).

Perlunya pemenuhan gizi pada usia remaja berhubungan dengan perannya di masa yang akan datang karena kondisi seseorang pada masa dewasa ditentukan oleh keadaan pada masa remaja. Mahasiswa tergolong dalam kelompok usia transisi dari masa remaja akhir menuju masa dewasa awal. Seseorang yang sudah memasuki masa transisi ini seharusnya sudah mulai peduli dan memperhatikan asupan makanan yang dikonsumsinya untuk mencukupi kebutuhan nutrisi, baik dari segi energy, vitamin maupun mineral. Sementara itu mereka tidak tahu bagaimana cara mengkonsumsi makanan yang sesuai dengan kebutuhan gizi yang harus dipenuhi dan sering kali remaja mengabaikan pemenuhan gizi karena takut gemuk. Hal ini sering terjadi sehingga mereka akan melakukan pola makan yang salah (Niswah, 2016). 

Padahal berat badan normal ditentukan berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT). Batas ambang IMT ditentukan dengan merujuk ketentuan WHO yang membedakan batas ambang normal untuk laki-laki dan perempuan. Di Indonesia, berdasarkan hasil penelitian dan pengalaman klinis tidak dibedakan menurut jenis kelamin, dan batas ambang normal yang digunakan adalah 18.5 – 25.0, bila IMT > 25,0 – 27,0 dikategorikan kegemukan (over weight). Seseorang dikategorikan menderita obesitas jika IMT-nya > 27.0. (PMK No. 41)

Penentuan nilai IMT, menggunakan rumus sebagai berikut :

Jadi untuk mengetahui apakah berat badan kita normal adalah dengan cara menghitung berdasarkan rumus di atas. Cara mempertahankan berat badan normal adalah menerapkan pola konsumsi pangan dengan prinsip Gizi Seimbang secara utuh. Jika kita sudah menerapkan pola konsumsi pangan seperti yang dijelaskan di atas, menjaga kebersihan, berolahraga secara fisik, dan juga minum air putih dengan cukup maka kita tidak perlu khawatir mengenai berat badan karena “Isi piringku” dalam prinsip gizi seimbang adalah cara diet yang alami dan sehat. 

**

Penyunting: Rayhana Arfa Amalia

**

Rujukan Pustaka:

  1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2014 Tentang Pedoman Gizi Seimbang.
  2. Niswah, Mustathi’atun. 2016. “Hubungan Antara Pola Makan Sehari – Hari Dan Gaya Hidup Sehat Dengan Prestasi Belajar Mahasiswa Pendidikan Biologi Uin Walisongo Semarang”. UIN Walisongo, Semarang.
  3. Joanna S. “Kenali Panduan Makan Gizi Seimbang’Isi piringku’ dari Kemenkes RI”. Diakses dari: https://youvit.co.id/article/kenali-panduan-gizi-seimbang-isi-piringku. Pada 25 Januari 2021.
  4. Yulaikha Ramadhani. “Yang Penting Gizi Seimbang, Bukan ‘4 Sehat 5 Sempurna’”. Diakses dari: https://tirto.id/yang-penting-gizi-seimbang-bukan-4-sehat-5-sempurna-czrP. Pada 25 Januari 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *