Jika Negara adalah Ibu

Aksi Kamisan

Pagi itu seperti biasa ia mengambil koran langganannya di depan pintu

Ia termenung melihat berita di koran; “Seorang Pejuang HAM Mati Dibunuh Puisi”.

Semenjak hari itu ia selalu sibuk pergi ke istana negara

setiap hari kamis,

dengan pakaian serba hitam,

setiap minggu,

setiap bulan,

setiap tahun.

“Memperjuangkan siapa?” Tanya seseorang.

“Kekasihku,” jawabnya.

“Diculik? Atau dibunuh?.”

“Keduanya. Dia diculik pria lain, aku yang ia bunuh.”

 

Sirkus Orang Berdasi

Di dunia yang riuh ini

entah mengapa aku percaya

bahwa orang-orang banyak bicara menggunakan mata daripada kata-kata

Di dalam puisi ini

kau berbicara kepada dirimu sendiri menggunakan mata,

hingga kata ini,

dan kata ini.

Kau setuju,

maka sampai pada kata ini

kau tetap membaca

alih-alih mengucapkan

Televisi adalah kitab manusia

akan manusia atau

sirkus orang berdasi menghibur diri

Kelak, suatu hari

ketika para petani gagal panen

karena dilanda kemarau

atau ketika buruh turun ke jalan

di tengah kerumunan,

di atas aspal panas,

kau akan melihat

wajah-wajah halus yang keras

yang pernah dibicarakan Soe Hok Gie

atau ciuman mesra antara mereka

dan sepatu aparat yang tidak lulus sensor KPI

Sewaktu sekolah

aku membayangkan

aku yang dewasa

adalah bel pulang;

tapi kehidupan selalu

menjadi bel istirahat

dan kita tidak pernah

benar-benar rehat

Pada saat upacara

sang komandan berteriak lantang

“siap gerak!”,

tapi kami tidak pernah

bergerak kemana-mana.

Di upacara,

istirahat bukanlah istirahat

dan hormat adalah

satu-satunya cara

menghalau matahari

yang menyengat

Aku ingin lulus dan

menjadi guru bahasa Indonesia, mengajari murid berdialektika

agar mereka paham

gas air mata dan pentungan

bukanlah satu-satunya senjata.

 

Dialog Kebangsaan

Halo, apa kabar? Besok kamu sibuk? Harusnya ngga, mau ngajak makan siang. Kita makan nasi padang, bukan dari oposisi kok, beli sendiri atau kalau ngga kita makan nasi kotak dari awkarin. Makannya depan gedung aja. Kita udah lama ga nongkrong, terakhir bulan april pas kamu masih sering-seringnya nyapa kita. Warga kampung pada nanyain, udah lama ga keliatan katanya, sesekali mainlah, kaya dulu, bawa kaos. kaos kemarin udah sobek buat ke sawah. Besok kita jemput ya? Bareng mahasiswa sama adek pelajar juga, kita jemput di tempat biasa kamu tidur siang. Habis itu kita jenguk demokrasi, kasian ga ada yang jenguk. Nanti kita hibur pake lagu iwan fals dan slank, lagunya aja, orangnya udah ga garang. sepatunya gimana, sudah bersih? Lomba sepatu kotor kemarin siapa yang menang? Nanti kita lomba paru-paru lagi sama masyarakat di sana, yang menang dapat sepeda. Oiya, kalau ketemu Pak Presiden, bilangin: rindu itu berat, dia ga akan kuat.

 

Jika Negara adalah Ibu

Jika negara adalah ibu, maka kita yatim.

kita lahir dari penantian-penantian.

waktu; membesarkan kita dengan sabar

tiba-tiba kita sudah sebesar ini dan memikirkan negara kemudian menuntut hal yang sebaliknya.

Jika negara adalah ibu, maka kita yatim.

kita adalah anak haram dari seorang ayah yang tak pernah pulang bernama keadilan.

Atau ayah sudah mati dan kita harus menunggu di depan istana setiap kamis dan diabaikan?

Kita hidup dalam penantian-penantian.

musim kian bertambah;

hujan, kemarau, dan kini asap.

Atau negara adalah perokok aktif yang merasa berhutang budi kepada produsen rokok yang melahirkan atlit bulu tangkis?

Jika saja pemerintah adalah agama, aku takut seluruh negeri ini menjadi ateis seketika.

Julyan Dhika

*Kontributor adalah mahasiswa Psikologi. Akhir pekan ia habiskan untuk merayakan kesedihan dengan menulis puisi. Sedang menyiapkan buku kumpulan puisi pertamanya. Doakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *