Gagas Kupas Resensi

Menulis Sejarah Versi Kita Sendiri

Oleh: Yasmeen Mumtaz Widyawan

Bagaimana jika kita bisa menulis sejarah versi kita sendiri? Bagaimana jika sejarah bukan milik para pemenang dan penguasa? Bagaimana jika orang biasa, seperti kita, juga bisa membuat sejarahnya sendiri? Bagaimana jika itu sungguh-sungguh bisa terjadi? Bagaimana hal tersebut dilakukan?

Eka Kurniawan mencatat sejarah menurut dirinya dalam buku Usaha Menulis Silsilah Bacaan. Tulisan-tulisan yang termuat di buku ini merupakan kumpulan tulisan blog yang ditulis pada tahun 2008–2011 dan 2015–2019. Dalam kurun waktu tersebut, Eka membaca buku dari berbagai negara dan menuangkan hasil bacaannya menjadi buku yang sekarang berada di tangan para pembaca. Buku ini menjadi semacam kumpulan resensi, sekaligus sejarah kesusastraan.

“Sejarah kesusastraan lebih mudah dibayangkan sebagai sejarah bacaan yang bersifat personal,” tulis Eka. 

Beberapa sarjana membagi sejarah kesusastraan Indonesia menjadi era Balai Pustaka, era Pujangga Baru, era 1945-an, era 1950-an, era 1960-an, dan era kontemporer (1970-an sampai sekarang). Menurut Eka, periodisasi sejarah yang demikian itu tetap merupakan sejarah bacaan penyusunnya, bukan sejarah kesusastraan nasional. Penyusun tidak lepas dari bias dan kepentingan yang tentu memengaruhi sejarah versinya. Oleh karena itu, menurut Eka, sejarah kesusastraan Indonesia itu, “Bersanding sama tinggi dan sama rendah dengan sejarah kesusastraan versi saya, Anda, si Polan, dan si Anu.”

Usaha Menulis Silsilah Bacaan—sebagai sejarah kesusastraan versi Eka—memiliki tebal 374 halaman. Setiap satu judul tulisan dalam buku ini memiliki panjang tiga halaman. Eka menulis dalam satu paragraf panjang, sama seperti dalam buku Senyap yang Lebih Nyaring di mana buku tersebut merupakan kumpulan tulisan blog 2012–2014 yang terbit setahun lebih awal. Senyap yang Lebih Nyaring terbit tahun 2019, sementara Usaha Menulis Silsilah Bacaan terbit tahun 2020. 

Dalam tulisan “The Curtain, Milan Kundera,” Eka meyakinkan pembaca bahwa novel tidak hanya berisi cerita, tetapi juga berisi ide dan gagasan sebagaimana filsafat. Perlu diingat pula, Eka Kurniawan merupakan alumni Filsafat UGM. Novel merupakan gerak pemikiran, tetapi agar novel menjadi bermakna, ia perlu ditempatkan dalam konteks kelahirannya. Inilah yang berusaha dilakukan Eka dalam Usaha Menulis Silsilah Bacaan.

Ketika meresensi buku, Eka menghadirkan latar belakang penulis dan mempertimbangkan konteks zaman dan sosial. Misalnya dalam “Noli Me Tangere, José Rizal” yang mengemukakan bagaimana novel ini bisa disebut sebagai novel epik Filipina, bukan hanya karena sebab alurnya, melainkan juga sebab efek yang ditimbulkan oleh novel ini. Noli Me Tangere yang terbit pada 1887 bisa dilihat sebagai pencetus kebangkitan nasional Filipina. Novel tersebut mengilhami kaum revolusioner Filipina untuk bangkit melawan. Beberapa tahun kemudian, penulisnya, José Rizal, dihukum mati sebagai pahlawan bangsanya. 

Eka mampu menyebutkan tradisi sastra yang berkembang—juga surut—di berbagai negara. Misalnya, ia menjelaskan turunnya pamor kisah-kisah misteri/horor/gothic di Indonesia, seiring dengan semakin jarangnya buku-buku Abdullah Harahap di toko-toko. Hal ini juga berkaitan dengan perubahan peta industri perbukuan di akhir tahun 1990. Contoh lain, Eka menguraikan soal kafkaism, yaitu dunia yang absurd ditampilkan dalam gaya realis yang ironis. Ia turut menyebutkan tradisi picaresque yang memiliki kecenderungan kritis terhadap persoalan sosial. 

Selain tentang buku yang ia baca, Eka juga menceritakan pengalamannya mengunjungi Charles Dickens Museum dan Shakespeare’s Garden, serta bertemu dengan Tariq Ali, seorang penulis Pakistan-Britania. Satu tulisan yang mencolok dibanding lainnya adalah obituarium untuk Benedict Anderson. Eka menceritakan bagaimana Om Ben—panggilan Eka kepada Benedict Anderson—merupakan orang yang memiliki minat luar biasa dan selalu penuh antusiasme untuk membaginya. Benedict Anderson juga memperkenalkan novel-novel Eka ke Verso Books, penerbit yang menerjemahkan Lelaki Harimau, setelah ia juga menerjemahkan beberapa cerpen Eka. 

Usaha Menulis Silsilah Bacaan terang saja merupakan bacaan yang menarik untuk dibaca. Buku ini menunjukkan secara gamblang jam terbang Eka Kurniawan yang tinggi. Eka tidak hanya mengomentari buku sebagai “baik” atau “buruk”, ia bahkan “menantang” aturan baku mengenai seperti apa novel yang “baik” itu. 

Melalui buku ini, kita akan tersadar betapa sedikitnya buku yang telah kita baca dan betapa banyaknya ragam novel dan tradisi sastra di luar sana. Bacaan Eka yang tercantum dalam buku ini merentang dari Jepang hingga Rusia, Polandia hingga Israel, Turki hingga Portugal, Jerman hingga Brazil. Kita dapat memperlakukan buku ini sebagai sumber rekomendasi bacaan, juga panduan meresensi buku.

Buku ini dapat pula menjadi jembatan bagi orang yang ingin menyeberang dari bacaan fiksi ke non-fiksi, pun sebaliknya. Usaha Menulis Silsilah Bacaan membahas novel-novel fiksi dalam bentuk esai. Bagi pembaca fiksi, buku ini bisa menjadi alat untuk menyesuaikan diri dengan gaya bahasa non-fiksi. Sebaliknya, bagi pembaca non-fiksi, buku ini bisa menjadi jalan untuk melintas ke buku-buku fiksi. 

Terakhir, bagi Eka Kurniawan, buku ini merupakan sejarah yang ia buat sendiri. Sejarah yang bersanding sama tinggi dan sama rendah dengan sejarah kesusastraan versi nasional, si Fulan, dan kita semua. 


Penyunting: Haidhar F. Wardoyo

Grafis: Hasan Basri