Oleh : Zahrah Fauziah Wulandari, Khansa Tafidah Khairunnisa, dan Nabila Nuril Muna
Pasar Kangen kembali hadir menyapa masyarakat Yogyakarta sebagai ruang temu antara masyarakat dan warisan budaya lokal. Gelaran tahunan ini diselenggarakan pada 22-28 Juni 2026 yang berlangsung mulai pukul 15.00 hingga 22.00 WIB. Festival yang digelar di area Taman Budaya Yogyakarta ini menyongsong tema “Ana Upaya Ana Upa”, sebuah filosofi Jawa yang bermakna bahwa setiap ikhtiar akan menghasilkan manfaat dan penghidupan. Pasar Kangen diadakan sebagai upaya melestarikan budaya lokal sekaligus mendukung pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Sekitar 300 tenant berjejer menyisiri rute dari gapura awal sampai akhir. Berbagai tenant menyajikan kuliner Nusantara, barang antik, kerajinan lokal, pernak-pernik unik, dan masih banyak lagi. Selain itu, disediakan berbagai hiburan pertunjukan seni musik Jawa yang sudah dijadwalkan.
Tenant dengan Berbagai Kuliner Nusantara
Bernostalgia melalui Kuliner Nusantara dan Barang Antik
Antusiasme masyarakat terlihat menikmati berbagai budaya yang ditawarkan pada Sabtu (27/6) malam. Mereka tampak memenuhi kawasan kuliner untuk mencicipi beragam makanan tradisional yang kini mulai jarang dijumpai di kehidupan sehari-hari. Pasar Kangen ini menjadi ajang memperkenalkan kembali kekayaan kuliner Nusantara kepada generasi muda.
Kawasan kuliner menjadi salah satu lokasi paling ramai dikunjungi di Pasar Kangen 2026. Ratusan tenant menyajikan beragam makanan dan minuman tradisional dari seluruh penjuru Nusantara, seperti jadah bakar, kerak telor, sego tiwul, sego megono, sego krawu, mendoan Banyumas, tahu pong, lemper, lapet, clorot, putu mayang, mie pentil, hingga panada. Pengunjung juga bisa menemukan jajanan lawas seperti permen gulali jadul, es goyeng, es gabus, dan es legen.
Klithikan menawarkan berbagai barang lawas dan koleksi antik
Bersandingan dengan tenant kuliner, berjejer tenant barang antik yang memanjakan mata. Mulai dari buku-buku lawas, piringan hitam, hingga jasa penggambaran karikatur. Hadirnya penjual klithikan tidak hanya sebagai bentuk realisasi misi untuk menyebarkan budaya lawas, tetapi juga memberikan kesempatan emas bagi para pengusaha lokal untuk pendapatan mereka.
Acara ini menuai respon positif dari para pengunjung dan pelaku UMKM. Toni Lubis, salah satu pelaku UMKM pada tenant klithikan antusias menceritakan bagaimana Pasar Kangen ini menjadi ruang nostalgia dan edukasi untuk mengenal sejarah masa lalu.
“Pasar kangen ini identik dengan kejadulan. Jadi, orang datang untuk bernostalgia mengenang masa lalu dan anak-anak yang tidak mengenal masa lalu bisa ikut mengenal,” tambah Toni
Selain itu, Safa dan Anis, selaku pengunjung yang merupakan mahasiswa, juga menceritakan kesannya saat menghadiri Pasar Kangen. Bagi mereka, pada tahun ini, terdapat suasana baru yang lebih menarik. Tenant kuliner, klithikan, dan panggung yang ditata seperti sebuah perkampungan tempo dulu membawa pengunjung bagaikan memasuki mesin waktu.
“Penyajian tenant yang lebih ramai, kondusif, alur pengunjung yang terarah, serta adanya panggung utama yang menambahkan pengalaman baru bagi kami,” ungkap Safa.
Anis juga menambahkan bahwa “Yang menarik perhatian aku di sini, itu ada klithikannya dan nama makanan jadulnya unik.”
Pertunjukkan Seni dan Harapan Masyarakat
Semakin malam, pengunjung silih berdatangan mengunjungi tenant dan berkumpul di depan panggung utama. Iringan alat musik tradisional Jawa perlahan berhenti digantikan oleh suara cek sound dari arah atas panggung. Kemudian, sekelompok bapak tua yang mengenakan rompi berwarna jingga dengan tulisan “Tahanan PKK,” mulai memasuki area panggung yang disambut oleh seruan dan tepuk tangan. Kelompok tersebut merupakan sebuah grup musik humor legendaris era 1980-an yang bernama Kelompok Swara Ratan (KSR).
Penampilan Kelompok Swara Ratan berhasil membuat malam itu gegap gempita oleh seruan penonton dan musik yang dimainkan di atas panggung. Atensi penonton semakin terpusatkan ketika kelompok musik tersebut berdialog diiringi bumbu jenaka di tengah nyanyian lagu yang berjudul “Diobok-obok.” Gelak tawa semakin menggema ketika empat vokalis utama menari dengan lincah mengikuti dentuman musik.
Di sisi lain, pada daerah belakang Pasar Kangen terdapat panggung apresiasi yang tidak kalah ramai dengan panggung utama. Penampilan musik disertai atraksi kecil oleh komunitas masyarakat semakin menambah keseruan saat itu. Penari mengenakan kostum menyerupai badut dengan rambut dan wajah yang diwarnai putih dengan senyuman yang tidak luput dari wajahnya. Meskipun tidak banyak pengunjung yang berhenti untuk menonton tepat di depan panggung, penampilan tetap disaksikan sembari mengantri di tenant kuliner yang ada di sekitar.
Kemeriahan yang tercipta dari berbagai pertunjukan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Pasar Kangen selalu dinantikan. Bagi penjual dan pengunjung, besar keinginan mereka agar kegiatan ini terus berlangsung setiap tahunnya. Mereka menanti tema-tema unik berikutnya di masa yang akan datang. Pasar Kangen diharapkan dapat merangkul seluruh generasi untuk mengenang dan melestarikan budaya lewat berbagai arah, mulai dari kuliner nusantara, klithikan, hingga pertunjukkan seni.
“Harapan saya agar acara ini terus diadakan setiap tahun agar pedagang tetap punya ruang untuk bertahan sekaligus masyarakat bisa belajar sejarah,” Ujar Toni dari perwakilan pelaku UMKM.”
Penyunting : Vina Purnama Sari
Grafis : Andara Azzahra