Penulis: Gizka Candra Nafisah, Lovizahara Alifya Putri, Muthia Zainnajwa Zahra
Jogja Art+Books Festival (JABFEST) kembali hadir di The Ratan, Kabupaten Bantul. Festival tahun ini mengusung tema “Saksi Mata: Ketika Pendangkalan Berkuasa, Pendalaman Harus Bekerja” yang mengajak publik melihat berbagai persoalan secara kritis dan mendalam melalui perpaduan seni dan literasi. Festival ini menjadi ruang untuk mendalami isu sosial dan politik sekaligus menyampaikan kritik terhadap keadaan yang terjadi.
JABFEST 2026 berlangsung selama 13 hari dari tanggal 30 September hingga 12 Oktober. Setiap harinya terdapat kegiatan yang berbeda-beda, seperti Seniman Bicara, Ngobrolin Buku, Berbincang, Kuliah (Ora) Umum, Launching Buku, dan Layar Tancap yang menjadi program baru tahun ini. Selain itu, bazar buku dan pameran seni juga kembali hadir sebagai bagian dari rangkaian festival.
Berbeda dari tahun sebelumnya, JABFEST tahun ini di gelar pada bulan September akhir hingga Oktober. Hal ini dikarenakan bulan Oktober seringkali dikaitkan dengan tragedi-tragedi besar di Indonesia.
“Oktober kan ini ya, bulan-bulan yang penuh tragedi loh di negara kita. Kayak G30SPKI” Doel, panitia JABFEST 2026 (06/10).
Menyusuri Buku dan Pameran Seni
Langkah awal para pengunjung disambut dengan bazar buku yang mencakup berbagai jenis buku, mulai dari kategori fiksi hingga non-fiksi yang tersebar luas. Selain itu, terdapat dekorasi seni yang melengkapi ruangan bazar tersebut. Di Pojok ruangan terdapat koleksi kaset musik yang dijual. Para pengunjung silih berganti datang ke bazar, terlihat beberapa orang membeli buku atau sekadar mencuci mata.

Potret Bazar Buku JABFEST 2026
Di sisi lain, tepatnya di seberang lokasi kegiatan Ngobrolin Buku, terdapat pameran seni yang menampilkan berbagai seni dari 8 seniman. Tema pameran seni ini mengangkat isu mengenai kekerasan negara terhadap rakyat maupun alam. Isu yang ditampilkan melingkupi eksploitasi alam hingga sejarah kekerasan tahun 1965 yang terjadi di Bali. Dipu sebagai panitia yang bertugas di pameran seni turut memberikan pandangan mengenai tujuan dari pameran tersebut.
“Pandangan saya, lebih ke mengkritik bagaimana kerja-kerja negara dari dulu, dari tahun 65 bahkan sampai sekarang pun kan masih sama melakukan kekerasan-kekerasan tersebut.” Ucap Dipu, panitia JABFEST 2026 (06/10).

Karya Seni Aris Prabawa “Fight Power with Power”
Keunikan lain juga hadir di dalam pameran tersebut. Terdapat banyak karya seni yang dibuat menggunakan media arang, lumpur, hingga konte. Salah satunya, karya Aris Prabawa yang menggunakan media arang untuk karya seninya. Beragam karya yang ditampilkan pun menarik perhatian pengunjung. Beberapa diantaranya tampak mengamati karya-karya tersebut hingga mengabadikan momen melalui foto.
Ngobrolin Buku dan Layar Tancap Warnai JABFEST 2026
Dijadwalkan pada pukul 18.30 hingga 20.00, sesi diskusi buku pada hari Selasa (06/10) membawa dialog tentang novel lawas oleh salah satu maestro sastra Indonesia, yaitu Remy Sylado yang berjudul “Inani Keke”. Diskusi buku tersebut dihadiri oleh dua pembicara yaitu Muhidin M Dahlan dan Ipank Pamungkas beserta Ratih Fernandes sebagai moderator.

Sesi Ngobrolin Buku #6 “Inani Keke”
“Inani Keke” karya Remy Sylado yang ditulis pada tahun 1966 tersebut membawa bahasan panjang dalam sesi diskusi buku ini. Dalam buku tersebut Remy Sylado mengisahkan tentang perlawanan rakyat Minahasa dengan bangsa Spanyol pada abad ke-16 dengan tokoh utama, yaitu seorang pemuda bangsa bernama Wai Ranoyapo yang sedang berjuang dalam perang, namun pada akhirnya justru jatuh cinta dengan perempuan dari bangsa lawannya yaitu Isabella Pigafetta.
Muhidin dan Ipank menyoroti tentang buku “Inani Keke” yang ditulis oleh Remy Sylado memiliki banyak keunikan, ditunjukkan dengan bagaimana Remy menggunakan banyaknya bahasa dalam penulisannya, seperti penggunaan bahasa lisan, Bahasa Minahasa, Bahasa Indonesia, hingga Bahasa Spanyol. Hal itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa Muhidin menyebut Indonesia sebagai “Bangsa Sponge”, karena Remy Sylado menyerap suatu unsur budaya lain dan dijadikannya dalam satu karya yaitu “Inani Keke”.
Rangkaian JABFEST pada hari Selasa (06/10) ditutup dengan menonton layar tancap film dokumenter You and I. Kegiatan ini menjadi momen bagi para pengunjung untuk menikmati karya dokumenter sekaligus menghabiskan waktu bersama dalam suasana yang santai. Pemutaran film tersebut turut menjadi penutup yang hangat bagi seluruh rangkaian kegiatan JABFEST.

Pemutaran Layar Tancap #3 “You and I”
Film dokumenter You and I mengisahkan dua orang sahabat yang dipertemukan di penjara setelah dituduh menjadi bagian dari komunis pada peristiwa 1965. Keduanya berumur 17 dan 21 ketika pertama kali bertemu di penjara. Puluhan tahun hidup bersama di penjara, hingga setelah bebas pun mereka tetap melanjutkan hidup bersama dengan tubuh tua yang semakin ringkih. Tak hanya menghadirkan rasa haru, film ini mengangkat bagaimana seseorang bisa tetap hidup walau negara menghapus keberadaan mereka.
Kacamata Pengunjung
Festival yang mencakup literasi dan seni ini selalu dinantikan oleh banyak orang. Ditambah lagi dengan adanya agenda baru, yaitu layar tancap, pengunjung semakin antusias untuk merasakan pengalaman berkunjung ke JABFEST 2026.

Foodtruck JABFEST 2026
Disekitaran area pemutaran layar tancap, pengunjung juga dapat menikmati suasana JABFEST 2026 dengan hadirnya foodtruck dan tenant yang menjual berbagai makanan. Meja dan kursi juga disediakan untuk para pengunjung menikmati santapan. Area ini semakin ramai saat sesi layar tancap dimulai. Beberapa pengunjung memilih untuk menikmati makanan dan minuman mereka sembari menonton film dokumenter yang ditayangkan.
Nazhifa dan Debora yang merupakan perantau baru di Yogyakarta menyoroti kesannya terhadap festival ini. Menurut mereka, JABFEST menghadirkan agenda-agenda menarik yang juga menambah pengetahuan baru.
“Sebenarnya menurut aku event-nya keren, terus membawa topik yang menarik, seperti rezim-rezim gitu dan itu bagus buat aku. Jadi, bisa menambah pengetahuan buat kita.” Ujar Nazhifa, pengunjung JABFEST 2026 (06/10).
Adanya layar tancap sebagai salah satu agenda yang ada JABFEST, Nazhifa dan Debora menikmati film dari awal hingga akhir ditayangkan, dari film dokumenter You and I keduanya menjelaskan bahwa isi dari film tersebut membuatnya cukup bersedih akan kisah yang terjadi.
Dari kehadirannya di rangkaian acara JABFEST 2026 ini, Nazhifa dan Debora berharap bahwa JABFEST bisa terus dilanjutkan hingga tahun-tahun kedepannya dan tidak hanya berhenti di tahun ini saja.
“Semoga bisa lanjut terus, ga sampe di tahun ini aja.” Ucap Debora, pengunjung JABFEST 2026 (06/10).
Penyunting: Siti Rifqah Aqilah
Grafis: Zamira Amira Orlandi